Part 8. Khawatir

419 28 2
                                        

Off berkunjung ke kamar Gun, setelah menunggu pria itu di meja makan hingga jam sarapan sudah usai, tapi Gun tidak juga muncul.

Karena merasa sedikit cemas, Off langsung membuka pintu kamar begitu saja. Biasanya juga begitu, Off akan masuk sesuka hatinya, entah itu pagi, siang, ataupun malam saat Off bernafsu. Tapi kali ini Off benar-benar hanya ingin mengecek Gun.

Kamar Gun masih gelap, lampunya belum dihidupkan. Ruang bawah tanag memang selalu seperti ini, gelap gulita jika sang pemilik kamar tidak menyalahkan penerangan.

Saat Off menekan saklar lampu, terlihat makanan basi di atas nakas samping tempat tidur Gun. Kemarin Gun memang tidak ikut makan, katanya ingin makan di kamar. Tapi lihatlah, makannya sampai basi tidak disentuh.

Kasur Gun sangat rapi, seperti Gun tidak pernah tidur di atasnya. Dan suara gemirisik air dari shower membuat Off tahu, kalau Gun sedang mandi.

Sembari menunggu Gun selesai, Off membereskan buku Gun yang ada di atas meja. Setiap minggu Off membawakan Gun buku, perasaannya mengatakan jika Gun kesepian, dia takut Gun terlalu stres karena tidak ada kegiatan. Alhasil hanya buku yang bisa Off bawakan. Dia juga terkadang membeli novel berbagai genre untuk Gun.

Semua bukunya dibaca, segel yang telah terbuka dimasukkan ke dalam dus dengan rapi. Gun juga menyimpan bukunya dengan baik.

Off menunggu dengan sabar, sampai dia merasa janggal. Ia melihat jam di pergelangan tangannya, sudah setengah jam Gun belum juga keluar. Off semakin resah saat sadar tidak terdengar satupun aktivitas di kamar mandi selain suara air shower.

Untungnya kamar mandi tidak bisa dikunci, jadi Off bisa langsung membukanya. Terlihat Gun terduduk di bawah shower sambil memeluk kakinya. Pakaian Gun masih lengkap, yang dipakai kemarin saat pergi.

Off langsung mendekat, mematikan shower lalu melilit tubuh Gun yang begitu digin. Pandangan Gun terlihat kosong, seolah jiwanya sudah pergi.

"Berapa lama kamu disini?" tanya Off panik, dia mengosok tangan Gun yang sudah mengkerut terkena air.

Bibir Gun juga membiru karena kedinginan, tapi pria mungil itu tidak bereaksi apapun. Tubuhnya dibiarian kedinginan begitu saja.

Off membantu Gun berdiri, dia memutuskan untuk melepaskan semua pakaian Gun agar kasurnya tidak basah saat dibawa keluar. Lagi, dan lagi Gun hanya pasrah, membiarkan Off melakukan apapun.

"Badanmu sudah hampir beku," marah Off, dia tetap berusaha menutupi Gun dengan handuk, mengedongnya untuk dibaringkan kekasur.

Off tidak merasakan suhu panas sedikitpun dari anggota tubuh Gun, seolah pria itu telah berada di bawah shower sejak kemarin sore.

Setelah membawa pakaian hangat dari lemarin Gun, Off langsung memakaikannya kepada Gun. Dia dengan hati-hati membungkus Gun menggunakan selimut tebal.

"Apa kamu berniat menyakiti diri sendiri!" Off terus mengoceh, membuatnya dalam posisi setengah berbaring. "Jangan pernah lakukan lagi, aku sangat khawatir."

Off mencium kening Gun, membawanya ke dalam pelukan Off. Gun hancur, tempat ceritanya yang tidak pernah mengelus tentang apapun kini mulai memperlihatkan kerapuhannya.

Apa ini karena Gun bertemu Tay kemarin? Harusnya Off menghentikan itu, karena pada saat itu Off berada dilokasi yang sama dengan Gun. Off kebetulan sedang rapat bersama klien lamanya.

Off juga tahu bagaimana Gun menangis di hadapan Tay. Pria brengsek itu benar-benar menyakiti hati Gun lagi. Kalau bisa Off ingin menggatikan rasa sakit Gun dengan cinta tulus seorang Off.

Namun, dibanyak sudut pandang lain, apa bedanya Off dengan Tay? Dia takut akan jauh lebih Gila dari Tay.


***
Louis yang hari ini tidak bisa pergi karena Gun tidak datang menemani hanya jalan-jalan di kebun mawar. Ini adalah tanaman kesukaan Off, ada banyak jenis mawar yang ditanam halaman rumah samping jalan.

Luasnya jalan menuju ke luar memang cukup panjang, jadi bisa saja menampung begitu banyak jenis mawar.

Saat memperhatikan bunga mawar, Louis tidak sadar melihat sekutung mawar berwana pink ada di depan matanya. Louis menoleh, melihat Neo sudah berdiri disampingnya dengan senyum lebar.

Jelas siapa yang tidak panik, rumah ini tidak bisa sembarang dikunjungi. Hukuman penyusup juga sangat kejam, jadi Louis buru-buru ingin mengusir Neo sebelum ada yang melihat.

"Louis, apa yang kamu lakukan dibawah terik matahari!"

Sial, itu adalah suara Off. Kalau sekarang kakaknya itu kemari, ke mana dirinya harus menyembunyikan Neo.

Dengan ide gila, Louis membuat Neo masuk ke dalam perkebunan mawar yang penuh duri-duri. Louis menyembunyikannya di semak-semak mawar yang bergombol.

"Apa kamu tahu sudah sesiang apa ini? Matahari tidak sehat, dan cepatlah masuk!" marah Off, langsung menghampiri Louis.

Karena wajahnya yang tegah, Off langsung memicingkan matanya kepada Louis. "Kenapa kamu begitu gugup?"

Louis menelan ludahnya kasar, dia memandang ke sana ke mari mencari alasan, dia tidak mungkin membiarkan sahabat satu-satunya dilubangi kepalanya oleh Off.

Dengan suara pelan Louis menjawab. "Anu, Louis berpikir ingin memetik mawar tadi, dan jari tangan Louis terluka."

Mata Off langsung membulat, dia memandang Louis tidak suka. "Siapa yang mengizinkan? Kaka sudah bilang jangan berbuat macam-macam yang mem__"

"Astaga ulat, Louis ada ulat bulu besar sekali, adu, aduh ... kenapa duri mawar tajam sekali!" jerit Neo begitu heboh keluar dari kebun mawar.

Louis langsung menyembunyikan wajahnya, sementara wajah Off terlihat semakin mengeras.

"Apa-apaan ini?" batin Off yang menatap tajam ke arah Neo.


Mr. Mafia's favorite (offgun)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang