Diary depresiku - Part 25

9 4 0
                                        

Arumi merasa sakit hati dan sedih setelah ditampar oleh Rian. Ia tidak bisa menerima perlakuan kakaknya yang selalu membenci dirinya. Ia hanya bisa menangis dan merasa kesal. Pak Heru terlihat sangat marah kepada Rian namun ia tak bisa berbuat apa-apa.

"Rian, kamu tidak boleh memukul adikmu! Kamu harus belajar untuk mengontrol emosi kamu!" tegur pak Heru dengan nada yang tegas.

Rian masih terlihat kesal, tetapi ia tidak berani melawan Pak Heru. Ia hanya diam dan terus mengepalkan tangannya. Bu Farah mencoba untuk menenangkan suasana.

"Anak-anak, tolong jangan bertengkar lagi. Ayah kalian sedang sakit, kita harus menjaga kesehatan beliau." ucap Bu Farah dengan lembut.

Arumi masih merasa sakit dan sedih, tetapi ia mencoba untuk menahan air matanya. Ia tidak ingin membuat suasana lebih buruk. Pak Heru memanggil Arumi untuk mendekat.

"Arumi, jangan terlalu dipikirkan yah, papah sayang arumi." ucapnya sambil membelai tangan arumi.

Arumi merasa sedih dan merasa kesal dengan papahnya, setelah mendengarkan cerita dari kakeknya. Ia tahu dan merasa selama ini dia hidup dalam sebuah kebohongan.

Suasana rumah masih terlihat tegang, tetapi Arumi mencoba untuk tidak memperburuk keadaan. Ia hanya ingin hidup damai. Arumi berharap bahwa suatu hari nanti, Rian akan memahami dan menerima dirinya sebagai adiknya.

Pak Heru memandang Arumi dengan penuh kasih sayang. "Arumi, apa yang sedang kamu pikirkan nak?" tanya pak heru.

Dengan hati yang masih berat, Arumi mencoba melupakan kejadian tadi dan mencoba menutupi semua apa yang sebenarnya terjadi.

Arumi mengambil napas dalam-dalam dan mencoba untuk menenangkan diri. Ia tahu bahwa hidupnya tidak akan mudah, tetapi ia yakin bahwa dengan dukungan keluarga, ia bisa melewati semua kesulitan.

Malam pun tiba, pak heru sudah tertidur pulas, sedangkan bu farah sedang duduk menghadap pada pak heru, beliau begitu takut jika pak heru anfal dan takut keadaannya semakin memburuk.

Arumi mencoba untuk tidur, tetapi pikirannya masih terganggu oleh bayaknya pertanyaan di hatinya, siapa kah kedua orangtua dan bagaimana bisa arumi bisa berada di tengah-tengah keluarga ini.

Sementara itu, Bu Farah masih duduk di samping Pak Heru, memandang suaminya dengan penuh kasih sayang. Ia begitu khawatir jika Pak Heru semakin memburuk keadaannya.

"Ya Allah, tolong jaga kesehatan suamiku. " ucap Bu Farah dalam hati.

Bu Farah masih saja memandang Pak Heru dengan penuh kasih sayang, ia begitu bersyukur memiliki suami yang baik dan penyayang. Ia hanya berharap bahwa Pak Heru bisa sembuh dari sakitnya dan keluarga mereka bisa hidup bahagia kembali.

Sementara itu, Rian masih terjaga di kamarnya, ia masih merasa kesal dan tidak bisa menerima kenyataan jika keluarganya tak sekaya dulu, ia merasa semua ini terjadi karena adanya arumi dikeluarga ini. Rian mengambil napas dalam-dalam dan mencoba untuk menenangkan diri. Ia tahu bahwa ia harus belajar untuk mengontrol emosi dan menerima keadaan.

Keesokan harinya.

Arumi bangun di pagi hari dan akan bersiap-siap untuk pergi kesekolahnya. Namun sebelum itu, dia harus membantu pak heru untuk mandi, ia juga harus membelikan bubur untuk kedua orangtuanya.

"Rumi maafkan papah, papah tak berguna, papah sudah menyusahkan kamu." ucapnya.

"Gapapa kok pah, semua ini kan emang sudah seharusnya arumi lakukan untuk membalas jasa mamah dan papah." ucapnya sambil mengelap bagian pundak sang papah.

Diary Depresiku - Telah Terbit Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang