hai, hehe....., banyak pembaca baru ya👋🏻
maaf ya kalo part ini rada ga nyambung, dari 2024 cuma nyimpen draft seuprit, trus ini maksa lanjut soalnya bener-bener ada yg komen nunggu cerita ini dari pertama kalinya book ini di publish😭🙏🏻
btw, komen yg banyakk tar ak lanjut lagi mwehehehe
****
Dalam suasana lorong yang ramai dipadati oleh para siswa-siswi, Zeon melangkah dengan perasaan gugup nan luar biasa. Sebab kini, seluruh anak mata dengan penuh tuntutan memandangnya tanpa berkedip sama sekali. Apalagi, bisikan-bisikan yang penuh akan keingintahuan mereka tentang dirinya terdengar jelas oleh dua telinganya.
Zeon menyesal, seharusnya ia menurut saja untuk menunggu di kelas sampai Gerald- yang tadi tiba-tiba saja menerima telepon dari Ayahnya- kembali dan Archer yang akan datang menjemputnya. Tapi karena ia bosan dan merasa kesal dengan tatapan murid di kelasnya itu, akhirnya Zeon dengan berani keluar dan berjalan sendirian di tengah jam istirahat yang ramai.
"Si Archer mana, sih, jing? Gue udah kayak anak ilang begini. Mana orang-orang pada ngeliatin gue. Gue emang ganteng, keren, dan mempesona, tapi gak segitunya juga kali ngeliatnya," dumelnya dengan suara pelan. Ia berusaha bersikap biasa saja, meski kini sebenarnya Zeon ingin sekali berlari terbirit.
Lupa dia, kalo dulu di sekolah lamanya adalah seorang berandalan yang tak kenal takut dan malu.
Dalam langkahnya yang pelan, tak luput kedua tangannya terselip di kedua saku celananya, Zeon berusaha mengangkat kembali rasa percaya dirinya. Tak peduli reaksi orang-orang, sesekali ia akan menatap sinis pada seseorang yang menatapnya berlebihan.
"Apa lo liat-liat? Emang gue pisang?!" Seru Zeon pada pemuda yang melihatnya dengan tatapan aneh. Zeon memutar bola matanya jengah saat pemuda itu terkekeh, kekehan yang menurutnya sangat jelek.
"Pisang?" Gumam pemuda yang sedari tadi ikut menatap Zeon lekat.
"Pisang? Monyet dong gue?!"
"Kenapa jadi monyet?!"
"Monyet kan suka pisang!"
"Maksudnya?"
"Woy bocah SD! Lo anak baru yang loncat kelas, ya? Berani amat nyenggol pak ketua gue!" Pemuda satunya lagi menyela tidak terima dengan sungutan Zeon tadi.
Maka Zeon berhenti dari langkahnya. Ia berjalan mundur dua kali, lalu kepalanya menoleh pada satu kumpulan siswa yang sedang berkumpul dikursi panjang dekat mading kelas. Ada satu, dua, tiga... ah, empat orang siswa dengan 2 diantaranya berpenampilan acak-acakan. Zeon memicing ke semuanya.
"Apa lo bilang? Bocah apa tadi?"
Pemuda dengan rambut berwarna coklat gelap yang ada disana mengangkat satu alisnya spontan- pelaku yang melempar tanya.
"Brengsek lo, gue bukan bocah SD, ya, bangsat!"
"Wow," ia berdecak kagum plus kaget mendengar sentakan bocah dengan tinggi 152 cm itu. "Gue nanya doang, anjir. Galak amat, anak siapa sih lu?!"
Zeon berdecih, "Males banget hari pertama sekolah ketemunya manusia macam beruk kayak lu!" Sebenernya ia malas meladeni, tapi sekarang dia sedang butuh pelampiasan emosi yang sedari kemarin bergumul dalam jiwanya.
"Sialan! Lo gak tau siapa gue?" Kali ini suara pemuda itu berubah, terdengar lebih tajam dan serius.
Dan Zeon mulai terganggu, tak nyaman. Tapi tetap ia sahuti, "Penting emangnya?" Diucapkan dengan raut dan nada yang menyebalkan.
Pemuda itu tersenyum miring, ia melangkah maju ke arah Zeon. Namun, belum sempat pemuda itu membalas, suasana lorong mendadak berubah. Suara riuh yang sedari tadi menggema seketika hilang, digantikan dengan derap langkah tegas dan dingin melingkupi.
KAMU SEDANG MEMBACA
ZEON ALTAIR
AcciónZeon Altair Virendra "Ucapkan selamat tinggal pada kebebasan mu."
