"Assalamualaikum, Bu.. Ibu."
"Saga pulang, Bu!"
Sudah 12 menit aku berdiri di depan pintu. Mengetuk pintu rumah tapi tak kunjung ibu membukanya. Aku mencoba menelepon ibu tapi juga tak diangkatnya. Aku sudah kepanasan di teras. Sepatu dan kaos kaki sudah kulepas.
"Saga, aduh maaf. Tadi ibu pesen, ibu ke rumah sakit. Mau periksa ke dokter," ujar Bu Dewi yang tiba-tiba saja datang tergesa di hadapanku.
Bu Dewi adalah tetangga depan rumahku. Dia penyuka warna ungu. Semua rumah dan aksesorisnya nyaris penuh dengan warna ungu. Dia ramah dan baik hati. Seringkali Bu Dewi mengajak ibu jalan sore atau makan di taman. Mereka bersahabat sangat dekat.
"Oiya Bu, makasih ya. Ini tadi aku telepon ga aktif soalnya, " ujarku kepada Bu Dewi.
"Iya, kalau mau istirahat di rumah ibu aja. Biar kagak kepanasan ya!"
Bu Dewi tersenyum lalu kembali memasuki rumahnya yang serba ungu.
Sudah seminggu ini memang ibu sakit. Keluhannya pusing, mual, dan paling parah jika pagi sampai muntah-muntah. Ibu biasanya tidak pernah sampai merasa perlu berobat ke rumah sakit. Mungkin, sakitnya kali ini terlalu untuk ibu. Dalam hati, aku berdoa semoga ibu tidak apa-apa.
Dalam keadaan kosong seperti ini, aku langsung merasa hampa. Andai saja ada Sabba menemani. Andai saja, Sabba bisa kuajak cerita lagi. Seru-seru lagi seperti waktu itu, via chat pun tak apa. Aku akan senang sekali.
Tentu waktu menunggu ibu seperti ini tidak akan terasa kosong. Terlintas ingat kembali bagaimana Sabba dan aku saling bercanda berkata kasar, jika bertemu kami saling tendang, atau saling iseng dengan saling memainkan rambut. Ya Tuhan, ternyata aku kehilangan. Aku merindukan hari-hari bersama Sabba. Ini adalah hari ke dua puluh tiga usai kami bertemu di Taman Sebelah Kebun. Sejak hari itu, kami tidak pernah berkomunikasi lagi. Tidak pernah bertegur sapa jika harus bertemu di sekolah. Duduk berjauhan jika harus bertemu di ruang ekskul vocal.
Sejak dua puluh hari itu pula, nyamuk-nyamuk di sekitar kami tiba-tiba punah dan hilang. Nyamuk-nyamuk manusia yang biasanya berisik jika kami bertemu dan berdengung "cieeeee...". Hilang.
Pernah suatu malam aku mencoba chat Sabba, hanya karena hari itu aku dengar dia sakit sehingga tidak masuk sekolah. Aku bilang sesuatu yang menurutku ini akan bisa membuat dia tertawa, "kabarin kak kalau sakit. Takutnya kena santet nanti gua bisa kirim doa". Kupikir itu lucu, karena bercandaan kami memang formulanya kelewat batas. Ngobrolin tuyul, babi ngepet, kuntilanak, khodam, dsb. Kali ini tidak. Dia tidak berterima. Aku meminta maaf. Dan saat itu aku sadar, dia mungkin telah berpindah frekuensi. Hilang sinyal. Sementara aku masih di sini, masih merasakan rasa yang dulu pernah aku dan Sabba tanam di sini. Sejak malam itu, aku menjadi takut untuk menghubunginya. Padahal banyak sekali kisah yang ingin kuceritakan padanya. Tentang nilai matematiku yang biasanya remed, dan kali ini selalu dapat 100. Itu juga karena Sabba. Ia pernah bilang, "mathematics is easy". Saat itu aku tidak percaya. Tapi aku terhipnotis dan termotivasi, sehingga entah mengapa tiba-tiba saja aku merasa apa yang dia bicarakan adalah hal yang memang benar.
Buatku rasa ini bukan semata sayang atau cinta, atau suka atau tertarik. Buatku menemukan Sabba adalah merasakan bagaimana aku bisa benar-benar belajar menjadi manusia.
Dan di hari ke dua puluh satu ini, aku tersadar ternyata keikhlasan itu ternyata tidak ada, yang ada hanyalah keterpaksaan untuk terbiasa tanpa kamu, Sabba. Kangen? Sudah pasti. Kalau bisa kupeluk lagi, aku ingin. Tak boleh lepas, kalau boleh. Hehe.
"Udah lama ya kak?" Lamunanku usai ketika ibu ternyata sudah datang.
Aku langsung berdiri dan memeluk ibu.
"Loh loh kenapa?" Tanya ibu.
"Kangen."
"Sama siapa?"
Aku tersenyum saja tak bisa menjawab.
Ibu memarkirkan mobil silver tepat di depan rumah. Lalu membuka pintu dan mengajakku duduk. Wajah ibu cantik sekali. Berseri. Aku melihatnya menjadi tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sabba dan Saga
Teen FictionCerita ringan, lucu, unik, dan ajaib. Gimana sih rasanya nyaman sama pacar orang? Bingung kan? Sama kayak Saga terhadap Sabba. Bingung. Saga dan Sabba berkenalan di ekskul vokal, berawal dari canda, mereka berkomunikasi intens. Hampir tiap malam me...
