fifthth

1.3K 108 28
                                        

بِسْمِ اللَّهِ الرحمن الرَّحِيمِ

ෆෆෆ

ෆෆ

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

📿📿📿📿📿

bukan tempat nya yang sempit, hatinya saja yang kurang lapang.
bukan rezekinya yang sedikit, bersyukurnya saja yang kurang.

bukan rezekinya yang sedikit, bersyukurnya saja yang kurang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


part ini sebagian di hapus untuk keamanan penerbitan




























_________________

"Kamu ingat arti dari QS.Al-Baqarah; 216?
boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" terang Dafri

"Ya. Amara tau dan Amara paham. tapi kalau kita bisa berhati-hati kenapa tidak?!" elak Amara. sungguh matanya kini sudah menggelap kepada pria bernama Arzan itu.

Ziya dan Dafri menghela napas pasrah, ternyata masih sama dengan Amara kecil. keras kepala. "Yaudah mungkin kamu belum bisa memaafkan dia sekarang, tapi semoga kelak kamu bisa memaafkannya yaa Amara. Tante hanya bisa berdo'a yang terbaik"

"Ajak Amara untuk mengobati luka-lukanya" perintah Dafri

"Ayo sayang" ajak Ziya. Amara pun akhirnya mengikuti kemana Ziya membawanya

beberapa menit kemudian. Amara pamit untuk ke toilet "Tante temani yaa sayang" tawar Ziya. Amara tersenyum "Terima kasih sebelumnya, tidak usah tan, lagian Amara cuman cuci muka doang ko" pamitnya

saat akan menuju kamar mandi Amara melihat dua orang yang ia kenali, matanya menyorot rindu kepada salah satu orang itu dan memberikan tatapan sulit diartikan kepada orang disebelahnya.

saat Amara akan beranjak ia tak sengaja mendengar obrolan mereka lebih tepatnya saat Alfar menceritakan masa lalu mereka. Amara senyum-senyum tidak jelas mendengarnya. karena jarak mereka yang lumayan dekat akan tetapi tak ada yang menyadari keberadaan Amara.

hingga senyumnya luntur kala mendengar namanya yang di tolak mentah-mentah. "Sebenci itukah Al?" lirihnya, air matanya lolos begitu saja. sakit itulah yang sedang Amara rasakan saat ini.

seseorang yang ia kagumi bertahun-tahun menyimpan rasa benci terhadap dirinya. tapi atas dasar apa? pikirnya

Amara akui ia bodoh, ia pikir respon Alfar selama ini hanya untuk menyangkal perasaan terhadap dirinya dan akan ia terima di waktu yang tepat.

namun? Amara begitu larut dalam rasa kagumnya ia sudah terlanjur tenggelam dalam kekagumannya dan Amara harap akan ada sesosok yang menyelamatkannya dari ketenggelaman ini.

Amara terkekeh miris, sempat-sempatnya ia berpikir seperti itu. mana mungkin ada. "Amara harus tutup perasaan ini serapat-rapatnya hingga tak ada yang mampu untuk membukanya selain lauhul mahfudz yang telah Ia tuliskan didalamnya, hilangkan rasa kagum ini Amara apalagi kamu dan dia akan satu pondok" lirihnya menyemangati diri. tak lupa senyuman manis yang selalu ia pasang di setiap harinya.

Amara melanjutkan perjalanannya menuju toilet untung keduanya tidak melihat Amara. Amara menatap dirinya miris di kaca wastafel, bayang-bayang Bunda nya yang masih membekas di hati, luka-luka di fisiknya yang masih terasa nyeri, dan pernyataan bahwa sosok yang dikaguminya menolaknya mentah-mentah di hadapan seseorang yang ia benci. Arzan.

hancur. satu kata yang tepat untuk dirinya saat ini. "Kamu harus belajar berdamai dengan takdir sayang. Karena Allah lebih tau apa yang terbaik. Kalau kamu berpikir hari ini buruk berarti kamu belum mendapatkan hikmah di balik kejadian tersebut" Deg. kata-kata yang Ayahnya ucapkan saat berpisah dengan Bundanya.

Amara paham ia harus berdamai dengan takdirnya saat ini karena ia telah menangkap hikmah di baliknya. menyadarkan dirinya bahwa sesosok yang dikaguminya tak layak ia kagumi lagi.

"Amara memang menerima takdir ini, dan Amara ikhlaskan perasaan ini, tapi bukan berarti Amara memaafkan orang yang sudah membuat kedua orang yang Amara sayang terbaring lemah" ucapnya pelan, sorot matanya tajam, tangannya mengepal tanda ia menyimpan dendam.

"Arzan" desisnya pelan









assalamualaikum warahmatullah, hello everyone semoga suka yaa sama ceritanya hhi, maaf klo ada kata yang kurang tepat atau typo.

⚠️ jangan baca novel ini ketika waktu beribadah, utamakan membaca Al - Qur'an dan sholawat, take the positive n leave the negative. ⚠️

barakallahu fiikum 💗 💗 💗 💗

AMARARZAN | TERBIT✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang