Mau menghindar tidak bisa, kalau mau menghadapinya pun terasa sulit. Ara kini tengah berdiri di hadapan para anggota PMR baik itu kelas sepuluh ataupun kelas sebelas, ia tadi diminta untuk memberikan materi mengenai hal yang berbau medis kepada adik kelasnya.
"oke semuanya gue minta kalian berdiri" suruh Ara pada adek kelas yang sedang duduk di lapangan bagian tengah. Semuanya menuruti perintah tanpa banyak tanya "lari keliling lapangan enam kali sekarang!"
Perintah itu membuat mereka saling pandang antara satu sama lain seolah menanyakan apa benar dia harus berlari?.
"CEPET! ATAU MAU GUE TAMBAH?"
Mereka memaksakan kakinya untuk berlari dengan tatapan masih tidak percaya.
Hentakan suara kaki terdengar begitu berantakan dan tidak menimbulkan harmoni yang indah "YO TU. WA. BANG. KA. TU. WA. BANG. KA YANG SEREMPAK!" teriak Ara menggunakan toa yang entah dia dapat dari mana untuk menyemangati para adek kelasnya, untuk anggota senior mereka malah pergi untuk berteduh di belakang Ara tidak mau menuruti perintah aneh sang majikan.
"TU. WA. BANG. KA" teriak para anggota junior untuk menyelaraskan langkah kaki, memang agak sesat tapi mau bagaimana lagi mereka tak berani untuk menolak bisa-bisa mereka habis ditangan sang ketua senior. Dasar, mau saja mereka dibodohi oleh Ara.
Jadi alasan dibentuknya ketua pada setiap generasi adalah untuk mempermudahkan kordinasi dan komunikasi antara anggota yang lain, juga untuk menghindari kesalah fahaman dan adu perbacotan.
Masih mending sih kalau mau adu bacot atau argumen, yang ngeri itu adu jotos iya kan?.
"wuah berdemage sekaleh kawan"
Entah sejak kapan mereka sudah berbaris rapi dengan empat barisan memanjang, para lelaki berada di depan dan perempuan di belakang, mungkin supaya para perempuan tidak terlalu terkena sinar matahari dengan berteduh di bayangan para pria. Terlihat harmonis ya.
"yah kasihan adek gue pada keringetan tapi malah makin cakep sih. Besok gue suruh lari Jakarta-Bandung aja kali ya biar gue bisa liat yang bedemage-demage gini hohoho"
"lo aneh" kata wakil ketua kelas 11, Elsa.
Ara menoleh kesamping sekilas lalu melihat para adek kelasnya lagi "karena gue sebenernya Ana"
Elsa menatap bingung Ara, sejak kapan ketuanya ini berganti nama? Mana nggak ngadain sukuran lagi eh atau mungkin Ara sudah mengadakan sukuran tapi dianya saja yang tidak di undang?.
"LE IT GO.. LE IT GOOO.." Ara berteriak menggunakan nada yang terdengar harmonis menggunakan suara bebeknya dengan tangan yang seakan-akan ingin menyuruh para adek kelasnya untuk berlari lebih kencang.
"punya ketua tapi bentukannya kaya air" kata Elsa dengan suara yang keras hingga bisa didengar oleh anggota yang tengah duduk di bawah.
"NGGAK JELAS!"
Ara menggantungkan tangannya di udara saat mendengar teriakan yang sangat kompak dari anggota PMR yang sepantaran dengannya, ia membalikkan tubuh ke belakang "LO PADA NGAPAIN DUDUK LESEHAN DI SAMPING TEMPAT SAMPAH? GEMBEL LO? IKUTAN LARI SANA".
____
"capek?" tanya Ara sambil membawa sebuah buku note yang memiliki panjang 15 cm.
"CAPEK!" jawab para junior yang tengah berbaris rapi di hadapan Ara.
"bagus, sekarang push-up sepuluh kali!" dengan tidak tau dirinya Ara menyuruh para junior yang sedang lelah untuk push-up, mungkin dia tengah melakukan sebuah aksi balas dendam karena dulu ia dikerjai oleh kakak tingkat sewaktu masa orientasi siswa. Saat tiba waktunya Ara menjadi panitia orientasi, segala hal yang berbentuk dandanan nyeleneh dan peraturan konyol telah ditiadakan, sialan memang.
"HAH!"
"berani ngebentak gue lo pada! Gue cium satu satu mampus lo!"
Jadi biarkan kali ini Ara mengeluarkan hasrat yang terpendam setelah sekian lama bersembunyi, supaya nggak jadi penyakit kalau kata ibu Ara yang berada di dunia lain. Bukan meninggal lo ya! Beliau masih hidup,ingat itu.
"lo niat ngajar nggak sih ra? Itu anak orang jauh-jauh dateng ke sekolah buat menimba ilmu bukan menimba di sumur!"
"ngapain jauh-jauhan ih nggak baik! Mending deketan sini" Ara melangkah mendekati Elsa sambil merentangkan kedua tangannya hendak untuk berpelukan.
Elsa tentu saja merasa aneh sekaligus jijik dengan tingkah Ara yang tidak jelas hingga batinnya mulai tergoncang.
___
Di sebuah taman yang ramai akan pengunjung dan pedagang terdapat seorang pria yang tengah bermain skateboard di tengah jalan, dengan lihainya ia melenggak-lenggokkan papan seluncur itu diantara orang-orang yang tengah menikmati udara di sore hari.
Headset hitam yang tengah memutar sebuah lagu itu dibiarkannya menggantung di leher dengan volume ful sehingga ia bisa mendengarkan lagu tanpa harus meletakkannya di telinga.
Suara hentakan roda yang beradu dengan aspal ikut menjadi pengiring lagu yang tengah terputar.
Tak.Tak.Tak.Tak.
Suara yang mampu membuat orang-orang meluangkan waktu hanya untuk menghapus rasa penasaran untuk sesaat.
Sreet.Tak.Tak.
Suara itu semakin keras seakan ingin menghancurkan aspal aspal jalanan. Seperti orang yang tak tau diri, sekuat apapun ia menghentakkan papan seluncur, ia tak akan bisa menghancurkan jalan yang telah dibuat.
____
"AKHIRNYA SELESAAII.. UHU MARI PULANG MARILAH PULANG" Ara menyambar tas miliknya yang tergeletak di meja, kelasnya sekarang sudah sepi tak berpenghuni hingga membuat Ara berteriak tak karuan supaya suasananya tidak terlalu mencekam.
"ABANG KU YANG GANTENG MARI MARI SINI SAYA MAU BELI, LIMA ORANG SAJA YANG BANYAK DUITNYA JUGA BANYAK HATINYA"
"ABANG GANTENG WALAU BERGIGI OMPONG, KALAU OMPONG DI NAIKIN ODONG-ODONG"
"YOK BAPAK IBUK SAYANG ANAK SAYANG ANAK, SATU LAGU BAYAR LIMA RIBU RUPIAH JANGAN TAKUT ANDA PASTI TIDAK AKAN MENYESAL, SELALU BERSAMA KAMI DI...........DI MANA.DI MANA. DI MANA. ABANGKU YANG BULUG DI MANA."
BRAK..
hampir saja Ara tersedak oleh ludahnya sendiri karena tiba-tiba ada suara gebrakan, kan horor.
"berisik lo, yok buru pulang keburu subuh"
"..."
"malah planga plongo, udah sore ini lo emangnya mau diculik sama genderuwo!" Aurel sedang berjongkok di depan pintu kelas sambil memakan kuaci.
_______
Mana ni yang nunggu cerita ini up, yok merapat sini biar anget.
KAMU SEDANG MEMBACA
Transmigrasi Antagonis Ara (END)
Fantasy"maaf maaf nih, gue nggak ada harga diri karena emang nggak niat buat jualan!" ____ Galang mengelus rambut Salsa dengan lembut. "NGELUS ANJING BANG" **** KARYA MURNI BIKIN SENDIRI NGGAK COPY PASTE KARYA ORANG LAIN KALAU ADA NAMA TOKOH, KEJADIAN YANG...
