Hai...Kamu.
Yang kutemui di persimpangan jalan kemari. Yang kutemui saat kenyataan mengobrak-abrik relung jiwaku. Kamu...yang sekarang menjadi penduduk dan pemilik tahta tertinggi dihatiku. Yang sekarang menjadi obat pada saat gundah gulana menyeran...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Anom, Rega, Ansel, Vano dan Hesa hanya saling melirik dalam diam ketika terjadi ketegangan antara Alpha dan Alana. Atmosfer di dalam ruangan seketika berubah ketika Alana yang selama ini selalu dianggap kerap menuruti setiap cara kerja Alpha dalam menyelesaikan soal kini menjadi yang pertama selalu menentang ucapan Alpha. Disini terlihat setiap kali Alpha selesai mengerjakan soal, Alana kemudian menyusul dengan konsep yang berbeda, namun hasil akhir tetap sama. Juga kadang Alana lebih awal menyelesaikan soal, kemudian Alpha pun menyusul membawa konsep yang berbeda, namun hasil akhir tetap sama.
Kalian tahu menyebalkannya apa? Antara Alpha dan Alana selalu berpendapat bahwa masing-masking konsep mereka lah yang paling benar, alhasil Bu Mini meminta semuanya di catat. Pantek? Yah kata 'Pantek' adalah kata pertama yang keluar dari mulut berbisa Anom setelah sedari tadi hanya memilih untuk diam "Lo berdua mending selesain urusan rumah tangga lo deh, capek banget gue syalan catet semua cara kerjanya. Buntung tangan gue lama-lama jing" (Anom awas ya, karakter kamu bikin aku banyak ngetik kasar😭)
"Ternyata ga ada yang lebih berharga dari mulut gue yang ga pernah gue pake buat ngomong kasar"
"Diam lo kutu buku!"
"Maksud lo?" Tanya Ansel mengalihkan perhatiannya dari bukunya saat merasa dirinya ikut terseret ke dalam konflik yang bahkan Ansel sendiri tidak tahu pokok permasalahannya apa. "Anjir salah orang, maap babang Ansel hilap bibir dedek hehe" Anom mengatupkan bibirnya saat sadar dirinya salah menuduh orang, disamping tepat Ansel duduk terdapat Rega dan Vano yang sudah cekikikan, menertawakan Anom secara habis-habisan. "Lo berdua kan? Beneran pantek! Kapan lo ga ngomong kasar? Ngaca dek ngaca. Bibir lo ketutup angka doang makanya ga ngomong kasar. Coba lo jauh-jauh dari buku, atau paling ga lo nongkrong. Gue pastiin tuh bibir keracunan saking seringnya ngomong kasar"
"Lo liat muka gue peduli? GA SAMSEK AHAHAHA" Jawab Rega sambil menjulurkan lidahnya ke arah Anom, membuat Anom mencibirkan bibirnya kesal. Namun detik berikutnya beberapa dari mereka mengangkat secara bersamaan ponselnya saat dalam waktu bersamaan mendapatkan notifikasi dari seseorang.
Anom berdecak, kemudian menyambar tasnya yang diikuti oleh Ansel, Vano dan Rega yang juga sudah berdiri menarik tangan Hesa agar segera mengikutinya. "Lo juga ikut, perintah Bu Mini" Jelas Rega saat Hesa menatapnya bingung dengan tindakan spontan Rega yang menarik tangannya keluar dari Ruangan. Begitu juga Alpha dan Alana menoleh saat sadar teman-temannya serempak berdiri ingin meninggalkan ruangan "Kemana?" Tanya Alpha. "Lo ga liat pesan Bu Mini?" Jawab Vano kemudian berlalu tanpa menunggu respon dari Alpha.
Kini tersisa Alpha dan Alana yang sepersekian detik hanya saling memandang, namun dengan cepat Alana memutuskan secara sepihak lalu melanjutkan kegiatannya tanpa berniat mengatakan sepatah kata. Sepuluh menit, dua puluh hingga tiga puluh menit baik Alpha maupun Alana hanya memilih untuk diam, Alpha sibuk dengan bukunya begitupun dengan Alana. Namun siapa sangka, diantara mereka tidak ada yang benar-benar fokus dengan kegiatannya.