Diary depresiku - Part 20

9 4 0
                                        

Setelah kejadian itu Arumi masih saja berdiam diri, ia memilih untuk tidur sendiri dikamar kakaknya yang tak pernah pulang.

"Arumi, apa kamu baik-baik saja?" tanya Pak Heru dengan nada yang lembut.

Arumi mengangguk, tapi Pak Heru bisa melihat bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

"Arumi, apa Om Rudi melakukan sesuatu?" tanya Pak Heru dengan nada yang serius.

Arumi ragu-ragu sejenak sebelum menjawab. "Tidak Papa. Om Rudi tak berbuat apa-apa." ucapnya dengan suara yang tenang.

Pak Heru memperhatikan Arumi dengan seksama. Ia bisa melihat bahwa anaknya tidak sepenuhnya jujur.

"Arumi, jika ada sesuatu yang tidak beres, kamu bisa cerita kepada Papah dan mamah ya." ucap Pak Heru dengan nada yang lembut.

Arumi mengangguk, tapi masih ragu-ragu untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Ia tidak ingin membuat masalah antara Papa dan Om-nya itu.

Pak Heru memeluk Arumi dengan hangat. "Aku hanya ingin kamu bahagia dan merasa aman Nak." ucapnya dengan nada yang lembut.

Arumi merasa nyaman dengan pelukan papahnya. Ia tahu bahwa papahnya selalu ada untuknya, dan itu membuatnya merasa lebih baik.

Setelah beberapa saat, Pak Heru memutuskan untuk membicarakan masalah ini dengan Ibu Farah. Ia ingin mengetahui apakah Ibu Farah juga melihat sesuatu yang tidak beres dengan Rudi.

"Ibu, aku ingin bicara dengan kamu tentang Rudi." ucap Pak Heru dengan nada yang serius.

Ibu Farah memperhatikan Pak Heru dengan seksama. "Apa yang terjadi?" tanya Ibu Farah dengan nada yang penasaran.

Pak Heru menceritakan apa yang ia rasakan saat melihat Arumi. Ibu Farah mendengarkan dengan seksama, dan ekspresi wajahnya semakin serius.

"Aku juga merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan Arumi, aku takut Rudi melakukan sesuatu hal yang membuat anak kita ketakutan." ucap Ibu Farah dengan nada yang serius. "Aku akan membicarakan ini dengan Rudi dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi."

"Biar saja mah, aku akan menelfon Sita untuk mencari tau apa yang rudi lakukan kepada anak kita." ucap pak heru.

"Sita? Siapa sita itu pah?" tanya bu farah.

"Dia rekan kerja papah di kantor, dia sekarang sedang dekat dengan Rudi." ucapnya menjelaskan semuanya.

"Umm baiklah, semoga tidak ada yang disembunyikan Rudi ya pah dari kita." ucap bu farah.

Malam itu kembali sunyi, Arumi  terlelap dari tidurnya. Malam pun berganti pagi, cahaya matahari mulai menyinari rumah Pak Heru. Arumi bangun dari tidurnya, meregangkan badan dan menguap. Ia merasa segar dan siap untuk menjalani hari baru. Pak Heru dan Ibu Farah juga bangun pagi-pagi,

"Wah sudah bangun nih anak kesayangan papah." ucap pak heru.

"Iya pah, Rumi kan harus sekolah." ucapnya dengan senyuman maninsnya.

"Tambah pinter dan cantik yah anaknya papah." ucap pak heru sambil mengelus kepala Arumi.

Namun tak disangka, arumi menghindar dari elusan itu, ia terlihat seperti tak nyaman dan juga terlihat ketakutan.

"Nak apa yang terjadi?" tanya pak heru khawatir.

"A-aku gapapa pah." ucapnya.

"Baiklah Arumi berangkat sekolah dulu ya mah, pah." ucapnya berpamitan.

Setelah berpamitan, Arumi pun bergegas menuju sekolahnya, di sisi lain kedua orangtuanya begitu heran dengan apa yang terjadi pada anaknya.

"Mamah lihat tidak barusan? Arumi kan biasanya makin manja aja kalo papah elus kepalanya." ucap pak heru keheranan.

"Sudahlah pah, mungkin dia hanya terburu-buru saja." ucap bu farah tak ingin memperpanjang rasa takutnya.

Diary Depresiku - Telah Terbit Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang