Rian sangat emosi dan menarik tangan Arumi, mengantarkannya ke taman agar Kakek dan si kembar tidak lama menunggu. Di perjalanan, Rian terus-menerus mengancam Arumi agar tidak mengadu kepada siapapun tentang perilaku Devano terhadap Arumi.
Saat sampai di taman, Arumi pun berusaha tidak memperlihatkan diri bahwa dia habis menangis karena makian Devano. Agar mengalihkan rasa sakit hatinya, ia pun mengajak si kembar bermain.
"Devi, sini main sama Kakak," ajak Arumi.
"Iya, Kak," sahutnya. "Maafkan Kak Rumi ya, yang telat datang akibatnya kalian menunggu lama di sini berjam-jam," ucap Arumi sambil menundukkan kepalanya.
"Berjam-jam? Nggak, kita di sini baru saja sampai," ucap Deva menjelaskan. "Loh, kok bisa ya? Bukankah tadi Kak Rian bilang sama Kakak kalau kalian sudah menunggu Kakak lebih dari 3 jam?" ujar Arumi menjelaskan.
"Ngga, Rumi. Kakek baru saja datang ke sini dan kamu datang setelah Kakek dan anak-anak," ujar sang Kakek menjelaskan. "Lalu mengapa Kak Rian berbohong dan sampai emosi seperti tadi, seolah-olah aku yang salah?" batin Arumi.
"Devi, kok kamu diam saja sih? Sini dong main sama Kakak dan Deva," kata Arumi yang memanggil Devi. "Kakak boleh aku nanya sesuatu?" ujar Devi sambil menghampiri Arumi.
"Bertanya soal apa?" tanya Arumi keheranan. "Kakak habis nangis ya? Dan tadi pas Kakak turun dari motor Kak Rian marahin Kakak kan?" tanya Devi.
"Eh... Engga ko, Devi. Masa iya Kakak nangis? Tadi itu Kakak kelilipan debu jadi kayak yang abis nangis deh matanya," kata Arumi berbohong.
"Benarkah itu, Kak? Kakak gak bohong kan?" tanya Devi. "Ngga, Vi. Kakak sudah besar, mana mungkin Kakak menangis," ucap Arumi meyakinkan Devi.
"Kakek gak yakin kamu ngomong kaya gitu. Kakek kenal kamu itu dari kecil, Rumi. Jadi Kakek bisa tahu di saat kamu senang dan di saat kamu sedih," ujar sang Kakek.
"Ngga, Kek. Rumi baik-baik aja kok," ujar Arumi meyakinkan sang Kakek.
Setelah beberapa jam bermain bersama Kakek dan si kembar, Arumi pun ikut pulang ke rumah sang Kakek dan menjaga Deva dan Devi agar tidur siang.
"Rumi, kalau besok ada waktu main lagi ke sini ya. Jika mau main nanti pulang sekolah, biar Kakek yang jemput kamu," ujar sang Kakek.
"Iya, Kek. Rumi kalau gak ada PR nanti sempatkan main bersama Deva dan Devi lagi," ujar Arumi.
"Iya, Rumi. Maafkan Kakek ya, karena Kakek minta tolong kamu jadi kena marah Kakak kamu," ucap sang Kakek.
"Ngga, ko, Kek. Kakek gak salah dan Rumi juga gak dimarahi sama Kak Devan," ujar Arumi.
Setelah 1 jam di rumah sang Kakek, Arumi meminta izin kepada Kakeknya untuk segera pulang karena ia tak mau merepotkan Kakeknya tersebut.
"Kek, Rumi mau pulang ya. Nanti kalau besok gak ada PR pasti Rumi kesini lagi," ujar Arumi.
"Ya sudah, ayo Kakek antarkan pakai becak tua itu, hehehehe," ujar sang Kakek diiringi tawa kecilnya. Arumi hanya tersenyum geli karena sang Kakek selalu bisa membuatnya tersenyum dan merasakan ketenangan.
"Kakek bisa aja. Ya sudah, aku langsung duduk ya, Kek," ucap Arumi seraya duduk di becak sang Kakek.
"Yok, kita berangkat, Tuan Putri," ujar sang Kakek yang mulai mengoes becaknya.
Sesampainya di rumah, Arumi mengajak sang Kakek untuk masuk ke dalam rumahnya dulu, namun Kakeknya menolak karena tidak ingin berlama-lama meninggalkan Deva dan Devi yang sedang tidur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Diary Depresiku - Telah Terbit
Teen FictionHidup dengan segala kemewahan dan ketenangan selalu di dambakan oleh semua orang, sama halnya seperti Arumi yang hidupnya dikelilingi kemewahan dan kasih sayang, namun seketika kebahagiaan itu sirna dengan secepat kilat. Semuanya berubah. Ada banyak...
