Hari ini adalah hari kepulangan pak heru setelah dia di rawat 3 hari di rumah sakit, ayah Arumi memanggilnya untuk mendekat. "Arumi, papah ingin bicara denganmu." katanya dengan suara lemah. Arumi mendekat dan memegang tangan ayahnya. "Apa itu, Ayah?" tanyanya dengan khawatir.
Ayah Arumi menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara. "Arumi, papah ingin kamu tahu bahwa papah selalu menyayangi kamu, tidak peduli apa yang terjadi. Kamu adalah anak kesayangannya papah, papah bangga memiliki kamu," katanya dengan mata yang berkaca-kaca.
Arumi terharu oleh apa yang papahnya katakan, ia menjadi luluh dan merasakan simpati kembali kepada ayahnya.
"Tuhan aku salah, aku telah menyalahkan orang yang salah, papah sangat baik sama aku, tapi aku malah membenci papah karena om Rudi yang berbuat jahat sama aku, aku salah karena telah membenci papahku sendiri." batin Arumi.
"Rumi sebenarnya apa yang terjadi? Semenjak papah pulang dari jakarta waktu itu kamu langsung berubah menjadi anak yang pendiam?" kata pak heru.
"Gak ada pah, aku baik-baik saja." katanya berbohong.
Ayah Arumi memandangnya dengan mata yang penuh kasih sayang, seolah-olah dia tahu bahwa Arumi tidak mengatakan yang sebenarnya.
"Arumi, papah tahu bahwa kamu tidak baik-baik saja. Papah bisa melihat perubahan pada dirimu. Apa yang terjadi, Rumi? Kamu bisa cerita pada papah," katanya dengan lembut.
Arumi merasa terharu oleh kata-kata ayahnya. Ia ingin memberitahu ayahnya tentang apa yang sebenarnya terjadi, tapi ia masih ragu-ragu. Ia takut ayahnya tidak bisa menerima kebenaran.
"Tidak ada apa-apa pah, aku hanya sedang stres dengan sekolah." kata Arumi, mencoba untuk mengalihkan perhatian.
Ayah Arumi memandangnya lagi, seolah-olah dia tidak percaya sepenuhnya pada jawaban Arumi. "Arumi, papah ingin kamu tahu bahwa papah selalu ada untukmu. Apa pun yang terjadi, papah akan selalu mendukungmu," katanya dengan serius.
"Baiklah pah." ucap Arumi.
Keesokan harinya arumi kembali tak bersekolah, ia memilih diam dirumah, hidupnya kini tak karuan, ia takut kesekolahnya karena kejadian itu saat bersama guru olahraganya.
Kini hari-hari Arumi hanya menunggu kedua orangtuanya, ia juga enggan memberi tau mamah dan papahnya tentang apa yang sudah terjadi pada dirinya dimasalalu dan kejadian saat di sekolahnya.
Malam pun tiba, suasana rumah menjadi lebih tenang karena air hujan yang membuat suara-suara di luar rumah menjadi lebih lembut. Arumi duduk di samping sang ayah, menatap keluar ke arah hujan yang turun dengan derasnya. Ia merasa suasana hujan membuatnya lebih rileks dan bisa memikirkan banyak hal.
Suara hujan yang terus-menerus membuat Arumi merasa lebih tenang, dan ia mulai memikirkan tentang percakapan yang ia lakukan dengan ayahnya tadi siang. Ia merasa bersalah karena tidak bisa memberitahu ayahnya tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Arumi menarik napas dalam-dalam, membiarkan suara hujan memabukinya. Ia berharap bahwa hujan bisa membersihkan pikirannya dan membuatnya lebih jernih dalam berpikir.
Jam menunjukkan pukul 22:00 Arumi dan ibunya sedang berbincang-bincang, namun ada keanehan pada pak heru, di tak bergerak dan bahkan wajahnya lebih tenang dari sebelumnya. Arumi menghampiri papahnya dan memncoba membangunkan papahnya.
"Pah bangun, Aruni mau kasih papah obat." ucapnya sambil mengguncang-guncagkan tubuh sang ayah.
Namun ayahnya takn merespon sama sekali. Arumi merasa panik dan khawatir ketika ayahnya tidak merespons. Ia mengguncang-guncangkan tubuh ayahnya lagi, tapi tidak ada respons. "Ibu, Ibu! Papah tidak sadarkan diri!" seru Arumi dengan suara panik.
Ibunya langsung menghampiri mereka dan memeriksa kondisi Pak Heru. Setelah beberapa saat, ibunya menelfon Rian untuk membantunya.
Arumi merasa sangat khawatir dan takut kehilangan ayahnya. Ia berharap bahwa ayahnya masih bisa diselamatkan dan kembali sehat seperti biasa. Tapi, ia juga merasakan ada sesuatu yang tidak beres, dan itu membuatnya semakin panik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Diary Depresiku - Telah Terbit
Teen FictionHidup dengan segala kemewahan dan ketenangan selalu di dambakan oleh semua orang, sama halnya seperti Arumi yang hidupnya dikelilingi kemewahan dan kasih sayang, namun seketika kebahagiaan itu sirna dengan secepat kilat. Semuanya berubah. Ada banyak...
