Claire tertawa pelan, bukan karena lucu, tapi karena getir. Suara itu serak, hampir seperti dengusan harimau yang tertahan.
“Kau gila,” katanya lirih. “Aku tidak akan pernah menjadi bagian dari kawananmu.”
Theo menatapnya lama, seolah menimbang kata-katanya. “Semua orang bilang begitu, sampai mereka kehabisan pilihan.”
Claire mengangkat dagunya setinggi mungkin meski rantai menahan tubuhnya. “Kau salah besar jika berpikir aku akan menunduk hanya karena kau membelengguku.”
Di balik sekat kaca, Deucalion tersenyum tipis. “Keberanian yang mengagumkan,” gumamnya. “Atau kebodohan. Keduanya sering berjalan beriringan.”
Theo melirik ke arah sekat dengan kesal. “Diam.”
Ia kembali memusatkan perhatian pada Claire. “Aku tahu apa yang kau rasakan. Takut. Marah. Bingung dengan apa yang telah mereka lakukan padamu.” Suaranya merendah, hampir persuasif. “Aku satu-satunya yang mengerti.”
“Kau satu-satunya yang berbohong,” balas Claire cepat.
Theo menghela napas, lalu berdiri. “Kau belum melihat gambaran besarnya.”
Ia berjalan ke meja di sudut ruangan dan mengambil sebuah kotak logam kecil. Ketika ia membukanya, Claire mencium bau yang membuat perutnya mual, bau yang sama seperti dalam ingatan buruknya.
Merkuri.
Theo mengangkat sebuah suntikan panjang. Cairan di dalamnya berkilau samar, kehijauan.
“Dread Doctors tidak menciptakanmu sembarangan,” kata Theo. “Mereka menciptakan senjata. Tapi mereka gagal memahami satu hal. Kehendak bebas.”
Claire menegang, seluruh tubuhnya bergetar oleh insting yang berteriak bahaya. “Jangan mendekat.”
“Kau belum sempurna,” lanjut Theo, mengabaikan peringatannya. “Transformasimu liar. Kau kehilangan kendali. Suntikan ini akan membantumu menyeimbangkan DNA-mu. Menjadikanmu stabil.”
“Seperti kau?” desis Claire. “Setengah monster, setengah pembohong?”
Theo berhenti selangkah darinya. Wajahnya mengeras. “Aku bertahan hidup.”
Rantai di tangan Claire kembali bergetar, cakar-cakarnya mencengkeram udara. Kilatan biru di matanya menyala lebih terang, memantul di dinding-dinding logam.
“Jangan,” suara Deucalion terdengar lebih tegas kini. “Jika kau memaksanya, kau mungkin tidak akan mendapatkan apa pun selain bangkai.”
Theo menyeringai. “Aku tidak berniat memaksanya.” Ia menunduk, sejajar dengan mata Claire. “Aku memberimu pilihan.”
Claire tertawa lagi, kali ini pahit. “Pilihan yang mana? Menjadi budakmu atau menjadi eksperimen lagi?”
“Menjadi Alpha bersamaku,” jawab Theo tenang. “Atau menjadi musuhku.”
Keheningan menggantung di udara, berat dan menyesakkan.
Di kejauhan, samar-samar, terdengar suara lolongan serigala, jauh, tapi cukup untuk membuat jantung Claire berdegup lebih cepat.
Theo mendengarnya juga. Senyumnya memudar sesaat.
Claire menangkap momen itu. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia menyalurkan amarahnya lagi, bukan sebagai ledakan, melainkan fokus. Rantai berderit keras. Retakan kecil muncul di dinding tempat rantai tertambat.
Mata Deucalion menyipit. “Menarik,” gumamnya. “Sangat menarik.”
Theo mundur setengah langkah. “Tenang, Claire. Jangan lakukan sesuatu yang akan kau sesali.”
KAMU SEDANG MEMBACA
ᴍᴏᴏɴʟɪɢʜᴛ ➼ ᴛʜᴇᴏ ʀᴀᴇᴋᴇɴ
FanfictionDi Beacon Hills, rahasia tidak pernah benar-benar terkubur, mereka hanya menunggu untuk bangkit. Claire Chavez datang sebagai murid baru, membawa masa lalu yang tak ia pahami dan luka yang seharusnya tidak bisa sembuh. Ketika banyak hal diluar akal...
