Suara ketukan jari dari meja terus terulang di ruangan sunyi ini, sang jurnalis bersabar menunggu bos dari Perusahaan VitalStatis Labs. Tidak seperti kantor umumnya, mereka hanya perlu sebuah meja lonjong dengan tiga kursi yang melingkarinya, dengan proyektor LCD yang siap digunakan.
Pikirannya kembali pada seminggu lalu, Ansa sedikit tidak setuju dengan Armas. Tetapi pada akhirnya, mereka bertiga menyetujuinya. Untung saja Armas akan patuh di rencana Emma, membantu melakukan penyelidikan diam-diam di kantor ini, sedangkan Haken melakukan wawancara seraya mengalihkan perhatian Tylr.
Di tempat lain yang tidak semua orang bisa jamah, yaitu lab dari perusahaan mereka sendiri, Emma dan Ansa sedang menyusup seperti bayangan.
Pintu besi terbuka perlahan, menghadirkan dua pria berjas dengan pangkat yang berbeda jauh. Pria yang hampir setinggi pintu, menduduki kursi di seberang Haken. Wajahnya sudah kusam dan tua, mungkin saja lahir pada era 80-an. Rambutnya begitu tipis karena lansia, hampir tidak kelihatan warna merah di helaian. Dialah pemimpin dari perusahan ini yang ditunggu-tunggu Haken. Tylr.
Di sampingnya, seseorang yang lebih muda darinya, setidaknya 20 tahun lebih muda dari kakek di depannya. Haken sependapat dengan Ansa, Vian terlihat menyusahkan saat mendampinginya. Senyumannya terlihat menjengkelkan, mata emasnya tetap bersinar walaupun tertutupi kacamata. Ia menyalakan proyektor tidak jauh dari meja mereka, menampakkan gambar produk unggul mereka. StabiliX.
Haken beranjak dari kursi dan menawarkan jabatan tangan di atas meja, Tylr tersenyum tipis dan menerimanya.
'Kita harus segera memperkenalkan produk ini pada publik,' batinnya mantap. "Bagaimana kita mulai saja?"
Haken kembali duduk dan menyiapkan note-nya seraya tersenyum palsu. "Tentu," jawabnya dengan nada dingin, menjaga ketenangannya.
Di tempat lain yang lebih gelap, jauh dari ruang rapat itu, kaki sang polisi menapak perlahan, menyelam lebih dalam ke dalam rahasia yang disembunyikan oleh dinding kantor ini.
Untungnya, tak seorang pun menyadari penyamarannya sebagai rekan Haken. Para pekerja terlalu sibuk dengan persiapan peluncuran produk baru mereka. StabiliX.
Ketika pintu di belakangnya terbuka sedikit, Armas terkejut melihat betapa cerobohnya sang bos yang lupa mengunci ruang kerjanya. Ia tak membuang waktu dan segera menyelinap seperti tikus.
Di dalam ruang kerja ini, banyak sekali tumpukan dokumen yang tersusun rapi di berbagai rak. Ia segera membaca setiap halaman sembari memotret tanpa terlewatkan sedikitpun.
Setelah beberapa saat ia membaca, tangannya berhenti membalikkan halaman, nafasnya perlahan menjadi pelan. Mata hijaunya meredup terkejut apa yang ia barusan baca, semuanya, tanpa terkecuali. Armas meringkas semua yang ia baca.
Mereka ternyata melakukan praktik kotor sejak lama. Memanfaatkan orang-orang yang terlilit hutang pada perusahaan. Mereka yang tak mampu membayar, dipaksa bekerja untuk perusahaan ini sebagai kelinci percobaan, alih-alih menjadi karyawan. Bahkan, terkadang anggota keluarga mereka sendiri terpaksa mengorbankan seseorang agar terhindar dari nasib yang sama.
Namun yang lebih mengerikan, ancaman itu jauh melampaui sekadar hutang. Jika mereka gagal membayar, bukan hanya hidup mereka yang diambil, ingatan mereka atau orang yang mereka cintai juga akan dihapus. Selamanya!
Armas sekarang paham mengapa Ella- lebih tepatnya Alia, menjadi salah satu pekerja disini. Perusahaan licik ini telah memanfaatkan kekuatan wanita itu untuk kepentingan mereka sendiri, memastikan bahwa tak ada kerugian, baik secara finansial maupun moral.
Tiba-tiba ada yang memecahkan keheningan di ruang ini, suara sepatu dari kejauhan yang jauh dari sini, mulai mendekat dengan tempo teratur.
Sang polisi segera menutup dokumen tanpa suara, membereskan semuanya dengan rapi seperti semula. Ia memasukkan ponselnya dan segera pergi ke arah pintu. Menggenggam gagang pintu cukup lama, suara sepatu itu semakin dekat. Jantungnya semakin berdebar. Ia berharap siapapun di lorong depannya tidak masuk ke ruangan ini.
Suara hentakan itu perlahan berada di kirinya, semakin lama semakin menjauh, kemudian menghilang di telinganya. Nafasnya kembali teratur, ia segera membuka pintu dan pergi ke arah kanan lorong.
Setelah beberapa langkah menjauh dari ruang kerja Tylr, Armas mendengar suara hentakan kaki dari belakang menjadi cepat. Perlahan kakinya ingin lari menghindar.
"Pak!"
Suara itu menembus telinganya seperti jerat tajam, menghentikan langkahnya. Sebuah tangan menyentuh pundaknya, menariknya perlahan agar ia berbalik.
Jantungnya seperti berhenti sejenak, sang polisi segera membalikkan badannya. Pupil matanya bergetar cemas, ia menahan diri agar tak berkata 'Aku tak ke ruangan kerja bosmu!'
"Maaf. Tapi anda siapa, ya? Sepertinya anda tidak bekerja disini," tanya seorang pria yang lebih pendek darinya. Mata emasnya seperti berusaha menerawang pikiran Armas.
Armas menurunkan tangan karyawan berkacamata itu dan tersenyum ramah. Ia teringat informasi dari Ansa, orang ini adalah Vian, langkah kakinya memang cepat.
"Ah, saya temannya Haken," jawab Armas berusaha tenang, hampir saja jantungnya lepas.
Vian tersenyum menatapnya. "Ah, anda tadi bersama Pak Haken sebelum rapatnya dimulai, kan?" tanyanya teringat mereka telah berjumpa.
Armas mengangguk. "Sayang sekali saya tidak dapat ikut," ujarnya.
"Yah, hanya jurnalis yang diizinkan masuk saat wawancara tadi," ucapnya Vian sambil mengangkat bahu. "Tapi rapatnya berjalan lancar. Syukurlah, Pak Haken bisa segera mempromosikan produk ini."
Mata hijaunya sedikit menyipit, namun senyumnya tidak hilang. "Begitu, ya? Baguslah. Sepertinya urusan teman saya sudah selesai." ia kemudian pergi membelakanginya.
"Tunggu," sela Vian cepat, senyumnya mulai pudar. "Apa anda tadi... Melintasi lorong ini?"
Kakinya berhenti, tubuhnya mematung tegak. Enggan melihat wajah karyawan itu. "Ya, saya melewatinya. Saya permisi," jawabnya dengan sopan, berusaha menjaga nada tetap stabil, sebelum melangkah pergi.
Tatapan Vian masih mengikuti langkah-langkahnya, dua mata emas itu terasa menusuk punggung Armas hingga ia menghilang dari pandangan. Di dalam hati, Armas hanya bisa berharap, berharap sekuat tenaga, bahwa Vian tidak melihat, tidak menyadari apapun. 'Semoga tidak.'
Setelah berganti ke lorong yang lebih banyak orang, ia bisa bernafas lega, tidak ingin berbicara dengan para karyawan lagi. Sembari berjalan kembali ke ruang rapat, ia terus melirik sekitar, mencari Alia yang tidak terlihat sejak tadi.
Sebelum ia sempat mengintip jendela ruang rapat, ia mendengar suara hentakan sepatu yang hendak kemari dengan cepat. Matanya segera menengoknya, ia berhenti tersenyum melihat ekspresi rekannya.
Wajah sang jurnalis begitu panik, nafasnya mulai tidak terjaga, dasinya hampir terlepas sepenuhnya, mata birunya melebar tak berhenti melihat sekitar, seakan ia mencari seseorang yang telah ia rindukan sejak lama.
"Wajahmu..." panggil Armas, mencoba tetap tenang meski ada kegelisahan di suaranya. "Apa yang terjadi? Apakah kau tidak melihat Alia?" suaranya bergetar.
Haken menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak... Tidak! Aku sudah mencarinya di seluruh lantai barusan, tetapi... Aku... Tak menemukannya," pekiknya semakin tidak tenang, nafasnya semakin berat.
Sang polisi menggoyangkan kedua pundak Haken, sedikit menekannya agar tenang. "Aku tahu ini perihal adikmu-"
"Jangan-jangan," selanya dan menelan ludah curiga. "Ia berada di... Di laboratorium mereka!"
Mata Armas segera menyipit. "Lab? Tapi disana ada Emma dan Ansa," balasnya dan segera menyadari sesuatu. 'Tunggu! Jika mereka bertemu dengan Alia...',
Haken segera menarik salah satu tangan polisi itu dan menuntunnya cepat turun dari kantor. "Kau sudah dapat semua buktinya tadi, kan?"
Tanpa perlu dituntun, ia segera paham dan mengikutinya dengan tempo jalan cepat. "Sudah. Kita sekarang perlu membantu kedua wanita itu," tambahnya bertekad.
Haken dan Armas keluar dari kantor dengan langkah cepat, udara dingin menuju malam menggelitik tubuh mereka saat mereka membuka pintu mobil. Tanpa membuang waktu, Haken langsung menyalakan mesin dan menancapkan gas, roda berputar cepat di atas aspal, membawa mereka melaju ke arah laboratorium VitalStatis Labs.
Pikiran mereka terus dihantui oleh satu ketakutan yang sama. Emma dan Ansa mungkin sudah terlalu dekat dengan Alia, dan jika mereka terlambat, kedua wanita itu dalam bahaya besar, terutama pada ingatan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pembalasan [ THE END ]
Teen FictionMereka yang dulunya menjalani kehidupan normal kini harus beradaptasi dengan kenyataan baru-bahwa di antara mereka ada yang memiliki kemampuan luar biasa yang tidak bisa dijelaskan oleh logika. Kekacauan dan ketidakpastian merajalela, membuat masyar...
![Pembalasan [ THE END ]](https://img.wattpad.com/cover/375552118-64-k128904.jpg)