Diary depresiku - part 27

13 4 0
                                        

"Halo, Arumi. Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya temannya dengan ramah.

Arumi menunjuk ke tumpukan kertas ulangan di depannya. "Aku sedang membantu Pak Guru memeriksa kertas ulangan. Aku terlambat lagi, jadi aku harus menerima hukuman ini." ucap Arumi dengan nada yang sedikit sedih.

Temannya mengangguk memahami. "Aku juga terlambat , tapi aku terjebak macet di jalan." ucap temannya dengan nada yang sedikit frustrasi.

Arumi tersenyum simpati. "Aku tahu bagaimana rasanya. Tapi aku harus membantu orang tua dulu sebelum berangkat ke sekolah, tapi pak ben ga percaya sama aku." ucap Arumi.

Temannya mengangguk. "Aku rasa kita berdua sama-sama kurang beruntung hari ini." ucap temannya dengan tersenyum.

Arumi tersenyum kembali. "Ya, mungkin kita bisa saling membantu memeriksa kertas ulangan ini," ucap Arumi.

Temannya mengangguk setuju. "Baiklah, aku akan membantu kamu." ucap temannya.

Bersama-sama, Arumi dan temannya memeriksa kertas ulangan dengan lebih cepat. Mereka berdua bekerja sama dengan baik dan menyelesaikan tugas mereka.

Jam pelajaran pertama sudah selesai, kini para siswa dan siswi sudah di izinkan untuk beristirahat, sella dan arumi masih saja mengerjakan hukumannya, tiba-tiba suara langkah kaki terdengar begitu jelas, dan seorang guru datang menghampiri mereka berdua.

"Wah sudah hampir rapih, terimakasih yah anak-anak." ucap pak Dio.

"Iya pak, pak maaf banget sella mau ke kantin ya pak, sella laper." kata sella.

"Baiklah silahkan." ucap pak Dio.

Arumi terdiam dan tak berani memandang gurunya, ia meminta izin pada gurunya untuk ikut dengan sella.

"Pak ma-maaf, apa boleh Rumi ke kantin juga." kata Arumi.

"Eits tunggu dulu dong, bapak belum selesai ngobrol sama kamu." ucapnya sambil memegang pundak Arumi.

Arumi merasa tak enak dengan posisi gurunya itu, ia berusaha memindahkan badannya ke samping, namun sang guru masih saja enggan melepaskan Arumi.

"Dengarkan bapak, apa kamu butuh sepeda? Jika ia, maka bapak akan membelikannya khusus untuk kamu." ucapnya.

"Ngga usah pak, Rumi sudah terbiasa jalan kaki." ucap arumi.

"Lihatlah kaki ini, pasti kamu kecapean kalo terus menerus jalan kaki." ucapnya sambil mengelus kaki kanan arumi.

Detak jantung arumi semakin tak karuan,  dia merasa gurunya kali ini bersikap berbeda dari sebelumnya.

"Pak maaf jangan seperti itu, aku risih." ucap arumi dengan nada yang begitu sopan.

"Ayolah rumi, kamu hanya harus menemani saya aja, maka saya akan menuruti semua permintaan kamu." ucapnya, kini tangan itu menyentuh dan membelai wajah mulus arumi.

Dengan hati yang tak karuan, arumi mencoba menepis tangan gurunya, ia berusaha untuk melepaskan dirinya, ia terus memberontak dan memaki-maki gurunya, hingga akhirnya ia bisa mengambil kesempatan untuk menginjak kaki sang guru.

"Maaf atas prilaku Rumi pak, tapi arumi bukan wanita murahan yang bisa bapak sogok dengan uang!" ucap arumi dengan tegas.

Arumi berlari menjauhi ruangan itu, dia menangis mengingat kejadian kelam yang menimpanya, kejadian itu harus kembali terulang lagi di sekolahnya.

Bahkan orang yang melakukannya pun adalah orang yang sangat ia hormati, orang yang ia anggap baik, karena hanya pak Dio lah yang selalu ada untuk arumi, pak Dio lah guru yang paling sering membela arumi. Namun ternyata dia tak beda dengan om-nya yang bejat itu

Kini arumi sedang duduk di toilet sekolah, ia mencoba untuk menenangkan dirinya, seluruh badannya bergetar hebat, kejadian demi kejadian berputar dikepalanya, ia tak bisa menyangkal perasaannya yang kini semakin kacau.

Diary Depresiku - Telah Terbit Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang