Insecurity bukan hanya tentang kita yang mudah tidak percaya diri. Bukan hanya tentang kita yang melihat sesuatu lalu berpikir, "Oh tidak! Aku tidak akan bisa lebih baik dari mereka"
Tidak. Insecurity bisa menjadi lebih dari apa yang kita pikirkan.
...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
you don't have to be perfect, you just have to try your best
🍁
Menit demi menit berlalu. Bunyi ketukan keyboard yang beradu dengan jemari Maura menjadi hal yang dominan terdengar di meja itu, diikuti dengan suara Jia yang mendikte beberapa kalimat dari buku yang ia dapat dari rak.
"Selesai" celetuk Jia yang mulai membereskan meja
"Kau masih ada tugas Maura?"
"Ya. Hanya sedikit tentang insecurity"
Mulut Jia ber–oh ria lalu mengembalikkan bukunya.
"Okay Google... what is insecurity?" Maura berkutak dengan ponselnya
"Insecurity is a feeling of inaquacy (not being good enough) and uncertainty. It produces anxiety about your goals, relationships, and bla...bla...bla" suara robot layaknya manusia menjawab
"Then, what causes insecurity?"
"Maura, aku duluan ya"
Tangan Maura terangkat membalas lambaian Jia yang beranjak dari kursi perpustakaan, begitu tenang sampai sebuah notifikasi ponsel mengalihkan atensinya.
"Hey Google—"
"Insecurities are realted to standards set by the people we interect with, such as our family, friends, and peers, and bla...bla...bla" belum selesai si gadis bicara, suara asisten google dari earphonenya menjawab, sepertinya koneksi internet sedikit melambat
"Kau yakin itu yang namanya insecurity?" dari sudut matanya ia melihat ada yang mengangguk mengiyakan
"Yeah. Why? You already feel it now, right? That's true"
Jemari Maura membuka setiap isi notifikasi di ponselnya. "No, I am not"
"Kau iya!!"
Gadis itu menoleh ke sumber suara, di sampingnya ada pasangan yang sedang bertengkar—sepertinya? Dan ia mengenal salah satu orang di sana. Dia seseorang yang pernah masuk list obrolannya bersama Jia. Laki-laki yang berstatus sebagai teman satu tempat kursus Maura saat SMA.
TING
Notifikasi ponsel berbunyi, kali ini Maura membukanya sesegera mungkin.
'Hai ini aku, your insecurity. Lewat buku ini, kita coba jadi teman yuk!'
Maura melebarkan senyum, akhirnya buku yang ia tunggu-tunggu akan rilis juga.
"Tinggal tunggu tanggal pre–order kan" gumam si gadis sebelum melanjutkkan aktivitas
Tidak lama. Hanya sampai sang surya mulai bergerak menjauhi ufuk timur kearah barat. Sisi teduh dari bayangan pepohonan juga berpindah dari sebrang jalan ke jendela bening perpustakaan, tepat ketika lengan berlapis kemeja biru tak sengaja menabrak bahu Maura yang sedang mengisi data kunjungan.
"Maaf" satu kata yang mewakili segalanya
"Keyfan" nama tak asing terdengar di telinga Maura dan laki-laki itu tak mendengar
Mungkin mereka sedang ada masalah, pikir si hazel seraya berjalan melewati gadis berambut legam yang barusan memanggil nama Keyfan.
Sejenak Maura meliriknya, gadis itu lumayan cantik dengan kulit putih nan bersih, badannya juga tinggi semapai, ideal. Lalu laki-laki tadi?
BRAK
Maura berhenti saat melihat sosok Keyfan hampir terjungkal dari duduknya. Dia hampir tertidur di halte ternyata.
"Lelah karena sakit hati atau karena merasa tidak cocok dengan pujaan hati?" pertanyaan Maura keluar seiring tubuhnya duduk di kursi
Canggung. Keyfan membenarkan letak kacamata, tak menjawab sampai dering ponsel keluaran negeri gingseng memecah keheningan.
Dia tidak mengenaliku ya?
Maura berpikir keras, ia dapat melihat Keyfan tengah menahan rasa kecewa, entah karena apa.
"Everyone is the same, right?" lirihan si laki-laki terdengar
Ada apa?
Ingin sekali Maura bertanya. Namun dari kejauhan, otobus berwarna hijau mulai terlihat mendekat.
"Kau tau?" Maura memeluk bukunya yang tadi ia pangku
"Seorang penulis pernah berkata bahwa penjahat dalam kisah kita bukanlah ibu tiri yang kejam, teman yang berkhianat, atau orang-orang yang merendahkan kita. Tetapi our own insecurity, mungkin itu yang kau rasakan sekarang ini"
Selesai mengatakannya. Maura beranjak menaiki otobus yang berhenti. Sekali lagi, tak ada tanggapan berarti. Ia pun tak menoleh untuk sekadar memastikan bagaimana ekspresi wajahnya. Tak didengar pun tak masalah, Maura hanya ingin berbagi kata. Tapi sebelum transportasi umum tersebut bergerak, Maura dapat merasakan laki-laki tadi ikut beranjak. Ia pergi dengan secarik kertas bertuliskan TERIMA KASIH di ransel lusuhnnya. Maura dapat melihat karena otobus berjalan searah dengan dia.
Terlihat lucu. Hazel itu tersenyum.
"Aku penasaran, tapi sepertinya Tuhan memang sudah merencanakan kita untuk bertemu hari ini, Keyfan"