Sudah satu minggu berlalu sejak pertemuan tak terduga antara Salsa dan Didan di mal siang itu. Sejak saat itu, hubungan mereka perlahan berubah. Mereka semakin sering berkomunikasi. Terlalu sering, bahkan.
Didan hampir selalu mengabari Salsa setiap pagi dengan pesan-pesan ringan seperti "Selamat pagi, semangat kerjanya ya," atau "Kamu udah sarapan belum?".
Di siang hari, ia kembali mengirim pesan hanya untuk memastikan apakah Salsa sudah makan siang, dan menjelang malam, ia biasanya mengirim pesan yang terasa seperti perhatian kekasih, bukan sekadar teman lama. Dan bodohnya, Salsa tak pernah benar-benar menghentikan alur itu.
Awalnya, Salsa menanggapi dengan santai. Ia berpikir, mungkin Didan hanya terlalu ramah. Tapi lama-kelamaan, pesan-pesan itu terasa melewati batas. Didan mulai menanyakan hal-hal pribadi tentang pekerjaannya, mood-nya, bahkan sesekali memuji penampilannya dengan cara yang tak lagi terdengar seperti sekadar teman lama yang kebetulan bertemu kembali.
Yang lebih membuat Salsa merasa bersalah adalah, hingga detik ini, ia belum memberi tahu Didan bahwa dirinya sudah menikah. Bahwa ia memiliki seseorang yang menunggunya pulang setiap hari, Lian, suaminya.
Salsa tahu, seharusnya sejak awal Didan tahu batasannya. Tidak perlu ada pesan setiap saat. Tidak perlu ada ajakan makan siang berdua. Tidak perlu antar jemput pulang dari studio, apalagi dengan alasan "sekalian lewat".
Tapi kenyataannya, ia tidak pernah benar-benar tegas. Setiap ajakan Didan selalu berhasil diloloskan oleh keraguannya sendiri. Ia tak pernah bisa berkata tidak dengan tegas. Ia tak pernah menjelaskan statusnya, seolah ingin menggantungkan situasi di antara mereka dalam ruang yang samar.
Selama beberapa hari terakhir, Didan bahkan menjadi semacam "penjemput tetap" bagi Salsa sepulang pemotretan. Ia menunggu tanpa diminta, lalu mengantar Salsa dengan obrolan ringan dan musik pelan di mobil. Di sela-sela perjalanan, Didan kerap kali mengajak mampir makan, atau sekadar duduk di coffee shop untuk "istirahat sebentar". Semuanya terasa seperti skenario pendekatan, dan Salsa, entah karena terlalu lelah untuk menolak, atau karena menikmati perhatian itu, tidak pernah membatasi.
Namun, di sisi lain kehidupan yang mulai Salsa abaikan, ada seorang lelaki yang mulai merasakan keganjalan. Lian, diam-diam mulai memperhatikan perubahan kecil yang terjadi pada istrinya.
Salsa yang biasanya mengabari ketika sesi pemotretan selesai, kini lebih sering pulang tanpa kabar. Ia yang dulunya selalu meminta dijemput, kini mendadak ingin pulang sendiri, atau bahkan memberi alasan bahwa dirinya ingin mampir sebentar ke tempat temannya. Lian, yang sejak awal mengenal Salsa sebagai perempuan yang jujur dan terbuka, mulai merasakan jarak yang tak biasa. Ada sekat yang pelan-pelan dibangun, dan Lian tahu, sekat itu bukan datang dari dirinya.
Bahkan ketika mereka duduk berdampingan di sofa rumah, Salsa lebih sibuk dengan ponselnya daripada sekadar bersandar dan bercerita seperti dulu. Jarinya tak berhenti mengetik, matanya terpaku pada layar, dan seringkali tersenyum kecil pada sesuatu yang tidak Lian ketahui. Setiap Lian bertanya, "Ngobrol sama siapa?"
Salsa hanya menjawab singkat, "Teman lama."
"Teman lama yang mana?" tanya Lian suatu malam, suaranya pelan namun berat.
Salsa tidak langsung menjawab. Ia hanya menunduk, pura-pura sibuk dengan aplikasinya, lalu berkata singkat, "Ada, temen kampus dulu. Nggak penting sih."
Lian diam, tapi pikirannya tidak. Ia tahu bahasa tubuh Salsa tak lagi sama. Ia merasakan perubahan itu setiap hari dan meski ia tidak ingin berprasangka, tapi logika dan hatinya sama-sama tak bisa menyangkal.
Salsa berubah.
Dan Lian bisa merasakannya, bahkan sebelum ia mendengar atau melihat sesuatu secara langsung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
