BAGIAN 6 : DRAMA PUKUL SEPULUH

17 13 0
                                        

you don't have to be perfect, you just haveto try your best

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

you don't have to be perfect, you just have
to try your best

🍁

Gerimis malam kamis menjadi hal kedua yang menyebalkan bagi Maura, yang pertama adalah sang sahabat yang sedang menyunggingkan senyum pepsoden di depan gerbang. Lihat bagaimana tak bersalahnya dia ketika menelefon di hari libur pasca ujian, bahkan ini hampir tengah malam.

Oke jika dia melakukannya dengan sopan, nyatanya gadis itu menelefon dengan nada ketakutan, siapa yang tidak panik dibuatnya? Padahal dia hanya minta ditemani membeli DVD Detective Conan Limited Edition di Mall, yang benar saja.

"Jadi adikmu yang memintanya" Maura mematikan mini mp3 yang sedari tadi memutar instrumen piano

"Kau pikir aku masih menonton anime ini? Tidak. Walaupun aku masih menunggu episode Conan berubah kembali menjadi Shinichi lalu hidup bahagia bersama Ran, tapi sungguh! Bahkan sampai sekarang belum ada bau-bau rahasia BO akan terbongkar, mengandalkan obat dari Haibara secara terus menerus hanya akan membunuh Conan, kan?" Jia mengeluarkan beberapa lembar uang setelah sampai giliran membayar

"Tidak menonton tapi hafal alur ceritanya, dasar. Anyway, tidakkah kau mau meminta maaf, Jia? Ini hari libur dan aku sedang bersiap untuk tidur, apa-apaan dengan nada brutalmu di telefon tadi? Kupikir kau menjadi korban penganiayaan atau rumahmu kerampokan" tak mengindahkan Maura yang terus-terusan berkoar, Jia hanya mengendikkan bahunya

"Aku tau tidak mudah mengajakmu keluar jika mengatakan hal sebenarnya. Maaf ya, adikku sampai menangis karena tidak mau tertinggal seriesnya" Jia mengangkat paper bag cokelat di tangan

"Hampir sama dengan kita yang tidak mau ketinggalan setiap episode drama korea, bukan?"

Hazel Maura memutar. "Sudah lama sejak School 2015, aku tak menontonnya"

“Tidak heran, kau kan sibuk pacaran dengan buku seribu satu motivasi hidup itu” gadis yang tak lebih tinggi dari Maura menunjuk paper bag berisi buku

“Mau berakhir seperti Dilan yang puitis nan romantis atau kau akan menjadi penerus Mario Teguh, Maura?"

Buku setebal 5 cm hampir terlempar. Baru mulut Maura akan terbuka, namun sosok di seberang lampu lalu lintas mengalihkan atensinya. Slow motion seketika bekerja disaat yang tepat. Maura kembali melihat sosok itu setelah dua minggu ujian berlalu. Dia masih sama ternyata, dengan tampilan dan gestur tak percaya dirinya. Tapi kini ada satu hal lain yang menarik perhatian Maura, setelah segala drama insecurity yang membuat tatapan dia seperti kota yang sepi, menghilang. Sekarang, kota yang ramai kembali kehilangan sinar.

"Kenapa?" urgensi tajam terlihat jelas di tengah gemuruh langit metropolitan

Untuk beberapa alasan, si gadis merasa jika sosok itu menjadi pribadi yang menyebalkan. Lagi.

"Tidak ada. Aku... hanya sudah di fase terlalu capek mencoba" dua pasang bola mata berjarak saling melempar pandang

"Maaf, Maura"

Bodoh. Gadis itu mengikuti langkah Jia melewati sosok tegap yang sudah tidak memiliki niat menyeberang jalan. Sepertinya, menatap punggung sempit milik Maura jauh lebih menarik daripada jadwal bertemu ibu sambungnya.

"Lagi... kali ini... haruskah aku kalah dengan insecurity?" laki-laki tersebut berucap lirih

🎞

TO BE CONTINUED

INSECURITY DAN PERTEMUAN HARI INICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang