BAB 8

25 13 23
                                    

"Aku dimana?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Aku dimana?"

***

Celine menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri dari perasaannya yang tidak jelas, detak jantungnya berdegup kencang.

Keheningan kamar yang tadinya menenangkan, kini terasa mencekam saat tiba-tiba terdengar suara gerudukan samar dari dalam laci mejanya. Semakin ia memperhatikan itu semakin membuatnya was-was.

"Mungkin ada tikus?" gumamnya, suaranya bergetar tipis. Dengan hati-hati, ia menarik laci itu perlahan.

Di dalam laci, selain sisir dan pernak-pernik kecantikannya, hanya ada kalung biru tua itu, dengan liontin berbentuk bulan sabit yang selalu membuatnya penasaran, kini tergeletak di sudut laci. Tiba-tiba, petir menyambar di luar, diikuti gemuruh yang menggelegar. Terkejut, Celine menjatuhkan kalung itu.

Cahaya biru terang menyilaukan ketika kalung itu menyentuh lantai. "Apa-apaan ini?" Celine terkesiap, matanya membelalak tak percaya. Dengan hati-hati, ia meraih kalung itu. Seolah ada aliran energi misterius yang mengalir di dalamnya, kalung itu terasa hangat di tangannya. Tanpa sadar, ia mengalungkan kalung itu di lehernya.

Cahaya biru semakin menyilaukan, memenuhi seluruh ruangan. Celine menutup matanya rapat-rapat, merasakan tubuhnya tertarik ke suatu tempat. Ketika ia membuka matanya, pemandangan di hadapannya membuatnya terbelalak.

Sebuah rumah mewah dengan arsitektur klasik menjulang megah di hadapannya. Celine terbelalak tak percaya. "Dimana aku?" gumamnya, suaranya gemetar. Pintu rumah terbuka lebar, seakan mengundangnya masuk.

Dengan langkah ragu, ia melangkahkan kaki ke dalam. Interior rumah itu sungguh memukau. Perabotan antik, lukisan-lukisan mahal, dan kristal-kristal berkilau menghiasi setiap sudut ruangan. "Ini pasti mimpi," gumamnya, takjub. Rumah ini terasa seperti istana dalam dongeng.

Sambil berjalan menyusuri lorong yang panjang, ia mendengar suara tawa merdu. Penasaran, Celine mengikuti suara itu hingga tiba di sebuah ruang baca yang luas. Di sana, seorang pria sedang asyik membaca buku di dekat jendela besar. Mata hitamnya yang teduh bersinar ketika melihat Celine. "Selamat datang," sapanya ramah. "Aku Gerland."

Celine tertegun. Pria di hadapannya sangat tampan. Rambut hitamnya sedikit bergelombang, dan senyumnya mampu membuat jantungnya berdebar kencang. "Ini pasti mimpi," ulangnya lagi, kali ini lebih keras. Ia mencubit lengannya, berharap rasa sakit akan membuatnya sadar.

Pria itu terkekeh melihat kelakuan Celine, lantas ia menaruh buku yang tadi tengah ia baca dan berjalan mendekati Celine. "Colette," panggil pria itu lembut.

Celine mengerjap, bingung. "Ya? Siapa?" tanyanya. Celine melihat ke sekitar, tidak ada orang lain selain dirinya dan pria itu. "Aku?" Tanya Celine seraya menunjuk dirinya sendiri.

Gerland mengangguk. "Aku pikir kau sudah lupa?"

Celine semakin bingung. "Colette? Bukan, nama aku Celine," bantahnya. "Aku nggak tahu Colette itu siapa."

Gerland menunjuk kalung yang melingkar di leher Celine. "Kalung itu..." Celine mengikuti arah jari Gerland, matanya terpaku pada bandul biru tua yang familiar. "Aku selalu yakin kau akan mengenali kalung itu."

Sebuah senyuman hangat terukir di wajah Gerland. "Kamu memang selalu cantik ketika mengenakan kalung itu, meski wujudmu sangat berbeda. Tapi aku yakin, kamu pasti Colette."

Tanpa sadar, air mata mulai menetes dari sudut mata Gerland. Ia terlihat begitu merindukan seseorang. Dengan tiba-tiba, ia memeluk Celine erat-erat. Celine terkejut. Pelukan Gerland terasa begitu hangat, namun juga menyedihkan.

"Lepasin, kamu bikin aku sesak," ucap Celine, berusaha melepaskan diri. Gerland akhirnya melonggarkan pelukannya. "Colette, apa kamu masih ingat aku?" Tatapan Gerland begitu dalam, membuat Celine merasa iba.

"Maaf? Siapa yang kamu maksud Colette? Aku?" ucap Celine, suaranya gemetar. "Tapi aku bukan Colette. Aku gak ngerti kenapa aku tiba-tiba bisa ada di sini. Abis make kalung ini, aku kayak teleportasi ke tempat ini. Aku bahkan enggak tau siapa pemilik kalung ini."

Gerland menggelengkan kepalanya, air matanya mulai mengalir. "Aku yang membuat kalung itu untukmu, Colette. Kamu ingat? Sudah lama aku menunggumu. Akhirnya, kita bisa bertemu juga."

Celine merasa terpojok. Dengan suara bergetar, ia mendorong Gerland yang memeluknya erat. "Lepas!" pintanya tegas.

Mundur beberapa langkah, Celine menatap Gerland dengan tajam. "Aku gak kenal kamu ya! Dan aku gak ngerti maksud kamu apa. Jadi, stop bikin aku gak nyaman." Suaranya bergetar menahan amarah.

"Colette.." ucap Gerland.

Celine mendelik tajam. "Diam!" bentaknya, "Udah dibilangin berkali-kali, aku bukan Colette! Lo tuli?" Kesabarannya benar-benar habis.

"Heh, lu seenaknya peluk-peluk gue! Pelecehan itu!" Amarahnya memuncak.

Gerland terdiam, matanya menatap dalam ke arah Celine. "Maafkan aku, Colette. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku hanya... sangat merindukanmu."

Celine mendengus sinis. "Colette? Lo terus memanggil gue Colette. Siapa sih Colette?" Ia menunjuk kalung di lehernya. "Ini semua pasti ulah kalung sialan ini!"

Gerland menghela napas panjang. "Aku juga tidak mengerti mengapa ini bisa terjadi. Sepertinya kalung itu masih memiliki kekuatan magis yang mampu menghubungkan kita. Aku pikir kau yang datang ke sini sendiri."

"Aku? Emangnya aku kenal kamu apa?" Celine berusaha berbicara santai namun tetap menatap Gerland dengan penuh curiga. "Aku bahkan gak tau kamu itu siapa!"

Gerland meraih tangan Celine, sentuhannya lembut namun terasa begitu kuat. "Aku tahu ini sulit dipercaya, Colette. Tapi aku yakin, kita pernah bertemu di masa lalu. Kita memiliki ikatan yang sangat kuat."

Celine menarik tangannya dengan cepat. "Lepasin!" teriaknya. "Gue udah berusaha tenang, sabar, lo nya lancang terus!" Plakk Celine menampar pria itu dengan keras.

Bersambung ..

Bersambung

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
UDUMBARA [Hiatus]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang