Diary depresiku : Part 10

44 24 0
                                        


#Keesokan harinya

Seperti biasa, Arumi pergi pagi-pagi untuk ke sekolah dan berjalan kaki dengan ketiga sahabatnya. Saat di perjalanan, Keyla selalu mengajak yang lain mengobrol agar perjalanan ke sekolahnya tak terasa lama.

"Rumi, apa kamu ingat sekarang bulan apa?" tanya Keyla kepada Arumi.

"Hmmm, September kan? Memangnya kenapa?" jawab Arumi dan bertanya balik pada Keyla.

"Ish, kayaknya Rumi hilang ingatan deh, atau apa mungkin dia pikun, hahahaha," ejek Keyla.

"Taulah, males kamu ejek aku mulu, emangnya ada apa sih di bulan September?" tanya Arumi dengan nada kesal.

"Rumi, sekarang tanggal berapa?" tanya Ninda.

"Hmmm, tanggal 8," jawab Arumi.

"Tuh kan, nin, 10 hari lagi ada yang ultah nih," ucap Keyla dengan gembira.

Arumi memang selalu lupa dengan ulang tahunnya, entah mungkin ia berpikir bila ia ulang tahun pasti orang-orang yang akan mengingatkannya dan memberikan kejutan padanya, jadi ia tak perlu mengingat-ingat kapan ia berulang tahun.

#Singkat cerita

Nayla mendatangi rumah kekasihnya tersebut dan ingin mengajak Arumi jalan-jalan, kini ia sangat dekat dan bahkan seperti kakak dan adik, ia merasa kasihan kepada Arumi karena ia tahu Arumi membutuhkan sosok seorang kakak.

Saat itu, Bu Farah mengobrol bersama Nayla dan merencanakan pesta ulang tahun Arumi yang ke-9 tahun dengan konsep sederhana dan mengundang sahabat di kelas dan di sekitaran rumahnya saja.

"Nay, Mamah mau buat pesta kecil-kecilan buat Arumi, soalnya 10 hari lagi dia ulang tahun," ujar Bu Farah.

"Hmm, boleh, Mah, nanti aku bantu ya ngedecor ruangannya," ucap Nayla dengan antusias.

"Terimakasih banyak ya, Sayang," ucap Bu Farah.

"Sama-sama, Mah, kan Arumi adiknya Kak Rian, jadi dia adik aku juga dong," ujar Nayla mengembangkan senyumannya.

"Andai Rian bisa sesayang ini sama Arumi," batin Bu Farah.

"Oh iya, Mah, aku mau belikan Arumi kue bolu ya," ujar Nayla.

"Ta-tapi, Nak, sudah gak apa-apa, jangan repot-repot, Mamah sama Papah cuma mau buat nasi kuning aja," ujar Bu Farah.

"Gak apa-apa, Mah, itu hadiah dari aku buat Arumi, karena waktu itu dia bilang pengen dibelikan Kak Rian kue ulang tahun yang bagus," ucap Nayla menjelaskan.

"Ya sudah, terimakasih banyak ya, Nay," ucap Bu Farah.

#Saat pulang sekolah

Arumi dan ketiga sahabatnya berniat makan bersama di kedai bakso, dan berpapasan dengan kakak kelas 6 yang selalu membully adik kelasnya, namun mereka salah memandang Arumi, mereka tak tahu Arumi seperti apa sifatnya.

"Hei, lihat deh, itu kan si cupu sama ketiga antek-anteknya, hahaha, jailin yuk," ujar Dimas menertawakan Arumi.

"Ish, mereka mau cari masalah lagi deh kayaknya," ujar Keyla.

Setelah menunggu pesokan, mereka pun menyantap bakso tersebut hingga habis, dan kemudian Dimas dan kawan-kawannya memalak Arumi.

BRAAAAK

"Heh, bocil, bagi duit dong," ujarnya sambil menggebrak meja makan Arumi.

"Ma-maaf, Kak, Rumi gak ada uang lagi, tadi sisa uang Rumi buat bayar bakso," ujar Arumi dengan memasang raut wajah memelas.

"Halah, itu bukan urusan kita lah, yang penting kalian kasih aku uang," ujarnya sambil menumpahkan air ke baju Arumi tanpa merasa bersalah.

"IYA AKU TAU ITU BUKAN URUSAN LU, TAPI AKU GAK PUNYA DUIT LAGI, DAN ASAL SITU TAU YA, AKU ITU BUKAN EMAK KAMU!" ucap Arumi penuh penekanan sambil menunjuk ke arah muka Dimas.

"Wah, berani nih anak," ucap Reza.

"Ya iyalah, Arumi mana takut sama curut got kaya kalian," ejek Keyla.

"APA KAMU BILANG?!" bentak Dimas.

"Uuuuuh, atut kali lah malahnya kak dimas," ujar Keyla dengan menirukan suara anak kecil.

Seketika Dimas ingin menampar Keyla tapi dihalangi Arumi yang langsung menumpahkan air minum ke baju Dimas.

BYUUUURRRR

"aaaaaghhhhh, dasar Tol*l apa-apaan sih, basah kan bajunya" ujarnya dengan menatap arumi penuh amarah.

Saat arumi mulai emosi penjual bakso pun menengahi mereka agar tak ada perkelahian antara para murid.

Diary Depresiku - Telah Terbit Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang