DILARANG PLAGIAT⚠️
"masih adakah rasa itu untukku Ara?" -Alfar
"ijinkan saya menjadi penyempurna separuh agamamu Aira" -Arzan
"yaa Allah, kenapa begitu sulit pilihan yang Kau beri?" -Amara
23 Agustus 2024
Dengan segala takdir yang masih menjadi rahasia, tolong temani perempuan yang mudah menangis ini Yaa Rabb.
-Amara Zuhaira Eleanor-
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
setelah kejadian tadi pagi, Amara semakin menentang perjodohan ini. dan Ghaidan sudah berusaha membujuk Amara semampu yang ia bisa. namun, Amara tetaplah Amara. si gadis keras kepala dengan segala kebijakannya.
keheningan menjadi kesukaan Amara disaat hiruk pikuk kehidupan terasa begitu berat di bahu. Amara duduk di depan teras ndalem, menyandarkan kepalanya ke dinding dengan mata terpejam.
hingga sebuah suara membuatnya membuka mata.
"Assalamualaikum warahmatullah"
"Wa'alaikumussalam warahmatullah" Amara kembali memejamkan matanya, ia tak mengindahkan kehadiran sosok itu.
"Ara? Bisa kita berbicara?"
sang empu yang di tanya malah diam dengan tenang tak ada niatan menyahut sepatah katapun.
"Maaf, maafkan saya Ara"
Amara merasa risi dengan kehadiran Alfar. dulu, Amara sangat mengidamkan part ini, dimana Alfar menemuinya dan chit chat walaupun hanya bahasan kecil. namun itu dulu, kini ia tak perlu.
"Tidak usah diungkit kembali, yang namanya dulu bukan berarti selalu" Amara bangkit dari duduknya "Terimakasih sudah menjadi bagian cintanya Amara, juga-," Amara berhenti sejenak, mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya.
"-sakitnya Amara." sambungnya
Alfar diam seribu bahasa, ntah maaf seperti apa yang harus ia berikan kepada Amara. sungguh saat itu, ia sengaja memberikan perkataan pedas bukan untuk menyakiti gadis itu, melainkan agar gadis itu untuk selalu nempel kepadanya.
dulu, jika Alfar memberikan chat yang tidak mengenak di hati, maka Amara akan memintanya untuk menemui gadis itu. namun siapa sangka, ternyata itu di luar prediksinya?!