Ara tengah duduk di bangku yang berada di taman belakang,rambut hitam yang tidak diikat itu berterbangan karena diterpa semilir angin yang lewat. Ada sebuah pohon besar yang sangat rindang hingga menutupi sinar matahari sehingga tidak menerpa kulit Ara.
"WHAA" teriak seorang gadis dari arah belakang tubuh Ara sambil menepuk pundak Ara.
Sontak Ara memutar kepalanya ke belakang "aaaa aku terkejut" ucapnya dengan nada datar setelah melihat orang yang sedang ditunggu telah tiba.
"gak asik lo" ucap gadis itu kemudian menonyor kepala Ara tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"kurang ajar"
"langsung aja, kenapa lo mau ketemu sama gue?" tanya gadis itu setelah duduk di sebelah Ara.
"gue minta bantuan lo"
Gadis itu menatap Ara dengan sinis "giliran ada maunya aja lo nyari gue, kemarin lo ke mana ha? Gue ngerasa dicampakkan. Gak, gue gak mau bantu lo".
Ara membalas tatapan gadis yang ada disebelahnya dengan tak kalah sinis "gue masih inget kalau lo kemarin nyebarin berita kalau gue hamil".
"hehehe maaf, yang itu gue khilaf. Sumpah gak bakal gue ulangin." Ana mengacungkan kedua jarinya pertanda damai.
"gue maafin, tapi bantu gue" kini Ara mengubah tatapannya menjadi lebih bersahabat.
"lo emang gak tau diri ya, sering banget ngrepotin gue. Gue tuh lagi puyeng mikirin UN ra" Ana memegang kepalanya, ia pusing memikirkan ujian nasional yang sebentar lagi tiba.
"santai aja kali, otak lo juga gak goblok-goblok amat. Try out aja masih jauh apa lagi UN" Ara menurunkan tangan Ana dari kepala Ana.
"lo belum ngerasain aja gimana rasanya pas ada di tingkat terakhir kaya gue, banyak tekanan anjing"
Ara meraup muka Ana karena telah berkata kasar "mulutnya, gue juga pernah gitu pas SMP jadi gue tau".
"tangan lo kok wangi si ra, pake apa lo?" ucap Ana sambil mengendus tangan Ara yang dipakai untuk meraup mukanya.
"enakkan? Habis ganti crim gue, padahal gue belinya gara-gara kepaksa karena ada mbak SPG nawarin produk ini mana ngotot gue harus coba produk ini dulu kalau nggak gue gak boleh kemana-mana, emang stres tu orang"
"bagus dong, kalau gak gitu lo gak bakalan pakai ni produk. Tapi serius ini baunya selera gue banget."
"nanti gue kasih. Tapi, guekan lagi minta bantuan lo kok malah ngelantur kemana-mana si"
"hehe jarang-jarang kita bisa ngobrol kaya gini kan"
"lo si, jadi manusia tapi kelakuan mirip setan. Lo punya rencana buat tobat nggak?"
"ada, setelah lulus SMA gue bakal tobat. Dunia perkuliahan itu keras ra, banyak orang muka dua kaya si Salsa".
"mumpung nama Salsa udah kesebut, gimana..."
_____
Tok. Tok.
Ara mengetuk pintu kelasnya dikarenakan sudah ada guru yang mengajar disana sebagai bentuk sopan santun. Suara itu menarik eksitensi seluruh kelas termasuk guru yang sedang memberikan materi.
"permisi bu, saya telat masuk karena tadi ada kepentingan organisasi"
Semua yang ada dikelas itu tau bahwa Ara adalah ketua ekstrakurikuler PMR, dan mereka memaklumi hal tersebut.
"baiklah, silahkan duduk"
Ara menundukkan kepalanya sedikit kemudian ia duduk dibangku miliknya.
"lo habis dari mana ra" bisik Aurel setelah Ara duduk dibangkunya.
"lo nggak budekkan?" Ara malas jika harus menjelaskannya lagi, ia memilih mengeluarkan buku dan alat tulisnya.
______
Kris, Aurel, dan Ara tengah menelusuri koridor untuk menuju ke gerbang sekolah.
"his gue lagi kesel sama Satria, gue gak mau ketemu sama dia titik." ucap Aurel dengan menggebu-nggebu.
"mana bisa lo kan bucin" ucap Ara sambil memainkan hpnya dengan santai.
"titik apaan, bentar lagi juga bikin paragraf baru. Lo dirayu dikit aja pasti udah luluh gegayaan sok ngambek" ucap Kris.
"masalahnya, gue kemarin liat si bang Sat ada di mini market sama cewek. Kan gue kepo tuh, gue telfon dia tanyain dia lagi apa lagi dimana eh dia jawabnya lagi dimarkas. Jelas bangetkan bohongnya ke gue, hati gue juga bisa ngerasain sakit Kris, ra. Gue aja nggak pernah bohong sama dia, dan bisa-bisanya.." setetes air mata Aurel lolos begitu saja ke lantai saat menceritakan kejadian kemarin.
Ara yang melihat Aurel menampakkan wajah sedih langsung meraup muka Aurel "gak usah nangisin cowok, gak guna".
Aurel menampakkan muka kusutnya, sahabatnya yang ini benar-benar tidak peka.
"tenang, biar gue hajar tu si Satria sampe sadar sama kelakuannya."
Brak.
Tubuh Ara terjatuh dilantai dengan sangat keras membuat kedua temannya kaget.
"lo apa-apaan si bang main dorong sampe jatuh kaya gitu?" tanya Kris dengan nada kesal, sedangkan Aurel ia membantu Ara untuk berdiri.
"lo tanya aja sama temen lo itu, apa yang udah dia lakuin sama pacar gue, gue gak bakal tinggal diam kalau dia nyentuh pacar gue walau sehelai rambut pun." ucap Galang dengan menggebu.
"maksud kamu apa? Ngomong yang bener" ucap Ara.
"gak usah berlagak gak tau lo, kelakuan jahat lo kayaknya udah mendarah daging sampe susah buat ilangnya. Udah berapa ribu kali gue bilang jangan ganggu Salsa, lo cemburukan sama dia hah? gara-gara kelakuan lo Salsa jadi babak belur lagi. Lo emang bener-bener jahat ra."
Plak.
Galang menampar pipi sebelah kiri milik Ara dengan keras "lo pentes buat dapet itu".
Plak. Dug.
Kris menapar Galang dengan sekuat tenaganya sedangkan Aurel menendang tulang kering Galang.
"LO NUDUH KAYA GITU PUNYA BUKTI NGGAK?" teriak Kris dengan begitu lantang.
"COWOK TU SEMUA SAMA AJA, SEMUA BRENGSEK! PERGI GAK USAH DEKET-DEKET SAMA TEMEN GUE!"
Aurel menyembunyikan tubuh Ara di balik punggungnya.
"stop lo nggak usah ngebacot mending lo pergi dari pada lo di kroyok sama pasukannya Ara" saran Kris dan benar saja, ada beberapa pria dan perempuan menatap nyalang ke arah Galang seolah mengatakan 'jangan ganggu Ara'.
Ara memperhatikan orang-orang yang berada di sekitarnya, hah? Ia terkejut dengan pemandangan yang baru ia lihat. Pandangannya kini terjatuh pada lantai 'kok bisa?' tanya Ara dalam hati.
Sejak kapan ia bisa mendapat simpati dari orang orang ini? Ya walaupun Ara gak butuh tapi mungkin ini bisa saja berguna. 'Untuk yang satu ini, gue berterimakasih sama lo cupu'.
_____
Next?.
KAMU SEDANG MEMBACA
Transmigrasi Antagonis Ara (END)
Fantasy"maaf maaf nih, gue nggak ada harga diri karena emang nggak niat buat jualan!" ____ Galang mengelus rambut Salsa dengan lembut. "NGELUS ANJING BANG" **** KARYA MURNI BIKIN SENDIRI NGGAK COPY PASTE KARYA ORANG LAIN KALAU ADA NAMA TOKOH, KEJADIAN YANG...
