Part 7. Bertemu Mantan

407 26 1
                                        

Gun ingin menjemput Louis ke toko sepatu, karena terakhir kali pengawal Louis mengabarkan ada di sana. Namun, sebelum Gun mengijakkan kaki untuk masuk ke dalam toko, ia melihat Louis sedang asik bercengkrama dengan seorang lelaki.

Gun memandang salah satu seorang yang ditugaskan Off mengatar Gun, dia tampak tidak bergerak masuk juga saat Gun memutuskan berhenti di ambang pintu.

"Itu teman Louis?" tanya Gun, kepada orang di sampingnya.

Pengawal itu mengangguk. "Selama bertahun-tahun saya menjaga Louis, itu adalah satu-satunya teman yang dibebaskan oleh Tuan Off untuk menemui Louis kapanpun."

Gun tidak terlalu paham dengan rasa posesif Off yang berlebihan, tapi ia mengerti kalau Louis juga sangat jarang bisa menjadi orang normal yang memiliki teman untuk diajak sosialiasi.

Maka Gun yang binggung akhirnya memutuskan untuk tidak masuk, dia berjalan menuju bangku kosong yang berjajar di luar toko barang.

Pengawal yang mengatarkan Gun juga mendadak permisi ingin pergi ke toilet sebentar, ia meninggalkan ponsel untuk Gun.

"Ini ponsel darurat, tuan Off akan memberikannya kepada bahawan saat diperlukan. Jadi Anda bisa mengunakannya saat butuh menelepon saja." Pengawal itu menjelaskan sebelum pergi.

Jelas Gun tahu ponsel ini sudah dirancang sedekian rupa. Ada alat pelacak dan bisa dikendalikan oleh satu orang, selain itu kegunaan ponsel ini hanya untuk menelepon orang-orang yang nomornya sudah tersimpan.

Gun menghela napas, membiarkan pengawal itu pergi. Sementara itu Gun hanya memandang sekitar.

Kira-kira sudah berapa lama matanya tidak memandang sebuah keindahan. Apa Gun akan melihat hal seperti ini kedepannya? Selama menunggu Gun hanya melamun, ia menikmati suasana ramai yang hati kecilnya rindukan.

Andai dia bisa bebas lagi, Gun akan pergi sejauh mungkin, ke tempat yang orang-orang kenal Gun tidak akan bisa menemukannya, termasuk Off.

Gun ingin membekukan hatinya, jadi Off juga akan menjadi salah satu orang yang tidak pernah ingin Gun temui dimasa depan.

Beberapa saat pikirannya berkelana, ia tidak sadar kalau sudah orang yang memperhatikan. Orang itu terus memandang dari jauh hingga langkahnya membawanya dekat.

Gun sempat penasaran melihat sepasang sepatu berhenti di depannya, tapi saat kepala mendongak, Gun langsung terkejut.

Karena tidak ingin bertemu orang itu, Gun langsung berdiri dan ingin pergi. Lebih baik menganggu Louis bersama temannya daripada menemui orang itu.

Tapi tetap saja Gun tidak berhasil lolos, tangannya dicekal erat. "Beri aku waktu bicara sebentar."


***
Disinilah mereka berakhir, di sebuah tempat menikmati kopi disaat pikiran sedang kacau. Tay memesankan Gun kopi yang biasa mereka minum, dan beberapa makanan ringan yang sering kali mereka makan.

"Kamu sudah bebas sekarang? Tuan Off melepaskanmu?" Tay bertanya dengan wajah penasaran.

"Bagaimana bisa Off membebaskan orang yang telah menjadi jaminan semudah itu? Selama masih ada kerugian, dia akan memanfaatkan sampai titik penghabisan." Gun menjawab dengan wajah mengeras.

Sementara Tay sama sekali tidak menunjukkan penyesalan, seolah apa yang terjadi pada Gun bukanlah apa-apa.

Hidup Gun hancur, semuanya sirna, kerja kerasnya hanya dihargai sebagai jalang. Lalu apa Tay tidak pernah merasa bersalah.

Tay dengan lembut mengelus tangan Gun yang ada di atas meja. "Aku tidak ingin melalukan itu, beberapa kali aku mencari cara agar bisa membebaskanmu."

"Kamu hanya mencari cara Tay. Tapi tidak melalukan apapun. Kalaupun kamu mencintaiku, kamu pasti akan berjuang lebih keras. Sayangnya kamu hanya memandangku sebagai kesenangan." Gun menepis tangan Tay.

"Maksudmu?" Tay bertanya tanpa menaikan sedikipun nada suaranya. Dia masih tenang, walaupun melihat orang lain hancur.

"Apa kamu pernah mencintaiku?" Gun memandang tepat mata Tay.

Mereka berdua telah bersama lebih dari lima tahun, jadi apa yang bisa Gun tanyakan selain kepastian perasannya yang sia-sia.

Tay menikah dengan orang lain, dan demi menyenangkan istrinya Gun dijadikan jaminan meminjam uang kepada Off. Kurang sakit apa hati Gun.

Tay juga bergeming, dia menatap Gun cukup lama. "Maaf, maaf Aku menarikmu ke dalam duniaku, dan aku tidak bisa mempertanggung jawabkannya. Kalau kamu tanya apa aku cinta kamu, Gun? Jawabannya aku sangat mencintaimu," balasnya dengan sungguh-sungguh.

Air mata Gun menetes detik itu juga. Ia tidak bisa membuat kepalanya paham dengan jawaban Tay yang semakin menyudut sudut hatinya.

"Lalu kenapa kamu menyia-nyiakan semuanya? Kenapa kamu memilih wanita itu?" tanya Gun sambil terisak

Tay yang sakit melihat Gun menangis langsung membuang pandangannya ke lain arah.

"Ini salahmu juga, Gun." Tay sedikit bergetar dalam suaranya. "Mana janji kamu akan menyusul kuliah? nyatanya kamu sibuk, aku berusaha tetap menjaga hati, tapi saat ada kesempatan jelas aku akan lebih memilih itu."

Gun mengelap air matanya kasar, memandang Tay tidak percaya.

"Karena aku tidak egois sepertimu Tay! Aku tidak bisa kuliah karena anak panti kelaparan, aku harus membantu mereka karena dari sana asalku. Tapi selama hidupku, aku tidak pernah menghianatimu. Kamulah yang menikah dengan anak bosmu dengan alasan ada kesempatan."

Gun meninggalkan Tay dengan perasaan pedih. Hatinya semakin perih saat menggali masa lalu yang jelas-jelas sudah menyakitkan dari awal.

Mr. Mafia's favorite (offgun)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang