Puding tak sampai

86 31 20
                                        

Bab 7

Seperti biasa, hari yang biasa. Pagi yang biasa. Ibu mengantarkanku sampai lobi sekolah. Hari ini cuaca cukup panas meskipun masih pagi. Aku sangat terburu-buru melewati lobi, selasar GOR, dan sedikit menanjak menuju gedung Amerika. Benar-benar panas dan takut meleleh.

Oiya. Hari ini kami semua mengenakan baju adat Sunda. Para murid perempuan berkebaya. Begitu pula murid laki-laki, mereka menggunakan pangsi.

Anas, Gadis, dan Chia sudah menungguku lesehan di depan loker. Mereka tersenyum padaku sambil teriak, "morning, Saga!".

Kami beradu tos. Lalu kubuka loker, memasukkan tas, dan duduk bersama mereka.
"Guys tunggu ya, jangan ajak gua ngomong dulu ya. Ada urusan negara," ucapku pada mereka.
"Aman!" Gadis menimpali.

Kubuka whatsapp dan kumulai chat Sabba.
_______

_______

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Agak kecewa saat itu ditolak Sabba. Overthingking mulai melayang kemana-mana. Oh mungkin, sedang ada pacarnya di rumahnya. Baiklah. Aku buka kembali loker dan kumasukkan puding ke dalamya.

Ada perasaan tak enak. Tapi berusaha kuabaikan. Hingga akhirnya tiba-tiba ada tangan menepuk punggungku dari belakang. Bukan Sabba. Dia Keenan.

"Morning Saga!" Ujar Keenan sambil tersenyum
"Hai" ucapku hambar
"Cantik banget lu hari ini pake kebaya," Keenan menatapku agak dalam sambil tangannya membelai rambut panjangku di satu sisi, mengelus kepalaku, wajahnya mencoba mendekat ke wajahku hingga aku merasa risih.
Aku berusaha menepis tangannya.
"Keenan, maaf." Ujarku sambil bergeser.
"Oh sorry!"

Aku lari ke toilet. Menahan marah. Menahan kecewa. Menahan segala rasa saat itu. Beberapa temanku menatapku bingung.

Kukunci pintu toilet dan tiba-tiba saja air mata jatuh. Aku tidak suka perlakuan Keenan. Terutama saat Sabba di sana mungkin tengah sakit lalu ditengok pacarnya.

Bebeapa menit setelah cukup tenang. Handphone berdering. Sebuah panggilan telepon dari Sabba.
____

"Halo" ucap Sabba agak keras
"Ya?"
"Lukenapa? Lagi dimana saga?" Tanya Sabba
"Toilet kak"
"Tadi Keenan sentuh lu?"
"Iyah, aku malu kak"
"Saga tenang ya"
"Iya kak"
"Tadi Gadis telepon gua. Sekarang lu tenang, cuci muka. Senyum. Lanjut ke kelas"
"Iya ka, makasih"
"Saga maaf ya"
"Maaf kenapa?"
_______
Tapi belum sampai ada jawaban, telepon terputus. Aku mencoba berdiri dan mengikuti apa yang Sabba bilang.

Sabba dan SagaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang