Hari ini tampak sama tapi berbeda. Seragam putih hijau dengan totebag sudah kukenakan. Aku sedang berjalan dari lobi sekolah menuju kelasku, 7M.
Jangan heran mengapa di sini kelasnya bisa sampai M atau S. Itu bukan urutan kelas berdasarkan alfabet seperti di sekolah lain.Tapi dari inisial base teachernya. 7M, kelasku. Base teachernya Pak Maman. Seorang guru bahasa Jerman yang tampan namun kalau sudah marah menyeramkan seperti Hittler.
Sambil jalan menuju gedung SMP berwarna hijau, sesekali aku menengok ke arah lapangan basket. Beberapa murid laki-laki sedang bermain di sana. Salah satunya, Keenan. Murid kelas 10-K yang dikenal tampan.
"Saga! Morning!" Keenan menyapaku dari kejauhan. Aku tersenyum. Kagetnya, Keenan ternyata melemparkan bola basket ke temannya begitu saja. Meninggalkan lapangan basket dan berlari secepat mungkin ke arahku.
"Udah breakfast?" Tanya Keenan.
"Udah tadi di rumah."
"Mau lagi gak?"
"Makasih, tapi gua kenyang."
"Dih tumben lu kenyang."
"Tumben lu maksa."
"Tumben lu ga malak."
"Insyaf!"
"Hahahaha."
Kami tertawa bersama. Sedetik setelahnya aku sadar, Sabba sedang memerhatikan kami. Dia berdiri mematung dengan seragam biru tua putih di ujung kelasnya. Aku terdiam. Dia pun begitu.
"Teng tong, teng tong, teng tong, teng tong!" Bel berbunyi.
Kulihat Sabba berbalik badan dan memasuki kelas. Tanpa tersenyum. Beberapa detik tiba-tiba aku merasa bersalah karena sudah terlalu akrab dengan Keenan di depan mata Sabba. Tapi kenapa harus merasa bersalah? Aneh.
__
Sejak pertemuan jarak jauh tadi, pikiranku kacau. Lebih kacau lagi, saat ini sudah memasuki waktu snacktime. Aku berjalan bersama Gadis, Anas, dan Chia. Ya, menuju kantin. Biasanya, aku yang paling semangat untuk jajan. Kali ini kurang. Agak takut jika nanti harus ketemu Sabba. Tampaknya dia marah karena tadi aku begitu akrab di tepi lapangan basket bersama Keenan.
Di kantin, seragam putih hijau dan putih biru menyatu. Di sekolah ini ada dua kantin. Satu kantin di bawah untuk murid TK dan SD. Satu lagi dibatas untuk murid SMP dan SMA. Jadi, meskipun Sabba SMA dan aku SMP, kami masih bisa bersua di kantin atau di ruang ekskul.
Antriannya cukup panjang. Aku memilih bangku kosong di ujung barisan ketiga.
"Kalian duluan aja ya, gua lagi gak laper" ucapku kepada tiga temanku.
"Kenapa? Tumben. Lu sakit?" Tanya Anas.
"Engga tahu, lagi males aja," ucapku.
"Lu gak lagi jatuh cinta kan?' Ledek Chia.
"Orang jatuh cinta justru banyak makan!" Gadis menimpali.
Tapi candaan mereka sama sekali tidak menarik. Tidak membuatku tertawa.
Dari kejauhan, tampak seseorang senyum kepadaku. Laki-laki yang senyum dengan mata sipit. Kacamata bulat melingkari dua matanya. "Deggg!" Rasanya sama lagi.
"Lama banget gua nungguin," ujar Sabba sambil duduk di sampingku.
Saat itu aku belum bisa jawab. Bibir tidak bisa bergerak.
"Nih, seblak, pangsit, es teh, sama sempol ayam" laki-laki di sampingku ini masih mengoceh sambil menyodorkan makanan.
"Makan woi, ngapa lu diem aja," Sabba terlihat mulai bingung melihat aku membeku.
"Makasih kak" ujarku sambil senyum tapi masih dengan menahan napas.
"Gua boleh nanya gak?" Tanyanya.
"Boleh," aku menjawab setengah ragu.
"Lu deket sama Keenan karena apa? Sebuah pertanyaan yang tak diduga meluncur dari Sabba.
"Ganteng," jawabku asal dan sekenanya.
" Ga, dia ga ganteng," Sabba menimpaliku.
"Kok lu normal?" Aku balik bertanya sambil terbahak.
"Eh lu kira gua ga normal?" Sabba tertawa.
"Lah mending lu ga normal, gua lebih suka kalau lu ga punya cewe"
"Paraaaaahhh!" katanya sambil melotot.
"Kak, lu punya cewek atau single sih?" Tanyaku bersungguh-sungguh.
"Kepo" jawabnya sambil membalikkan badan ke arah kasir.
"Ih jawab!" Kutarik setengah tangannya.
"Semau tau itukah?" Dia melotot setengah meledek dengan gigi yang tersenyum agak gila.
"Iya," jawabku riuh.
"yaaaaaaaa..."
"Ya apa? Single?" Tanyaku.
"Ya adaaaaaa.." ucapnya sambil memandang atap kantin.
"Yang bener?" Tanyaku lagi.
"Iya, emang se gak keliatan itu? Emang gak gua publish sih," ujarnya santai sambil melahap ayamku.
"Hah?" tanyaku lagi berkali-kali.
"Iya hahaha," Sabba jawab dengan tertawa terbahak, santai, sesantai-santainya.
Aku masih belum bisa memastikan, jawabannya itu serius atau tidak. Alunan lagu "mata ke hati" HI-VI di kantin tiba-tiba tergantikan dengan suara bel masuk kelas.
"Jajanannya gua bungkusin ya, entar gua anter ke kelas lu," Sabba mengatakannya dengan hangat, sambil berlalu menuju kasir.
Aku berjalan sendiri menyusul tiga temanku yang sudah jauh berlalu. Ada perasaan senang, karena Sabba ternyata tidak marah. Tapi ada perasaan sedih yang tidak bisa tergambarkan, saat kembali ingat apa yang dia ucapkan. Muncul banyak pertanyaan dalam pikiranku, salah satunya "kalau sudah punya pacar, kenapa sikapnya begitu friendly terhadapku?".
Ah, mungkin dia hanya sengaja bercanda agar aku tampak terlihat dongo tadi. Sambil berjalan menunduk dan berpikir itu, tiba-tiba aku dikejutkan dengan rasa sakit yang terasa di ujung dahi.
"DUG! Gubrak!"
Sedetik kemudian aku sadar bahwa aku baru saja menabrak papan mading yang melintang di ujung lorong. Sambil memegangi kepala, ada sepasang tangan lembut dengan suara napas terengah-engah seperti habis berlari jauh. Bukan dari kenyataan tapi.
Dia mengangkatku dari lantai. Posisi jatuh yang menyakitkan. Aku masih merasa pusing untuk membuka mata.
"Saga, Saga, lu gapapa kan?"
Suara cemas itu membuat aku tersadar, aku baru saja jatuh dan laki-laki dengan senyum manis seperti gula di dapur ibu itu menolongku. Membawaku ke UKS dan membantu nurse sekolah mengobatiku.
Sabba, terima kasih. Kali ini aku hanya jatuh, tanpa embel-embel cinta di belakangnya dan kamu menolongku. Doakan itu tidak pernah terjadi, karena jika itu terjadi aku tidak tahu siapa yang akan menolongku nanti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sabba dan Saga
Teen FictionCerita ringan, lucu, unik, dan ajaib. Gimana sih rasanya nyaman sama pacar orang? Bingung kan? Sama kayak Saga terhadap Sabba. Bingung. Saga dan Sabba berkenalan di ekskul vokal, berawal dari canda, mereka berkomunikasi intens. Hampir tiap malam me...
