11. CASE TWO : Between cracks and dryness

67 33 47
                                        

✩₊˚

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

✩₊˚.⋆☾ Happy Reading ☽⋆⁺₊✧

୭ ˚. ᵎᵎ Cracks in the magic barrier ₊⊹

Langkah Eugene tertahan. Di hadapannya, penghalang sihir yang membatasi wilayah mereka tampak berpendar redup. Dari posisinya saat ini, sosok Aïres yang sedang menyisir area hilangnya dua ksatria penjaga hampir tidak terlihat di kejauhan. Eugene mengunci pandangan pada satu titik, sebuah retakan kecil yang menjalar seperti jaring laba-laba di permukaan pelindung transparan tersebut. Kasatmata, retakan itu tampak tidak berbahaya, nyatanya ini adalah ancaman yang besar.

Perlahan-lahan, ia mengalihkan pandangannya ke sekelilingnya, memastikan tidak ada bahaya yang mengintai. Setelah yakin situasi aman, ia mengangkat tangan kanannya. Jemarinya berjarak beberapa senti dari permukaan pelindung saat ia mulai mengalirkan sihirnya. Ia tidak sekadar ingin memeriksa fisik, ia ingin meraba sisa-sisa energi, menembus memori yang tertinggal pada pelindung sihir yang cedera tersebut.

Begitu tangannya menyentuh retakan itu, sebuah getaran halus merambat melalui telapak tangannya, seakan-akan sesuatu mulai terhubung dengan dirinya. Secara tiba-tiba, langit di atas kepalanya mendadak pekat, berganti menjadi sebuah kubah malam yang mencekam dan dipenuhi aroma anyir belerang. Ia terperangkap dalam sisa memori masa lalu.

Di balik batas pelindung, makhluk-makhluk kegelapan merayap keluar dari kabut. Mereka melemparkan gelombang demi gelombang energi hitam pekat secara membabi buta, menghantam pelindung sihir dengan daya rusak yang mengerikan. Tepat di detik-detik terakhir sebelum memori itu terputus, Eugene menyaksikan pemandangan yang membuat jantungnya mencelos. Pelindung sihir yang selama ini diagungkan tak terkalahkan, akhirnya retak akibat ledakan energi besar yang tak terkendali. Dorongan masif itu mengoyak pertahanan dan menumbangkan apa saja yang berada di radius sekitarnya.

Lalu, seperti angin yang tiba-tiba menghilang, kilas balik itu menghilang begitu saja, dan Eugene kembali ke dunia nyata. Napasnya tercekat di tenggorokan. Sambungan sihir terputus paksa, membuat tubuhnya limbung dan mundur beberapa langkah dengan lutut yang gemetar. Tatapannya tertuju kembali pada retakan itu, kini dengan kengerian yang berlipat ganda. Realitas yang baru saja ia saksikan jauh lebih mengerikan dari dugaan terburuknya. Sesuatu dari luar telah memicu retakan ini. Dan yang lebih mengerikan, sepertinya mereka belum selesai.

"Bagaimana bisa kekuatan mereka menjadi sebesar itu?" gumam Eugene.

"Ketua!" panggil perempuan yang tengah berlari mendatanginya. Ia berhenti tepat di depan Eugene. Dengan napas tersengal, perempuan itu mulai buka suara. "Seluruh anggota divisi sudah menyelesaikan tugas dari anda. Karena retakan yang tidak terlalu besar, jadi dengan mudah kami pulihkan."

Eugene mengangguk, ada rasa puas yang terlihat di wajahnya, meski tak sepenuhnya lepas dari kekhawatiran. "Bagus, Avy," sahutnya. "Berhati-hatilah. Retakan itu mungkin kecil, tapi bisa saja berbahaya jika tidak diperhatikan dengan saksama. Apakah ada masalah lain yang muncul?"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 21 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

𝐀𝐞̈𝐫𝐨𝐧 & 𝐀𝐢̈𝐫𝐞𝐬Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang