Setelah selesai makan, Arumi dan Tasya kembali ke kelas dengan semangat. Mereka berdua duduk di tempat duduk mereka dan siap untuk melanjutkan pelajaran selanjutnya.
Guru mereka memasuki kelas dengan senyum cerah. "Baik anak-anak, hari ini kita akan membahas tentang sejarah Indonesia," ucapnya.
Arumi dan Tasya memperhatikan dengan seksama saat guru mereka menjelaskan tentang sejarah Indonesia. Mereka berdua sangat antusias dan tertarik dengan materi yang disampaikan.
Setelah pelajaran selesai, Arumi dan Tasya berpamitan kepada guru mereka dan pulang ke rumah. Arumi merasa bahagia karena telah memiliki hari yang menyenangkan di sekolah.
Saat tiba di rumah, Arumi langsung menuju ke kamar ayahnya untuk memeriksa kondisinya. "Papah, aku sudah pulang," ucap Arumi dengan lembut.
Pak Heru tersenyum lemah dan membalas sapaan Arumi. "Arumi, kamu sudah makan?" tanya Pak Heru dengan suara yang lemah.
Arumi mengangguk dan membalas, "Sudah, Papah. Aku makan bakso bakar dengan Tasya di kantin sekolah."
Pak Heru tersenyum dan membelai kepala Arumi dengan lembut. "Kamu anak yang baik, Arumi. Jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatanmu," ucapnya dengan penuh kasih sayang.
Bu farah duduk di samping suaminya, kini dia sedang mengelap tangan dan kaki suaminya, sedangkan Arumi sedang megerjakan tugas sekolahnya.
Setiap hari arumi berusaha keras untuk belajar, ia juga tak lupa untuk mengurus ayah dan ibunya, hari demi hari ia lalui tanpa siapapun yang bantu.
Suatu hari, arumi sedang berkunjung kerumah kakenya. Dia menceritakan semua yang terjadi di sekolahnya.
Arumi duduk di ruang tamu rumah kakeknya, menceritakan semua yang terjadi di sekolahnya dengan antusias. Kakeknya mendengarkan dengan sabar dan penuh perhatian.
"Arumi, kamu anak yang sangat baik dan penyabar." ucap kakeknya dengan bangga. "Kakek yakin kamu akan berhasil dalam hidupmu."
Arumi tersenyum dan merasa bahagia karena mendapatkan dukungan dari kakeknya. Ia juga menceritakan tentang kondisi ayahnya yang sedang sakit.
Kakeknya mendengarkan dengan serius dan memberikan dukungan moral kepada Arumi. "Jangan khawatir, Arumi. Ayahmu akan sembuh dengan perawatan yang tepat dan dukungan dari keluarga," ucapnya dengan penuh keyakinan.
Arumi merasa lebih tenang dan percaya diri setelah berbicara dengan kakeknya. Ia tahu bahwa kakeknya selalu ada untuknya dan memberikan dukungan yang dibutuhkan.
Saat sedang mengobrol, seseorang masuk ke dalam dan mencoba membuat arumi kesal.
"Eh Rumi tumben main kesini, ah ya pasti mau minta uang ya ke kakek." cibirnya.
Arumi merasa sedikit kesal dengan ucapan tetangga sang kakek , tetapi ia mencoba untuk tidak memperdulikannya.
"Aku hanya ingin cerita tentang sekolahku dan ayahku yang sakit." ucap Arumi dengan tenang.
Kakeknya Arumi memberikan pandangan yang tajam kepada tetangga nya itu.
"Jangan berbicara seperti itu kepada cucuku! Arumi hanya ingin berbagi cerita dan mendapatkan dukungan dari keluarganya." ucap kakeknya dengan tegas.
Orang itu pun merasa sedikit tidak nyaman dengan pandangan si Kakek, tetapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Arumi merasa lega karena kakeknya membela dirinya.
"Bela aja terus si arumi itu, ah padahal dia bukan anak kandung keluarga pak heru." ucapnya menggerutu.
Arumi mendengar perkataan wanita paruh baya itu dan sagat kesal, dia langsung menanyakan hal itu kepada sang kakek.
"Apa benar kata ibu itu kek? Apa benar arumi hanya anak angkat?" ucap Arumi dengan suara yang begitu bergetar.
"Maafkan kakek nak, memang sebenarnya kamu itu bukan anak papah dan mamah kamu." ucap sang kakek merasa tak enak hati.
Arumi hanya terdiam dan menangis mendengar perkataan sang kakek.
KAMU SEDANG MEMBACA
Diary Depresiku - Telah Terbit
Roman pour AdolescentsHidup dengan segala kemewahan dan ketenangan selalu di dambakan oleh semua orang, sama halnya seperti Arumi yang hidupnya dikelilingi kemewahan dan kasih sayang, namun seketika kebahagiaan itu sirna dengan secepat kilat. Semuanya berubah. Ada banyak...
