Hai...Kamu.
Yang kutemui di persimpangan jalan kemari. Yang kutemui saat kenyataan mengobrak-abrik relung jiwaku. Kamu...yang sekarang menjadi penduduk dan pemilik tahta tertinggi dihatiku. Yang sekarang menjadi obat pada saat gundah gulana menyeran...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Alpha berjalan ke arah pintu, membuka nya dengan wajah yang kembali menampilkan aura dingin. Menatap tajam sosok yang sudah berdiri di depannya. Alana! Alana kembali datang untuk mengganggunya. Yah mengganggu, apalagi? Gadis itu mana bisa jika tidak mengganggunya sehari. Lihat saja, baru saja mereka bertemu dan gadis itu kembali mengunjungi apartemennya dengan muka yang sedari tadi cengengesan.
"Hai gant—" Ucapan Alana terpotong saat Alpha menyela ucapannya dengan wajah yang selalu, flat! Seperti tidak memiliki gairah untuk berinteraksi dengan siapapun. "To the point!" Sarkasnya. Namun bukannya menjawab, Alana hanya terdiam dengan bibir menganga. Jangan lupakan matanya yang sudah siap keluar dari sangkarnya. Butuh beberapa menit baru Alpha menyadari sikap Alana yang terlihat sangat gila.
Ctak!
"Aww ishh"
"Mesum!"
"Ihhh kok di jitak, sakit tau" Sungut Alana sambil mengusap jidatnya yang habis mendapatkan jitakan kasih sayang dari Alpha. Yah, Alana tidak melanjutkan kalimatnya bukan karena Alpha yang memotong ucapannya, melainkan terkejut melihat Alpha keluar tanpa atasan. Membuat Alana rasanya nyaris mimisan. Alpha yang mendengar itu bukannya menjawab, malah melipat tangannya didepan dada lalu menyenderkan tubuhnya dipintu, menunggu Alana melanjutkan ucapannya. Alpha tidak peduli dengan tatapan Alana sebelumnya yang terkagum-kagum karena dirinya, toh bukankah sudah terbiasa? Lagian semua wanita sama saja. "Ada apa?" Tanya nya.
"Taraaa, aku bawa Pie Susu buat kamu" Alana melupakan jidatnya yang baru saja di jitak oleh Alpha, lalu dengan riangnya memamerkan paperbag berukuran mini di depan wajah Alpha. "Gue ga minta" Jawab Alpha. Alana hanya mengangkat pundaknya tidak peduli kemudian menarik tangan Alpha segera memasuki apartemen pria itu tanpa menunggu persetujuan. Alana menarik tangan Alpha menuntut pria itu untuk duduk di sofa kemudian berlalu ke mini kitchen mengambil satu platter plate dan dua dessert plate untuk mereka. Tubuh kecil Alana terlihat begitu lihai bergerak kesana kemari seolah tahu semua letak barang di apartemen Alpha. Lalu bagaimana dengan Alpha? Alpha hanya menghela napas pasrah lalu menerima dengan senang hati Pie Susu yang Alana sodorkan. Senang hati? Jelas! Pie Susu adalah jenis dessert terenak yang pernah dirinya coba.
"Enak kan?" Tanya Alana dengan alis naik turun menggoda Alpha. "Biasa aja"
"Biasa aja tapi kamu udah makan tiga" Ledek Alana membuat Alpha meliriknya tajam yang sama sekali tidak dipedulikan oleh Alana. "Alpha?"
"Hmm?"
Satu detik, dua detik hingga...
"AAAAAAAAAAAA!" Jangan tanyakan kabar jantung Alpha, piring yang berada ditangannya saja hampir terlempar saking terkejutnya melihat Alana secara tiba-tiba berdiri dan berteriak kencang. "IHHHH MAU KAMU APASIH?" Tunjuk Alana dengan kaki yang dihenttakan.
"Apasih!?"
"Kamu sengaja ya hmmm hmmm kayak gitu biar aku kecintaan banget sama kamu ha?" Tubuh Alana terhempas lelah, jantungnya berdisko-disko akibat suara Alpha yang keterlaluan candu. Gila banget! "Ya Tuhan jantung aku" Masih dengan mata yang terpejam, Alana memegang dadanya speachless. Dari samping Alpha menatap Alana dengan kening yang menukik tajam, sangat sempurna untuk ukuran manusia. Mata biru gelapnya memindai semua gerak gerik Alana yang selalu membuat gerakan tak terduga, yang mungkin tanpa sadar membuat Alpha terbiasa dengan semuanya, namun tak urung membuatnya risih dan jengkel secara bersamaan.