DILARANG PLAGIAT⚠️
"masih adakah rasa itu untukku Ara?" -Alfar
"ijinkan saya menjadi penyempurna separuh agamamu Aira" -Arzan
"yaa Allah, kenapa begitu sulit pilihan yang Kau beri?" -Amara
23 Agustus 2024
Yang menyembuhkan penyakit itu Allah bukan Dokter. Dokter hanyalah sebagai sebab, namun pengaruh yang terjadi tergantung takdir Allah.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
seluruh atensi teralihkan pada seorang dokter yang baru saja keluar dari IGD. mereka segera menghampiri sang dokter.
"Bagaimana keadaan adik saya dok?" tanya Amara
"Pasien phobia darah biasanya mengalami respon kardiovaskular difasik dari takikardia awal, diikuti oleh bradikardia, hipotesi, syok, vertigo, dan sinkop. Terdapat beberapa fakta mengenai hematophobia yang perlu diketahui. Salah satunya adalah beragam faktor resiko yang dapat memicu kondisi ini terjadi" terang dokter
Amara dibuat bingung dengan penerangan dokter di akhir kalimat "Maksud dari kata kondisi ini terjadi apa ya dok?"
dokter itu terlihat menghela nafas "Apa pasien sudah pernah ke psikiater untuk mencoba menyembuhkan phobia ini?"
Amara dan Ghaidan menggangukkan kepalanya. "Ia rutin melakukannya, setiap seminggu sekali" jawab Ghaidan.
Dokter itu menghela napasnya panjang. "Sebenarnya hematophobia bisa disembuhkan dengan melakukan terapi relaksasi. Phobia atau trauma bisa disembuhkan tanpa obat-obatan. Cukup dengan terapi Neuro linguistic programming (NLP). Namun-" dokter itu menggantung kalimatnya
"Namun apa dok?" desak Amara
"Apa pasien hanya memiliki hematophobia?" tanya dokter meyakinkan
"Iya, hanya trauma itu saja. Dia tidak memiliki penyakit apapun" sahut Ghaidan
Dokter itu menganggukkan kepalanya pelan. "Namun, saat saya chek pasien memiliki penyakit lain selain hematophobia"
"Katakan yang benar dokter" desak Amara menahan emosi.
Ziya menenangkan Amara yang sedari tadi diam menyimak "Pasien memiliki kanker stadium akhir"
Deg
seperti belati menusuk dada keluarga Asy-Syairazi terlebih lagi keluarga Eleanor kala menemukan fakta tersembunyi ini. Amara mengingat-ingat kejanggalan dalam setiap moment dirinya bersama adiknya. Hingga ingatannya terjebak pada hari libur pondok mereka.