Para saudara yang kemarin datang ke rumah Ara, kini mereka telah pulang. Membuat keadaan rumah kembali seperti semula tanpa adanya pertengkaran atau kericuhan yang dibuat oleh para sepupunya.
Tadi Ara sempat pergi ke rumah sakit bersama Zidan untuk menjenguk anggota Eagle yang harus dirawat inap. Ia kini berdiri di depan rumah bersama Zidan yang mengantarnya pulang.
"Kamu nggak mau mampir dulu,nyapa mertua gitu" saran Ara dengan cengiran tak tau malu.
"Lain kali aja, perutnya sakit nggak?" karena setau Zidan jika sedang haid para kaum hawa sering merasakan sakit di perut.
"Emm enggak, udah biasa kok" tanggan Ara masih saja bergelantungan di jaket Zidan.
"Kalau sakit bilang,nanti aku bawain obat hm"
"Kelihatan buayanya ya kamu, emang obatnya apa aku tanya"
Cup
Sontak batin Ara berteriak berjingkrak-jingkrak tak karuan, ia menarik tangan Zidan untuk membalas kecupan yang ia terima.
Terlihat semburat merah muncul di kedua telinga milik Zidan. Hah ingin sekali Zidan membungkus bocil di depannya ini hanya untuk dirinya.
"Salting bang? Sama hehe" Ara ingin menggodanya lagi.
Zidan memegang kedua tangan Ara dengan gemetar, menyandarkan kepalanya pada pundak Ara untuk menyembunyikan wajahnya. Cogan milik Ara ini sangat menggemaskan.
"Baunya Zidan enak,Ara suka"
Ah entahlah, jantung Zidan semakin berdetak tak karuan, ia membawa Ara dalam pelukannya dan semakin menyembunyikan wajah pada ceruk leher gadis itu.
"Bayi gedenya Ara"
Sekali lagi, degup jantung Zidan sudah tak dapat ia kontrol. Zidan makin mengeratkan pelukan tak mau jika harus ditinggalkan oleh Ara.
"Sumpah ni Zidan, bisa-bisa gue pindah alam lagi saking kencengnya pelukan ni bocah" Ara mengelus punggung Zidan berharap lelaki itu merasa rileks dan mengendorkan pelukannya.
"Mau Ara" gumam Zidan yang masih mampu di dengar oleh Ara.
"Hah?"
"Zidan punya Ara dan Ara punya Zidan. Ara milik Zidan nggak boleh nolak titik."
"Owh okey, aku punya kamu hm"
"Zidan seneng"
____________________________
Baru saja kaki Ara memasuki rumah,tangganya sudah ditarik paksa oleh pria tua, ia melihat ada Reta yang tengah menangis menatap ke arahnya membuat Ara sontak khawatir dan ingin menghampiri sang mama.
"Lepasin jangan tarik tangan gue B"NGS*T!!" Tangan Ara di tarik semakin kencang oleh pria tua itu "TULI LO ANJ*NG,LEPASIN TANGAN KOTOR LO DARI TANGAN MULUS GUE SI*LAN!!" Ara terus saja meronta sambil sesekali melirik ke arah Reta yang semakin menangis kencang.
"AS* SI RENDRA MANA NJ*NG"
"Ni tua bangka ngapain muncul si, sumpah ngeri gue sama bapak yang satu ini, mendadak tremor" batin Ara, pikirannya tengah berkecamuk gara-gara sosok pria baj*ngan ini.
Dia Abraham, ayah dari gadis yang telah ia rasuki. Ini adalah alasan paling besar kenapa Ara di cerita novel memilih untuk mengakhiri hidupnya. Sedari kecil ia sudah dianiaya tanpa tau akan apa yang salah dari dirinya hingga ayahnya tega berbuat sekeji itu. Tubuh Ara gemetaran, pikirannya penuh akan prasangka negatif.
"DIAM!!"
Abraham menyeret tubuh kecil Ara ke ruang bawah tanah, melempar tubuh kecil itu hingga terbentur oleh tembok.
"Aakhh" Ara merasakan bahunya terbentur keras ke tembok.
"MAU APA LO BANGS*T"
"berani kamu mengumpat ke saya" pria tua itu mengambil cambuk dari tempat penyimpanan.
CTASS..
Satu cambukan diterima oleh tubuh Ara dengan sangat baik. Sakit, sangat sakit. Bahkan tanpa sadar Ara telah menjauhkan buliran air dari matanya.
"Siapa yang menyuruhmu untuk berkelahi disekolah"
CTAS.
Ara merasakan perih untuk kedua kalinya di area punggung.
"Membuat malu nama keluarga"
CTAS.
"saham di perusahaan saya menurun karena tingkah mu"
CTAS.
CTAS.
CTAS.
"anak nggak tau diri"
CTAS.
CTAS.
Perih,Ara sudah tak sanggup merasakan cambukan di punggungnya. Matanya mulai terpejam dengan suara cambukan sebagai pengiring tidur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Transmigrasi Antagonis Ara (END)
Fantasy"maaf maaf nih, gue nggak ada harga diri karena emang nggak niat buat jualan!" ____ Galang mengelus rambut Salsa dengan lembut. "NGELUS ANJING BANG" **** KARYA MURNI BIKIN SENDIRI NGGAK COPY PASTE KARYA ORANG LAIN KALAU ADA NAMA TOKOH, KEJADIAN YANG...
