moonlight | 15. Meja Operasi

18 5 1
                                        

Kesadaran Claire datang dan pergi seperti ombak yang memukul karang. Ia tidak tahu berapa lama ia pingsan. Menit atau jam, semuanya terasa sama. Yang ia rasakan pertama kali adalah dingin, bukan dingin malam, tapi dingin logam yang meresap ke kulit. Kepalanya berat, seolah dipenuhi kabut tebal. Setiap napas terasa seperti harus diperjuangkan.

Ketika matanya akhirnya terbuka, pandangannya buram. Cahaya putih menyilaukan membuatnya meringis. Ia mencoba bergerak, namun tubuhnya tidak merespons sepenuhnya. Otot-ototnya terasa lumpuh, tapi kesadarannya utuh.

"Tenang," sebuah suara terdengar. Terlalu dekat. Suara Theo.

Claire menoleh perlahan. Ia terbaring di atas bangsal logam, lebih bersih dari tempat sebelumnya, tapi bau kimia itu masih ada. Lebih tajam sekarang. Selang-selang transparan terhubung ke lengannya, cairan bening mengalir masuk ke pembuluh darahnya.

"Kau..." suaranya serak. "Apa yang kau lakukan padaku?"

Theo berdiri di sampingnya, lengan bersedekap. Wajahnya lelah, namun matanya tetap fokus, seperti seseorang yang telah mengambil keputusan besar dan tidak berniat menyesalinya. "Menjagamu tetap hidup."

Claire tertawa lirih, pahit. "Kau menyebut ini... menjaga?"

"Kau hampir kehilangan kendali sepenuhnya," jawab Theo datar. "Jika aku membiarkanmu pergi dalam kondisi itu, kau akan membunuh seseorang lagi. Atau kau sendiri yang mati."

Mata biru Claire berkilat marah. "Kau tidak berhak menentukan itu."

Theo mendekat. "Aku satu-satunya yang bisa."

Claire mencoba memanggil kekuatannya. Ia bisa merasakannya, harimau itu masih ada, menggeram di bawah kulitnya. Tapi ada sesuatu yang menahannya, seperti jerat tak terlihat yang menekan setiap impuls.

"Kau menanamkan sesuatu di dalamku," desis Claire.

Theo tidak menyangkal. "Pemicu. Pengunci. Sebut saja apa pun yang kau mau." Ia menatap lurus ke matanya. "Dread Doctors membiarkanmu cacat. Aku memperbaikinya."

"Dengan menjadikanku tahananmu."

"Dengan membuatmu stabil," Theo membalas. "Ini sementara."

Claire memalingkan wajahnya, rahangnya mengeras. Air mata menggenang, tapi ia menahannya. Ia tidak akan memberinya kepuasan itu.

Theo mengatur alat di samping Claire, mengetik kode pada panel kecil. "Aku akan menurunkan pengaruh penenang. Perlahan. Jika kau bekerja sama, ini akan jauh lebih mudah."

Claire menoleh, menatapnya tajam. "Dan jika aku tidak?"

Theo terdiam sejenak. "Maka aku akan tetap melakukan ini. Tapi kau akan membenciku lebih dari sekarang."

"Hampir mustahil," balas Claire dingin.

Namun di balik kemarahannya, satu hal jelas bagi Claire. Ia masih hidup, ia masih sadar, dan selama itu masih ada, harimau di dalam dirinya tidak akan diam selamanya.

Dan ketika saatnya tiba, Theo Raeken akan membayar semuanya.

•••

Kesadaran itu kembali pelan, berat, seperti tubuhnya dipaksa naik dari dasar laut.

Claire mengerang lirih. Aroma yang pertama kali ia cium bukan lagi bau kimia atau darah. Ini kayu, deterjen, dan sesuatu yang familiar. Rumah. Lampu di atas tidak menyilaukan. Cahaya matahari sore menyusup melalui tirai tipis, hangat di kelopak matanya.

Ia membuka mata. Langit-langit putih, bersih. Tidak ada selang, tidak ada meja operasi, tidak ada rantai.

Claire tersentak hendak bangkit-dan segera berhenti. Kepalanya berdenyut, tubuhnya lemah, tapi bebas. Ia menurunkan pandangan. Ia mengenakan kaus longgar dan celana olahraga. Rambutnya masih sedikit lembap, seperti baru dibersihkan. Di pergelangan tangannya ada bekas kemerahan, bekas jarum. Itu satu-satunya tanda.

"Kau sudah bangun."

Suara itu datang dari ambang pintu.

Theo berdiri di sana, mengenakan kaus hitam dan jeans, wajahnya tak lagi menyeringai. Tampak waspada, seolah ruangan itu bukan hanya kamar tamu, tapi kandang dengan pintu terbuka.

"Di mana aku?" suara Claire rendah, serak.

"Rumahku," jawab Theo jujur. "Kamar tamu. Lantai atas."

Claire menggeser tubuhnya, punggung menempel ke sandaran ranjang. Matanya menyapu ruangan. Lemari kecil, meja belajar, rak buku yang terlalu rapi untuk ukuran remaja Beacon Hills. Jendela tertutup, tapi tidak terkunci.

"Kau memindahkanku," katanya.

Theo mengangguk. "Kau pingsan. Reaksimu terhadap pengunci lebih keras dari yang kuduga."

"Pengunci," Claire mengulang pahit. Ia merasakan ke dalam dirinya, harimau itu masih ada, tidak mengamuk, tidak menggeram. Terjaga, seperti duduk, menunggu. "Apa yang kau lakukan padaku?"

Theo melangkah masuk, berhenti beberapa meter darinya. "Aku menstabilkanmu. Untuk sekarang." Ia menghela napas. "Kau tidak akan berubah tanpa pemicu. Emosi ekstrem, adrenalin, rasa takut yang berlebihan."

"Dan kalau aku marah?" tanya Claire tajam.

Theo menatapnya lama. "Kau selalu marah."

Hening.

Claire menelan ludah. "Deucalion."

Theo mengangkat alis tipis. "Ya?"

"Kau meninggalkannya," ucap Claire. Itu bukan pertanyaan.

"Dia tidak penting lagi," jawab Theo cepat. Terlalu cepat. "Dia alat. Seperti Dread Doctors."

"Dan aku?" suara Claire menajam.

Theo tidak langsung menjawab. Ia berjalan ke meja kecil di sudut ruangan, menuangkan air ke dalam gelas, lalu mendekat dan meletakkannya di nakas, tidak memaksa, tidak menyentuh.

"Kau... berbeda," katanya akhirnya. "Kau bukan eksperimen yang gagal. Kau bukan pion."

"Jadi aku apa?" Claire menatap lurus, tak berkedip.

Theo mengangkat pandangan. Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ada sesuatu di wajahnya yang tidak bisa ia sembunyikan. Ambisi bercampur ketakutan.

"Kau kunci," katanya pelan. "Jika aku memiliki Alpha Werewolf, dan Cindaku sepertimu di sisiku..."

"Berhenti," potong Claire. Tangannya mengepal. "Jangan jadikan aku rencana."

Theo terdiam.

Claire menarik napas, mencoba berdiri. Kakinya sempat goyah, tapi ia berhasil. Theo refleks melangkah maju dan berhenti ketika Claire menatapnya tajam.

"Jangan sentuh aku." Ia berdiri tegak sekarang. Lemah, tapi tidak rapuh.

"Kau bilang ini sementara," kata Claire. "Berapa lama?"

"Sampai kau bisa mengendalikan dirimu," jawab Theo.

"Dan jika aku tidak mau?"

Theo menatapnya, lama. "Maka aku akan terus menjagamu di sini."

"Menjaga," Claire mendengus. "Itu kata favoritmu." Ia melangkah menuju jendela, membuka tirai sedikit. Beacon Hills terbentang di kejauhan. Rumah McCall tidak terlihat, tapi arah itu jelas. "Mereka akan mencariku," katanya tanpa menoleh.

"Aku tahu," jawab Theo.

"Scott akan menemukanku."

"Aku tahu."

"Dan saat itu terjadi," Claire menoleh, mata birunya menyala samar, dingin dan berbahaya, "kau tidak akan bisa bersembunyi di balik senyum dan kebohonganmu lagi."

Theo tidak tersenyum kali ini.

"Itu sebabnya," katanya pelan, "aku harus memastikan saat itu tiba... kau berdiri di sisiku."

Claire tertawa kecil. Bukan karena lucu. "Bermimpilah, Theo."

To Be Continued

ᴍᴏᴏɴʟɪɢʜᴛ ➼ ᴛʜᴇᴏ ʀᴀᴇᴋᴇɴTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang