Part 3. Apakah Mencitaiku?

523 26 1
                                        

Gun duduk di samping Louis, sementara Off duduk sendiri di sofa tunggal. Ia memandang Louis dengan Gun secara bergantian, sebelum pada akhirnya menghela napas panjang.

"Kak Gun, pacar Kakak?" celetuk Louis yang memang sangat polos dan penasaran sekali orangnya.

Off yang ditanya begitu hanya menggeleng. "Ini Kak Gun, dia dari bawah tanah, dan sekarang Kakak tugaskan untuk menjaga kamu." Off menjawab dengan tenang.

Namun, tidak sama halnya Louis yang malah merasa kakaknya ada sesuatu.

"Kenapa nggak pacaran, Kakak udah mau tiga enam, masak nggak punya pacar," ucap Louis dengan nada sedikit membuat Off terkekeh pelan.

Kenapa adiknya tidak pernah tumbuh dewasa, baginya Louis masih sama seperti tiga belas tahun lalu.

Off mengelus kepala Louis singkat. "Sebelum kamu dinikahi, Kakak tidak akan memikirkan pasangan hidup dulu," jawabnya.

Tapi Louis malah langsung tidak terima. "Kenapa Louis yang dinikahi, Louis pengen punya cewek," ucap Louis menggembungkan pipinya.

Gun yang melihat interaksi kakak adik itu tersenyum gemas. Ternyata umur Louis yang sudah delapan belas tahun tidak ada harga dirinya.

Sementara Off juga sama, ia tampak gemas dengan Louis. "Kamu nggak bisa megang pistol, jadi jangan banyak gaya," ujarnya sedikit bercanda.

Louis yang menyadari pernyataan kakaknya benar hanya bisa semakin merenggut kesal. Baginya sang kakak selalu menyebalkan, tapi Louis sayang, sebab Off selalu memberikan yang terbaik untuk Louis.

"Kalau begitu kamu sama Kak Gun dulu. Kakak akan meeting hari ini, mungkin pulang malam." Off berdiri, merapikan jasnya yang agak berantakan.

Sebelum pergi Off tidak lupa mengelus kepala Louis, sambil menepuk bahu Gun beberapa kali.


***
"Kak Gun kenapa nggak pacaran sama Kak Off?"

Gun hampir tersedak air yang ia minum. Sekarang ini dirinya sedang berada si meja makan bersama Louis.

Tapi dengan halus Gun berusaha menjelaskan. "Kami tidak mungkin terlibat hubungan seperti itu."

"Apa karena Kak Off suka perempuan?" Louis sedikit berpikir. "Tapi itu dulu, bisa saja Kak Off sukanya kepada Kak Gun," balas Louis lagi dengan polosnya.

Gun yang kali ini benar-benar tersedak, dia batuk beberapa kali yang membuat Louis panik. Dia membantu mengelus pundak Gun dengan lembut.

Setelah cukup reda, Gun baru membalas Louis, dengan topik lain. "Bagaimana sekolah kamu, apa menyenangkan?"

Louis yang ditanya soal sekolah menjadi sedikit tidak tertarik. Ia memainkan nasinya yang sisa sedikit.

"Sekolah asrama harusnya ada teman kamar," ucap Gun lagi.

Sayangnya Louis langsung membantah. "Kamar Louis khusus, hanya untuk satu orang, yang lengkap dengan dapur, kamar mandi dalam, dan makanannya saja diatur oleh pelayan yang kak Off sewa. Ada beberapa bawahan kakak yang berjaga juga," jelaskan Louis yang sebenarnya tidak pernah merasa seperti sekolah Asrama, tapi apartemen pribadi dengan fasilitas melebihi kata lengkap.

Gun yang mendengar itu sedikit berpikir keras. Hidup Louis memang terdengar enak, hanya saja itu pasti tidak semenyenangkan yang orang miskin seperti Gun pikirkan.

"Apa teman-teman kamu sering membully kamu gara-gara itu?"

Louis menggeleng. "Kalau ada berani, tangan mereka sudah hilang satu." Louis menjawab dengan lesu. "Tapi masalahnya Louis nggak punya teman, semua yang dekat dengan Louis harus disortir."

"Benar-benar tidak bebas, ya?" tanya Gun hati-hati.

Jelas bagaimana Louis bisa dapat kebebasan kalau Off mengawasinya dua puluh empat jam.

Sangat pantas kalau perkataan orang-orang tentang Off yang posesif terhadap adiknya. Kalau bisa Off pasti mengurung Louis di dalam sangkar emas, karena berpikir itu akan aman.

Namun, Off masih sadar penuh tentang masa depan Louis. dia sampai begitu karena sangat tidak yakin kalau dunia aman untuk adiknya Louis.

Saat Gun melamun, Louis tiba-tina bertanya balik.

"Kak Gun dulu sekolah asrama?"

Gun yang mendengar Louis ingin tahu ceritanya langsung memberikannya dengan suka hati.

"Tidak, Kakak dulu harus sekolah sambil kerja. Kakak itu yatim piatu sejak kecil, tinggal di panti asuhan sampai umur empat belas tahun. Setelah tahu panti kekurangan uang untuk biaya anak-anak yang lebih kecil dari Kakak untuk makan dan membeli susu Kakak memutuskan keluar."

Louis terlihat langsung kagum. "Kakak hebat sekali," pujinya dengan mata berbinar.

"Terus Kakak punya banyak temen?" Louis bertanya dengan antusias.

Gun yang mendapati itu tersenyum senang. Dia menghela napas kasar sebelum menerang masa lalunya.

"Tidak," jawab Gun dengan tabah. "Kakak sibuk harus bertahan hidup, jadi siapa yang mau sama Kakak?" Gun bertanya balik.

Jelas itu cerita sedih hidupnya, karena kerasnya dunia memaksa Gun untuk tidak memiliki banyak hal yang orang lain miliki.

Louis yang turut merasakan hal sama, menjadi ikut sedih.

"Pacar juga nggak, ya?" tanya Louis yang seperti pertanyaan ngaur.

Akan tetapi jawaban Gun malah diluar perkiraan. Gun menjawab punya dengan nada yang antusias.

Jelas Louis yang sempat bersedih, langsung semangat lagi. "Pacar Kakak seperti apa?"

Gun tersenyum, dia memandang Louis dengan mata penuh cahaya. "Dia Populer di sekolah, sangat tampan, Kakak kelas, baik, peyanyang, intinya sempurna," deskripsikan Gun yang memang benar adanya.

"Terus kenapa sekarang putus?" Louis tahu pasti Gun sudah putus, sebab pacar mana yang membiarkan kekasihnya terjebak di genggamam Off.

Senyuman Gun luntur mendengar pertanyaan itu, berubah menjadi senyum getir. "Kakak nggak tahu, apakah dia mencintai Kakak atau tidak," balas Gun memaksakan untuk hatinya tidak sakit.

Louis sempat terhenyak, tapi sebelum bertanya Gun sudah memotong. "Sekarang ayo kita buat rencana liburan, supaya selama satu bulan ke depan sudah tinggal menjalankan!"

Mr. Mafia's favorite (offgun)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang