Arumi merasa bahwa hidupnya telah berubah dalam sekejap. Ia harus menerima kenyataan bahwa dirinya bukanlah anak kandung Pak Heru dan Bu Farah. Ia merasa bahwa identitasnya telah berubah dan ia harus menemukan jati dirinya yang sebenarnya.
Kakeknya Arumi memberikan dukungan dan kasih sayang kepada Arumi. "Arumi, kamu masih tetap sama di mata kami. Kamu adalah bagian dari keluarga kami dan kami mencintaimu apa adanya," ucap kakeknya dengan penuh kasih sayang.
Arumi merasa sedikit lebih tenang setelah mendengar kata-kata kakeknya. Ia tahu bahwa ia masih memiliki keluarga yang mencintainya dan mendukungnya. Ia hanya perlu waktu untuk menerima kenyataan baru ini dan menemukan jati dirinya yang sebenarnya.
Setelah beberapa saat, Arumi memutuskan untuk pulang ke rumah. Ia ingin berbicara dengan Pak Heru dan Bu Farah tentang apa yang telah ia ketahui. Ia ingin tahu mengapa mereka tidak memberitahunya tentang hal ini sebelumnya.
Saat tiba di rumah, Arumi langsung menuju ke kamarnya.
"Ternyata benar, selama ini aku hayalah anak angkat. Pantas saja kak Rian begitu membenci aku." ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar.
Arumi terduduk lemas di pinggir kasurnya, ia mencoba untuk memejamkan matanya, kepalanya begitu pusing, ia begitu terpukul atas pengakuan sang kakek.
Arumi mengambil napas dalam-dalam mencoba untuk tenang, namun ternyata dia semakin sesak nafas dan menangis sejadi-jadinya.
Kini jam menujukan pukul 19:00 arumi keluar dari kamarnya, ia mendengar suara keributan diluar, ternyata Kakaknya pulang ke rumah dan membuat keributan dengan sang ibu.
"Kak cukup! Aku gak suka yah kakak bentak-bentak ibu!" ucap Arumi.
"DIAM KAMU ANAK SIAL!" teriaknya.
"Rian cukup! Jangan teriak-teriak, papah kamu itu lagi sakit!" ucap bu farah.
Arumi merasa kesal dan khawatir melihat ibunya. Ia tidak ingin melihat keluarga yang sudah terpecah belah semakin bertambah buruk. "Kak Rian, tolong jangan seperti ini. Ibu sudah cukup kesal dengan keadaan papah yang sakit," ucap Arumi dengan suara tinggi.
Rian tidak peduli dengan kata-kata Arumi dan terus menerus berteriak kepada ibu mereka. "Kamu selalu memihak anak angkat itu! Kamu tidak pernah memikirkan aku mah!" teriak Rian dengan nada yang tinggi.
Bu Farah mencoba untuk menenangkan Rian, tetapi Rian tidak mau mendengarkan. Arumi merasa sedih dan kesal melihat keadaan ini. Ia tidak ingin melihat keluarga yang sudah terpecah belah semakin bertambah buruk.
Pak Heru yang sedang terbaring di kamarnya mendengar keributan di luar dan memanggil Arumi dan Rian. "Arumi, Rian, apa yang terjadi? Mengapa kalian bertengkar?" tanya Pak Heru dengan suara yang lemah.
Arumi dan Rian berhenti bertengkar dan mendekati Pak Heru. Arumi menjelaskan apa yang terjadi, dan Pak Heru mendengarkan dengan sabar. "Rian, kamu harus belajar untuk mengontrol emosi kamu." ucap pak Heru dengan lembut.
Rian masih terlihat kesal, tetapi hanya hanya diam, namun tak lama dari itu, dia menampar pipi Arumi.
'PLAAAAK'
"Rian cukup!" teriak pak heru.
"AKU BENCI ANAK PEMBAWA SIAL INI!" teriak Rian.
Suasana rumah begitu kacau, bu farah hanya bisa menangis melihat anak-anaknya bertengkar. Pak heru terlihat begitu lemah, ia tidak kuat melihat pertengkaran anak dan istrinya.
Dia merasa sangat tak berguna, bertahun-tahun ia harus berbaring di atas kasur, membuat arumi tak bisa seperti anak-anak seumurannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Diary Depresiku - Telah Terbit
Novela JuvenilHidup dengan segala kemewahan dan ketenangan selalu di dambakan oleh semua orang, sama halnya seperti Arumi yang hidupnya dikelilingi kemewahan dan kasih sayang, namun seketika kebahagiaan itu sirna dengan secepat kilat. Semuanya berubah. Ada banyak...
