Sebuah cerita perjodohan dari dua manusia yang tak sama sekali mengenal.
Mereka dipaksa untuk melaksanakan perjodohan karena umur mereka sudah tak lagi muda. Dituntut untuk menikah adalah sesuatu hal yang mereka kesalkan.
Apalagi dengan manusia ya...
Hugo menggelengkan kepalanya sudah terbiasa dengan tinkah pemuda itu. Salah satu pemuda dengan tubuh tingginya berlari menghampiri Hugo dan Chandra.
"Bang! Hp lo nih bunyi terus" Pemuda itu, Jidan memberikan ponsel pada Hugo.
Hugo langsung memeriksa riwayat panggilan.
"Oh shit!" Hugo memasukkan ponselnya kedalam leather jaketnya.
"Gua cabut"
Chandra mengerutkan keningnya bingung dengan Hugo yang terburu-buru.
"Ada panggilan dari rumah sakit. Thank's buat hari ini. Uangnya kalian urus aja, gua tinggal terima beresnya!" Hugo memakai helmnya kemudian menyalakan motor dan menancapkan gas menuju rumah sakit.
Chandra dan Jidan menatap Hugo yang sudah menghilang dari area lapangan.
"Resiko dokter ikut balap liar gini nih" Ucap Chandra.
"Elo kan yang masukin bang Hugo kesini"
"Ya dia yang mau"
"Padahal dia udah kaya mana jadi dokter lagi. Gue baru tau dokter bisa balap liar gini" Chandra menepuk pundak Jidan.
"Udah lah cabut. Mikirin bang Hugo gak akan ada habisnya" Jidan menganggukkan kepalanya pelan. Ia mengikuti Chandra berjalan menuju pemotor yang sedang berkumpul.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hugo berlari ketika ia sudah sampai di rumah sakit. Kedua tungkainya membawa dirinya menuju IGD. Sembari berlari ia memakai jad dokternya dan memakai kacamata yang selalu ada di saku jasnya.
Salah seorang dokter wanita dan seorang perawat berdiri di sebelah ranjang yang terdapat seorang pasien kritis dengan beberapa alat yang terpasang ditubuhnya.