Arumi membantu Pak Heru untuk mandi dan membelikan bubur untuk kedua orangtuanya. Ia melakukan semua itu dengan penuh kasih sayang dan kesabaran.
Pak Heru memandang Arumi dengan penuh kasih sayang. Ia begitu bersyukur memiliki anak seperti Arumi yang penyayang dan peduli.
Sementara itu, Rian terlihat keluar dari kamarnya, ia pergi tanpa berpamitan pada kedua orangtuanya.
Setelah selesai membantu Pak Heru, Arumi bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Ia berharap bahwa hari ini akan menjadi hari yang lebih baik daripada kemarin.
Bu Farah memandang Arumi dengan penuh kasih sayang. "Arumi, hati-hati di jalan, ya. Jangan lupa makan siang." ucap Bu Farah mengingatkan arumi.
Arumi mengangguk dan tersenyum. "Iya, mah. Arumi akan hati-hati," ucapnya sebelum pergi ke sekolah.
Arumi berjalan kaki ke sekolahnya dengan semangat. Ia tidak mengeluh tentang jarak yang jauh atau cuaca yang panas. Ia hanya fokus pada tujuannya.
Saat berjalan, Arumi memikirkan tentang pelajaran yang akan dibahas hari ini. Ia berharap bahwa hari ini akan menjadi hari yang produktif dan menyenangkan.
Ketika tiba di sekolah, arumi terkejut karena pintu pagarnya sudah tertutup, satpam juga sudah siap siaga berjaga didepan pagar.
"Selamat pagi pak beni" ucap Arumi kepada guru yang sedang duduk berjaga disamping pak satpam.
"Pagi juga arumi, sepertinya kamu sudah menjadi langganan telat ke sekolah ya." ucap pak beni dengan tatapan yang begitu sinis.
"Ma-maaf pak, Rumi harus membantu mamah dan papah dulu." kata Arumi dengan gugup.
"Alasan itu sudah berulang kali kamu ucapkan, saya sudah muak." ucap pak beni.
"Ma-maaf pak ben." ucap arumi dengan kepalanya yang menunduk.
Saat sedang di interogasi oleh guru itu, arumi terkejut melihat guru olahraga yang menghampirinya.
"Ada apa ini pak ben?" tanyanya.
"Biasalah pak, si arumi terlambat lagi." ucapnya sambil menunjuk wajah arumi.
"Sttt, tidak usah kasar-kasar ngomongnya pak, biar saya yang kasih dia mau hukuman." ucapnya.
"Rumi mohon pak, jangan hukum Rumi." ucap arumi memasang wajah memelas.
"Tenang saja, hukumannya gak susah kok. Kamu cukup bantu bapak untuk mengecek satu per satu kertas ulangan milik kakak kelas kamu minggu lalu." ucapnya.
"Itu lama dong pak, masa di hukum sampai pelajaran pertama selesai." ucap arumi merasa keberatan, karena ia tak ingin ketinggalan pelajaran pertama.
Arumi merasa tidak nyaman dengan hukuman yang diberikan oleh Guru Olahraga itu, Ia berharap bisa melewatkan pelajaran pertama, tetapi ia tidak bisa menolak hukuman yang diberikan.
"Baiklah Pak. Rumi akan membantu bapak memeriksa kertas ulangan itu," ucap Arumi dengan pasrah.
Pak Guru Olahraga tersenyum dan mengangguk. "Bagus, kamu pasti bisa melakukannya dengan baik. Sekarang, mari kita mulai memeriksa kertas ulangan itu," ucapnya.
Arumi mengangguk dan mengikuti Pak Guru Olahraga ke ruangan pribadinya. Ia merasa sedikit gelisah karena harus berduaan diruangan yang sepi.
Sementara itu, di kelas, teman-teman Arumi sedang mengikuti pelajaran pertama dengan giat. Mereka membahas tentang materi baru dengan guru.
Arumi merasa sedikit iri dengan teman-temannya yang bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Ia berharap bisa bergabung dengan mereka dan belajar bersama.
Namun, Arumi harus menerina hukumannya karena dia sudah melakukan kesalahan lagi, saat sedang mengecek kertas ulangan, arumi terkejut jika salah satu temannya masuk ke ruangan itu, dan ternyata dia juga sama seperti arumi, terlambat datang ke sekolah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Diary Depresiku - Telah Terbit
Teen FictionHidup dengan segala kemewahan dan ketenangan selalu di dambakan oleh semua orang, sama halnya seperti Arumi yang hidupnya dikelilingi kemewahan dan kasih sayang, namun seketika kebahagiaan itu sirna dengan secepat kilat. Semuanya berubah. Ada banyak...
