Kini Arumi duduk di toilet sekolah, mencoba menenangkan diri di tengah badai emosi yang mengacaukan pikirannya. Seluruh tubuhnya bergetar hebat, seolah-olah gempa bumi melanda dalam dirinya. Kejadian demi kejadian berputar di kepalanya, mengingatkan dirinya pada luka-luka yang belum sembuh.
Air matanya mengalir deras, seperti hujan yang tak kunjung reda. Ia mencoba menahan tangisnya, tapi semakin ia berusaha, semakin deras air mata itu mengalir. Ia merasa terjebak dalam pusaran emosi yang tak terkendali, tak tahu bagaimana cara untuk keluar dari sana.
Di dalam keheningan toilet sekolah, Arumi membiarkan dirinya menangis. Ia membiarkan semua emosi yang terpendam keluar, melepaskan beban yang selama ini menghimpit hatinya. Ia berharap, dengan menangis, ia bisa merasa sedikit lebih lega, sedikit lebih tenang.
Arumi mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sebelum masuk ke dalam kelas. Ia menghapus air mata yang masih membasahi wajahnya, berharap tidak ada yang menyadari bahwa ia baru saja menangis. Dengan langkah yang mantap, ia memasuki kelas, berusaha untuk menampilkan diri sebagai siswa yang biasa saja, meskipun badai emosi masih bergolak di dalam hatinya.
Guru dan teman-temannya memandanginya, tapi Arumi tidak membiarkan pandangan mereka mengganggunya. Ia tahu bahwa ia harus fokus pada pelajarannya, meskipun pikirannya masih dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Ia mengambil tempat duduknya, berusaha untuk menampilkan diri sebagai siswa yang siap belajar.
Namun, meskipun ia berusaha untuk fokus, pikirannya masih terus melayang ke masa lalunya, ke pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab, dan ke luka-luka yang belum sembuh. Ia tahu bahwa ia harus menghadapi kenyataan, tapi ia belum siap untuk melakukannya. Untuk sekarang, ia hanya bisa berharap bahwa waktu akan memberinya kekuatan untuk menghadapi apa pun yang akan datang.
Arumi sedang fokus menulis, tiba-tiba salah satu guru mata pelajaran lain datang ke kelasnya. Guru tersebut memandang sekeliling kelas, seolah-olah mencari sesuatu atau seseorang. Arumi merasa sedikit terganggu, tapi ia berusaha untuk tetap fokus pada tulisannya.
Guru tersebut kemudian mendekati meja guru mata pelajaran yang sedang mengajar, dan mereka berbisik-bisik tentang sesuatu. Arumi tidak bisa mendengar apa yang mereka diskusikan, tapi ia merasa sedikit penasaran.
Setelah beberapa saat, guru tersebut berpaling ke arah Arumi dan memanggil namanya. "Arumi, bisa kamu ke ruang guru sebentar?" Arumi merasa sedikit kaget, tapi ia berusaha untuk tetap tenang. "Ya, Bu." jawabnya, sambil menutup bukunya dan berdiri dari tempat duduknya.
Arumi mengikuti guru itu, dan masuk keruang guru, disana ada pak Dio juga. Hal itu membuat arumi tak nyaman, ia takut jika ini menyangkut pada hal yang sudah terjadi padanya dan pak Dio. Ibu Siska pun duduk di mejanya, ia memcoba mengajak Arumi bicara.
"Rumi, ibu mendapatkan telfon dari ibu kamu, katanya ayah kamu sedang tidak baik-baik saja." ucapnya.
"Maksudnya apa buk?" tanya arumi sedikit panik.
"Ibu kamu memberi tau ibu, jika ayahmu anfal lagi, beliau akan dibawa kerumah sakit jika kamu pulang nanti, sebaiknya sekarang kamu pulang yah." ucap bu siska.
"Ba-baik bu." kata arumi
Arumi berpamitan kepada Bu siska, lalu langsung menuju ke pintu keluar dengan langkah yang cepat. Ia begitu panik dan takut jika suatu hal terjadi pada ayahnya.
Setelah tiba di rumah, Arumi membantu ibunya untuk memberikan pak heru obat.
Arumi duduk di atas kasurnya, ia menangis sambil menulis di buku Diary-nya.
------------------------------------------------------------
Bayang-bayang masa lalu masih menghantui, seperti kabut yang tak pernah hilang. Luka-luka di hati yang dalam, seperti luka yang tak pernah sembuh, membekas seperti tato yang tak bisa dihapus. Dalam keheningan, suara-suara dikepala terdengar seperti bisikan angin, mengingatkanku pada kenangan yang tak pernah bisa diubah.
Aku bertanya pada diriku sendiri, apa mungkin luka-luka itu bisa menjadi lebih ringan? Apakah senyuman itu bisa kembali menemani langkah-langkah kecilku? Apakah aku bisa pulih Dimanakah aku harus berpijak?
Mungkin hari ini aku hanya perlu menuliskan semua ini, dan berharap bahwa suatu hari nanti, aku bisa menemukan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu.
_Sampai jumpa lagi, diriku._
— Arumi Riyadi
------------------------------------------------------------
Arumi tak bisa membohongi dirinya sendiri, semua yang terjadi di dalam hidupnya bagaikan mimpi buruk, ia hanya bisa menangisi semuanya.
Hari demi hari ia lewati dengan penuh tanda tanya dihatinya, ia begitu ingin tau siapa ibu dan ayah kandungnya, namun ia tak ingin melukai hati orangtuanya yang sudah mengurusnya sedari bayi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Diary Depresiku - Telah Terbit
Fiksi RemajaHidup dengan segala kemewahan dan ketenangan selalu di dambakan oleh semua orang, sama halnya seperti Arumi yang hidupnya dikelilingi kemewahan dan kasih sayang, namun seketika kebahagiaan itu sirna dengan secepat kilat. Semuanya berubah. Ada banyak...
