Diary depresiku - Part 11

39 19 0
                                        


#Saat di rumah

"Rumi, kamu ko bajunya berantakkan gitu sih? Kamu kenapa?" tanya Nayla khawatir.

"Sttttt, Kak, jangan terlalu keras bicaranya, nanti ketahuan Mamah," ujar Arumi berbisik.

"Eh, maaf, memangnya kenapa sih, Dek? Sini, coba cerita sama Kakak," ujar Nayla.

"Hmm, aku tadi di palak kakak kelas, trus yaudah deh kita berantem," jawab Arumi menjelaskan.

"Hmmm, kurang ajar banget yah tu anak, gak tau apa kakaknya Rumi itu harimau," canda Nayla.

"Hahaha, Kakak bisa aja," ujar Arumi tertawa.

"Yaudah, ganti bajunya sana, nanti ketauan Kak Rian, yang ada kamu kena marah karena baju sekolah kamu acak-acakan gitu," ujar Nayla.

"Iyah, Kak, Rumi ke kamar dulu yah, bay, Kak," ucap Arumi sambil melangkah ke arah kamar.

#Setelah bereskan pakaian dan makan siang

Arumi diajak jalan-jalan oleh Nayla mengendarai motornya ke alun-alun dan ke pasar.

"Oh iya, Kak, emangnya Kak Rian ngizinin Kakak ajak aku jalan-jalan?" tanya Arumi.

"Ngizinin dong, pokoknya kita senang-senang aja yah," ujar Nayla tersenyum kepada Arumi.

"Yaudah, ayo, Kak, kita jalan-jalan," ujar Arumi dengan senang.

Setelah berjam-jam berkeliling, Arumi dan Nayla pun pulang membawa beberapa cemilan untuk Mamah dan Papahnya.

"Assallamualaikum, Mah... Pah, Rumi pulang," ucap salam Arumi.

"Wa'alaikumsallam, gimana jalan-jalannya? Seru gak?" tanya sang ayah.

"Wuiiiih, seru banget, Pah, Rumi di traktir makan bakso ayam sama Kak Nayla," ujar Arumi mengembangkan senyumannya.

"Waaah, enak tuh, Mamah sama Papah di beliin gak?" tanya sang ibu.

"Pastinya dong, ini Mah, Pah, Nay bawain makanan kesukaan Mamah sama Papah," ucap Nayla sambil menyodorkan dua kantung plastik.

"Waah, makasih banyak yah, Nay," ucap sang ibu.

"Sama-sama, Mah," jawab Nayla.

#Beberapa jam kemudian

Nayla pun berpamitan kepada kedua orangtua Arumi untuk pulang ke rumahnya.

"Mah... Pah, Nay pulang dulu yah, titip salam yah buat Kak Rian," ujarnya sambil mencium telapak tangan Bu Farah dan Pak Heru.

Setelah Nayla pulang, Arumi mengobrol bersama kedua orangtuanya.

"Mah, kira-kira Om Ferry kangen gak yah sama Rumi? Om Ferry masih inget gak yah sama aku?" tanya Arumi.

Ayahnya hanya tersenyum melihat putri kesayangannya sedang merindukan pamannya itu.

"Pasti dong, dia kangen sama Rumi, kan Om Ferry deket banget sama Rumi," ujar sang ibu.

"Iyah, Sayang, bener kata Mamahmu, Om Ferry itu selalu inget sama kamu dan pasti dia akan datang untuk bermain lagi sama kamu," ujar sang ayah.

Om Ferry itu adalah saudara dari Pak Heru, ia berstatus duda dan hanya memiliki 2 anak, sosok Om Ferry ini selalu bisa membuat seseorang tertarik kepadanya, bisa di bilang ia adalah playboy, rajanya buaya, karena banyak sekali wanita yang selalu termakan rayuannya namun semua tak akan bertahan lama.

Malam pun tiba, Arumi selalu menonton film di ruang tamu bersama ayah dan ibunya, dimalam itu Arumi begitu bahagia sebab dia seharian merasakan kasih sayang dari Nayla kekasih kakaknya.

Saat sedang asik menonton televisi, sang ayah membuka obrolan dengan Arumi, karena baru kali ini putrinya selalu tersenyum seharian.

"Nak, apa ada sesuatu yang membuat kamu bahagia?" tanya sang ayah.

"Ada dong, Pah, Rumi bahagia sebab memiliki kakak ipar seperti Kak Nay, dia baik ya, Pah, penyayang juga penyabar," ucap Arumi sambil senyum-senyum sendiri.

"Iya, Nak, dia wanita yang baik, semoga aja kakakmu dan Kak Nay langgeng sampai ke pelaminan," ucap ayah Arumi.

"Woaaah, ia bener banget, Pah, pasti tiap hari Rumi bahagia banget, Kakak juga ga galak lagi sama Rumi." ucapnya.

Diary Depresiku - Telah Terbit Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang