moonlight | 16. Pengasuh

3 2 0
                                        

Keheningan di kamar itu pecah oleh bunyi klik pelan.

Theo melirik ke arah pintu. “Masuk.”

Pintu terbuka perlahan. Claire menegang seketika saat melihat siapa yang melangkah masuk ke kamar itu.

Hayden.

Gadis itu berdiri canggung di ambang pintu, mengenakan jaket hoodie abu-abu dengan tudung belum diturunkan. Wajahnya pucat, matanya menyapu ruangan, berhenti terlalu lama pada Claire. Ada kebingungan di sana, juga rasa bersalah yang belum sepenuhnya ia pahami.

“Kenapa dia di sini?” suara Claire dingin, tajam.

Theo berpaling padanya. “Karena mulai sekarang, Hayden yang akan mengurusmu.”

“Apa?” Claire mendesis. “Kau gila?”

Hayden melangkah masuk. “Theo bilang kau butuh seseorang yang... mengerti,” katanya pelan, ragu. “Seseorang yang juga Chimera.”

Claire menatapnya tajam. “Dan kau percaya padanya?”

Hayden terdiam. Matanya beralih ke Theo, lalu kembali ke Claire. “Aku tidak punya banyak pilihan.”

“Tidak ada yang punya,” sahut Claire pahit.

Theo menghela napas, seolah percakapan ini hanya formalitas. “Hayden akan memastikan kau makan, minum, dan tidak kehilangan kendali. Dia tidak akan menyakitimu.”

“Seperti kau tidak menyakitiku?” Claire membalas, sinis.

Theo mengabaikan sindiran itu. Ia melangkah mendekat ke sisi ranjang. Gerakannya tenang, terlalu tenang dan Claire langsung tahu ada sesuatu yang akan terjadi.

“Jangan,” katanya waspada, mundur setengah langkah.

Theo mengangkat tangan, dan dari balik jaketnya ia mengeluarkan borgol besi yang tersambung pada rantai pendek. Logamnya berkilat dingin.

“Hanya untuk berjaga-jaga,” katanya ringan. “Kau terlalu impulsif.”

Claire menggeram. Sekilas, kilatan biru menyala di matanya. Ia bergerak cepat, namun tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih. Theo menangkap pergelangan tangannya dengan cekatan dan memborgolnya ke besi yang tertanam di sisi ranjang. Klik. Lalu satu lagi di pergelangan tangan satunya.

Rantai itu tidak panjang. Cukup untuk berdiri. Tidak cukup untuk lari.

“Nekat kabur lagi,” Theo berkata pelan, hampir seperti menasihati, “akan berakhir buruk. Untukmu.”

Hayden memalingkan wajah, rahangnya mengeras. Jelas ini bukan bagian yang ia sukai.

Claire menunduk, napasnya berat. Ketika ia mengangkat kepala lagi, tatapannya membara. “Kau pengecut.”

Theo mendekat. Terlalu dekat. Dengan gerakan yang nyaris lembut, ia mengangkat tangan dan mengusap pipi Claire dengan ibu jarinya. Sentuhan itu singkat, namun cukup membuat Claire merinding oleh jijik dan amarah.

“Kau masih hidup karena aku,” bisik Theo. “Ingat itu.”

Claire menepis tangannya sekuat tenaga, rantai berdering keras. “Dan kau akan menyesalinya.”

Theo tersenyum tipis, bukan senyum menipu, melainkan senyum puas. Ia berbalik menuju pintu.

“Jaga dia,” katanya pada Hayden. “Jika dia kehilangan kendali, kau tahu apa yang harus dilakukan.”

Hayden menelan ludah, lalu mengangguk pelan. “Aku tahu.”

Pintu tertutup.

Suara langkah Theo menjauh, meninggalkan keheningan yang berat di kamar itu.

Claire berdiri terikat, dada naik turun. Hayden akhirnya menoleh padanya, ekspresinya campur aduk antara takut dan iba.

“Aku tidak akan menyakitimu,” kata Hayden cepat, seolah perlu meyakinkan dirinya sendiri. “Aku janji.”

Claire menatapnya lama, lalu berkata lirih namun tegas, “Kalau kau mau selamat, jangan pernah percaya Theo Raeken.”

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Hayden berdiri di dekat pintu, ragu untuk mendekat. Tangannya mengepal di dalam lengan hoodie, seolah menahan diri agar tidak gemetar. Claire bisa mencium ketakutan itu, bukan bau, tapi getarannya. Sesuatu yang kini terasa jelas oleh inderanya.

“Aku tidak nyaman dengan ini,” kata Hayden akhirnya, suaranya pelan. “Dengan cara dia memperlakukanmu.”

“Bagus,” jawab Claire dingin. “Berarti nuranimu masih hidup.”

Hayden melangkah mendekat, berhenti pada jarak aman dari rantai. Matanya turun ke borgol besi di pergelangan tangan Claire. “Dia bilang ini perlu. Katanya, kau berbahaya.”

Claire terkekeh lirih, tanpa humor. “Dia bilang banyak hal, bukan?”

Hayden terdiam.

Claire menghela napas panjang, memaksa dirinya tenang. Amarah hanya akan membuatnya kelelahan dan Theo menghitung itu. “Dengarkan aku baik-baik, Hayden. Theo bukan penyelamat. Dia bukan Alpha. Dia ingin mengendalikan kita karena dia takut sendirian.”

“Aku tahu dia manipulatif,” sahut Hayden cepat, defensif. “Tapi dia membantuku. Ketika aku sekarat, ketika jantungku berhenti, dia yang ada di sana.”

“Dan sekarang dia menagih,” balas Claire lembut namun tajam. “Itulah caranya.”

Hayden menunduk. Keheningan kembali mengisi kamar. Dari jendela, cahaya sore menembus tirai tipis, memantul di lantai kayu. Rumah ini terlihat normal, terlalu normal untuk sebuah penjara.

“Apa yang dia lakukan padamu?” tanya Hayden pelan.

Claire menatap lurus ke depan. “Dia menanamkan pengunci. Sesuatu yang menahan transformasiku. Setiap kali aku marah atau takut berlebihan, tubuhku tersendat. Seperti dicekik dari dalam.”

Hayden mendongak. Tatapan mereka bertemu, dan untuk pertama kalinya, Claire melihat sesuatu selain ketakutan di mata gadis itu. Keraguan. Benih perlawanan.

“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Hayden.

Claire menimbang kata-katanya. “Untuk sekarang? Kita berpura-pura. Kau jadi penjagaku. Aku jadi tawanan yang patuh.”

Hayden mengangguk perlahan. “Dan setelah itu?”

“Setelah itu,” suara Claire merendah, bergetar oleh tekad, “kita cabut gigi ular itu satu per satu.”

Hayden menarik napas dalam. “Scott McCall akan mencarimu.”

“Ya,” Claire menjawab. “Dan Theo tahu itu. Itu sebabnya dia ingin aku dekat. Mudah diawasi. Mudah dibungkam.”

Hayden melirik ke pintu, memastikan terkunci. “Aku akan membawakanmu makanan. Air. Apa pun yang kau butuhkan.”

“Terima kasih,” kata Claire singkat. Lalu menambahkan, “Dan Hayden, jika dia menyuruhmu menyakitiku...”

Hayden menggeleng cepat. “Aku tidak akan.”

“Bagus,” Claire berujar. “Karena jika kau melakukannya, aku tidak akan berhenti.” Kilatan biru menyala singkat di mata Claire, cukup lama untuk membuat Hayden menelan ludah.

Di lantai bawah, pintu depan terbuka dan tertutup. Langkah kaki Theo terdengar, tenang dan yakin, seorang raja palsu di wilayah yang belum sepenuhnya ia kuasai.

Dan di kamar itu, dua Chimera mulai memahami satu hal yang sama. Theo Raeken telah membuat kesalahan.

To Be Continued

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 13 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ᴍᴏᴏɴʟɪɢʜᴛ ➼ ᴛʜᴇᴏ ʀᴀᴇᴋᴇɴTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang