Festival (2)

877 92 7
                                    

Sesampainya di UGD rumah sakit Nabila langsung dibawa oleh perawat dan diperiksa oleh dokter. Dokter mendiagnosa bahwa Nabila mengalami dehidrasi parah dan harus dilakukan infus dan obat-obatan untuk mengembalikan cairan tubuhnya. Umma, Paul serta Pakji pun setuju agar segera dilakukan tindakan, namun tiba-tiba Nabila berkata kepada dokter yang memeriksanya

"dok, bisa gak, gak usah rawat inap?" tanya Nabila. Umma pun dengan reflek menggenggam tangan Nabila dengan memasang wajah bingung.

"bisa kak, kalo mau rawat jalan. Tapi syaratnya kakak harus istirahat yah. Jangan banyak aktivitas terus harus banyak minum air putih." Jawab dokter. Nabila mengangguk mengerti.

"yaudah ini kita injeksi dulu yah, biar demamnya cepet turun. Gak lama kok maksimal 1-2 jam" lanjut sang dokter. Nabila dan semua yang ada di bilik tersebut pun menyetujui ucapan sang dokter. Dokter pun pamit dan digantikan oleh perawat yang siap dengan peralatannya untuk memasang infus dipergelangan tangan Nabila.

Setelah infus terpasang Nabila pun tertidur. Paul kemudian meminta agar Umma dan Pakji untuk sarapan terlebih dahulu dan Paul yang akan menemani Nabila.

"yaudah Nak Paul, Umma titip Nabila yah sebentar." Umma pamit sambil menepuk pundak Paul

"iyaa umma" balas Paul. Umma dan Pakji pun meninggalkan UGD dan menuju ke kantin rumah sakit.

Paul masih setia duduk disamping ranjang Nabila. Hatinya merasa sakit saat melihat wajah pucat pasi milik Nabila yang sedang tertidur. Tanpa sadar Paul menggenggam tangan Nabila, suhu tubuh Nabila berangsur menurun tidak seperti tadi pagi. Peluh keringat pun membanjiri kening Nabila, Paul dengan telaten membersihkan keringat Nabila menggunakan tisu yang ia bawa ditasnya.

Setelah beberapa menit Nabila membuka matanya, ia menoleh kearah Paul yang disambut dengan senyuman oleh Paul. "Hai, buy..." Nabila menjawab sapaan Paul dengan tersenyum.

"makan dulu yuk, biar cepet sembuh" balas Paul yang kemudian mengambil kotak bento dari rumah sakit yang berisi makanan untuk pasien . Nabila mengangguk, ia lalu berusaha untuk bangun dari tidurnya, Paul dengan sigap membantu Nabila untuk memposisikan duduknya.

"umma sama pakji kemana?" tanya Nabila

"lagi sarapan dikantin rumah sakit" balas Paul.

"kamu gak sarapan juga?" Nabila kembali bertanya.

"aku nanti, belum laper. Udah ini kamu makan dulu. Aaa..." Paul menyodorkan sendok kedepan mulut Nabila. Nabila pun memakan makanan suapan dari Paul.

Setelah hampir 20 menit, umma dan pakji pun kembali ke tempat Nabila. Umma membawakan makanan untuk Paul agar Paul tidak menolak untuk sarapan. Setelah satu jam cairan infus ditangan Nabila pun habis. Perawat pun datang dan mencabut jarum infus ditangan Nabila, sebelumnya perawat mengecek suhu tubuh Nabila dengan thermometer. Hasilnya, suhu tubuh Nabila berada pada angka normal.

"Kak Nabila, ini demamnya udah turun. Kalo Kak Nabila sudah kuat untuk berdiri diperbolehkan untuk pulang yah. Nanti silahkan diurus kepulangannya sama ambil obat" Perawat menjelaskan.

"Terima kasih suster.." balas Umma, Paul dan Pakji.

Paul dan Umma membantu Nabila untuk bangun dan menuju ke kursi roda, sedangkan manager Paul menuju ke administrasi dan mengambil obat.

Paul mendorong kursi roda Nabila menuju ke tempat parkir diikuti oleh umma. Setelah sampai di mobil Nabila langsung menyenderkan punggungnya ke kursi kemudian ia memejamkan matanya untuk menghilangkan pusing dikepala yang kembali menyerangnya.

"masih pusing kak?" tanya umma

"engga terlalu mah" balas Nabila yang kemudian membuka matanya menatap umma yang duduk disampingnya.

Panal's StoryTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang