Insecurity bukan hanya tentang kita yang mudah tidak percaya diri. Bukan hanya tentang kita yang melihat sesuatu lalu berpikir, "Oh tidak! Aku tidak akan bisa lebih baik dari mereka"
Tidak. Insecurity bisa menjadi lebih dari apa yang kita pikirkan.
...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
you don't have to be perfect, you just have to try your best
🍁
"Dia bilang seperti itu?"
Maura mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari buku.
"Lalu kenapa mengadukannya? Kau ingin aku semakin merasa insecure karena perkataan dia? Sahabatmu?"
"Aku tidak mengadu, hanya sedang bercerita tentang first impression Jia terhadapmu. Lagipula, bukankah sebelum aku bicara, kau sudah merasa seperti itu? Insecure dengan keadaanmu?"
Laki-laki itu membenarkan kacamata yang bertengger di hidungnya. "Kita bahkan belum saling kenal. Kau tidak takut aku tersinggung lalu menegur sahabatmu? Bukankah dia bisa marah jika tau aku mengetahui hal ini darimu?" Keyfan melanjutkan
Sementara si gadis menutup pena dan buku catatan di pangkuannya. "Aku tidak yakin kau akan melakukannya, bahkan wajahmu sama sekali tidak tersinggung saat mendengar ucapanku barusan. Kau hanya diam, kan?"
"A-aku... itu karena aku baru pertama kali mendengar pendapat seseorang secara langsung. Mereka selalu berbicara di belakangku, jadi aku sedikit terkejut" Keyfan mengelak
"Hm. Jika kau ingat, kita pernah satu tempat kursus sewaktu SMA. Dan kupikir dulu kau tidak se–insecure sekarang, bahkan disaat teman-temanmu bilang kau kuno atau ketinggalan jaman. Lalu kenapa—"
"Itu karena aku masih bodoh"
Maura menoleh saat laki-laki itu memotong pembicaraan, ekspresinya kembali kecewa.
"Aku belum mengerti jika mereka melakukannya untuk membully, aku pikir mereka simpati, dan mencoba peduli dengan keadaanku. Tapi semakin lama, aku sadar mereka tidak memandangku seperti itu. Persis seperti sahabatmu. Mereka hanya mendekatiku untuk satu tujuan tertentu, seperti tugas atau memalak uang saku. Sisanya? Tidak ada"
Kali ini hanya diam yang berjarak di antara mereka. Keyfan menjadi kelu, sementara Maura hanya memandang tali sepatunya yang terlepas karena tak terikat kuat dan sempat terinjak.
"Kau tau?" Keyfan menarik nafas panjang
"Aku sama sekali tidak good looking, itu masalahku. Mau berubah? Aku tak tau harus bagaimana. Aku tidak tau standar apa yang mereka gunakan untuk menilai seseorang, jadi aku memilih diam. Tapi aku tidak menyangka kalau diamku pun bisa mereka manfaatkan sebagai gunjingan, dan itu menyakitkan"
Maura melirik sekilas sebelum kembali memperhatikan tali sepatunya. "Kamu engga harus good looking kok"
Sayup-sayup Keyran mendengar perkataan itu.
"Siapa bilang kamu harus good looking?Society? Atau orang di masa lalu yang menolakmu kemarin? Tidak. Jangan percaya pada mereka. YOU. DON'T. HAVE. TO BE. GOOD LOOKING" si gadis menekan setiap kata yang ia ucapkan
"Karena di dunia ini, good looking bukan satu-satunya kelebihan yang ada" sembari melanjutkan, Maura mengikat tali sepatunya
"Kalau kata Kak Alvy, 'You don't to be Beautiful, you can be kind, saving someone's life and that's still Beautiful in some ways'" Maura menumpuk pandangannya pada kantung kecil berisikan makanan kucing di saku luar ransel Keyfan
"Kau bahkan jauh lebih baik daripada mereka" puji Maura
Keyfan terdiam.
"Oh ya. Besok buku pesananku datang, kau mau meminjamnya setelah aku selesai membaca?"
Binar mata Keyfan seketika terlihat, ia seolah sangat tertarik pada tawaran kecil Maura. "Tentang apa?"
"Insecurity, tentu saja. Kau pikir buku apa yang sedang kau butuhkan sekarang, hah?"