Arumi kini telah memasuki jenjang SMP, ia menjadi lebih dewasa dan mandiri. Ia memiliki teman-teman baru dan menikmati waktu bersama mereka. Meskipun demikian, Pak Heru dan Ibu Farah masih terus memantau Arumi dengan seksama, mereka ingin memastikan bahwa Arumi tetap aman dan bahagia.
Arumi tumbuh dewasa dan mencoba melupakan kejadian malam itu. Ia fokus pada pendidikannya dan mengembangkan dirinya. Meskipun kenangan itu masih terngiang, Arumi berusaha untuk tidak membiarkannya mempengaruhi kehidupannya.
Dengan dukungan keluarga dan teman-temannya, Arumi mulai menemukan jati dirinya dan membangun kehidupan yang lebih baik. Ia belajar untuk menghadapi tantangan dan menemukan kekuatan dalam dirinya sendiri.
Tetapi kini Pak Heru terbaring di tempat tidur, tubuhnya lemah dan tidak bisa bergerak dengan leluasa. Stroke yang dialaminya membuat keseimbangan tubuhnya terganggu, dan ia membutuhkan perawatan intensif dari keluarga.
Arumi merasa sangat sedih melihat kondisi ayahnya yang semakin lemah. Ia berusaha untuk menjadi kuat dan mendukung ayahnya dalam proses pemulihan. Ibu Farah juga sangat khawatir dan berusaha untuk merawat Pak Heru dengan penuh kasih sayang.
"Arumi, tolong bantu ayahmu dengan segala kebutuhan sehari-hari." ucap Ibu Farah dengan suara yang terguncang.
Arumi mengangguk dan berusaha untuk membantu ayahnya sebaik mungkin. Ia menjadi lebih dekat dengan ayahnya dan berusaha untuk memahami setiap kebutuhan dan keinginan ayahnya.
Meskipun kondisi Pak Heru tidak stabil, Arumi dan Ibu Farah berusaha untuk memberikan dukungan dan motivasi agar Pak Heru bisa pulih secepat mungkin. Mereka berdua berharap bahwa dengan perawatan yang tepat dan dukungan keluarga, Pak Heru bisa kembali sehat dan bahagia.
Sedangkan Rian sekarang bekerja di sebuah tempat angkringan, dia tak pernah pulang, bahkan menengok ayahnya saja tidak setiap hari.
Suatu hari arumi sedang melakukan aktivitas olahraga disekolahnya, guru olahraganya sangatlah baik, arumi sangat berarti menghargai guru olahraganya, sang guru begitu perhatian kepada arumi, bahkan arumi selalu diberikan uang makan olehnya.
"Baik anak-anak kita istirahat dulu yah." ucapnya.
"Baik pak." kata semua murid.
"Arumi apa kamu sudah makan?" tanya sang guru.
"Belum pak, Rumi lagi irit-irit uang, karena mamah kasih aku uang 10rb saja." kata arumi.
Guru olahraga Arumi tersenyum dan memberikan uang kepada Arumi. "Ambil ini, Arumi. Makanlah dengan baik agar kamu bisa berolahraga dengan maksimal," ucapnya dengan penuh perhatian.
Arumi merasa terharu dengan perhatian gurunya. Ia mengambil uang yang diberikan dan mengucapkan terima kasih dengan sungguh-sungguh. "Terima kasih, Pak. Bapak sangat baik hati," kata Arumi dengan senyum cerah.
Guru olahraga Arumi tersenyum dan membelai kepala Arumi dengan lembut. "Kamu anak yang baik, Arumi. Jangan ragu untuk meminta bantuan jika kamu membutuhkannya," ucapnya dengan penuh kasih sayang.
Arumi merasa bahagia dengan perhatian gurunya. Ia merasa bahwa ada orang yang peduli dan memperhatikan dirinya, dan itu membuatnya merasa lebih percaya diri dan termotivasi untuk belajar dan berkembang.
Arumi pun memutuskan untuk ke kantin, ia ingin membeli bakso bakar kesukaannya. Saat di kantin, arumi bertemu dengan temannya.
Mereka pun duduk dibangku yang sama untuk menikmati makanan yang sudah mereka pesan.
"Rumi ayah kamu gimana kabarnya?" tanya Tasya.
"Papah aku sekarang masih aja makan bubur sya, kadang sebelum pergi ke sekolah ya aku bantu mamah mandiin papah."
"Waduh separah itu ya Rumi?" tanyanya.
"Iya, makannya aku sering terlambat ke sekolah." kata arumi.
Mereka pun kemudian kembali ke kelasnya dan melanjutkan pelajaran selanjutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Diary Depresiku - Telah Terbit
Novela JuvenilHidup dengan segala kemewahan dan ketenangan selalu di dambakan oleh semua orang, sama halnya seperti Arumi yang hidupnya dikelilingi kemewahan dan kasih sayang, namun seketika kebahagiaan itu sirna dengan secepat kilat. Semuanya berubah. Ada banyak...
