DILARANG PLAGIAT⚠️
"masih adakah rasa itu untukku Ara?" -Alfar
"ijinkan saya menjadi penyempurna separuh agamamu Aira" -Arzan
"yaa Allah, kenapa begitu sulit pilihan yang Kau beri?" -Amara
23 Agustus 2024
"Pernikahan, sungguh tak seindah apa yang dikatakan para motivator ataupun buku pranikah. Akan banyak cobaan dan ujian. Maka pahamilah, rasa cinta kadang tak bisa ikut berperang. Hanya iman yang kuat, dengan pedang kesabaran dikala susah dan senjata syukur dikala senang, yang mampu menghadapi bala ujian dan cobaan"
-Habib Umar bin Hafidz-
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
setelah kepergian Alfar, hening terjadi diantara dua keluarga itu. mereka menyelami pemikirannya masing-masing.
"Justru dengan cara ini ayah menyelamatkanmu darinya"
kerutan terpasang di wajah mereka. "Apa yang kau rencanakan Ghaidan?" tanya Dafri lagi yang tak menyukai basa-basi
"Amara, kemarilah"
Amara menuruti permintaan Ghaidan tanpa membantah. kini posisi mereka saling berhadapan dengan Ghaidan berada diantara Amara dan Arzan.
"Kelak kalian akan mengetahuinya"
Amara diam sejenak, ditatapnya Ghaidan dengan penuh intimidasi "Apa ada yang ayah sembunyikan dariku?"
Ghaidan menggangukkan kepalanya "Tidak untuk sekarang"
"Tapi-,"
"Kami paham om" potong Arzan cepat
Amara mendelikkan matanya tak suka. Dafri dan Ziya mencoba mencerna semua kata-kata Ghaidan 'Lantas apa hubungannya dengan pernikahan ini, Alfar dan rencana Ghaidan?' batin keduanya