🎶Into you-Ariana Grande
(play diatas👆🏻)
🌹 Happy Reading 🌹
~~~
"Gue yakin mata lo udah katarak sih, Nad. I mean, look at him!" Lara-salah satu teman Nadine, tanpa ragu menunjuk satu sosok dari gerombolan yang sejak tadi duduk anteng di meja tengah kantin. "Isa yang cakep paripurna gitu bisa-bisanya lo tolak mentah-mentah!"
"Ini gak sesepele masalah tampang, La. Lo gak inget kejadian waktu mereka mau first meet? Itu jadi salah satu hari traumatis buat Nadine," sahut Diora-teman Nadine yang lain, sambil dengan anggun menutup mulut. Menahan tawa.
"Belum lagi couple kesayangannya si Arhan Zize malah kena masalah yang gak bisa dia ditoleransi. Ya makin-makin lah dia trust issue sama perjodohan."
Nadine memutar bola matanya malas. Dua temannya ini asal ceplos seenaknya seakan Nadine tidak ada bersama mereka. "Apa sih! Lo berdua stop ngomongin makhluk satu itu di depan muka gue. Males, gue phobia! Dan ... jangan pernah bawa-bawa nama Arhan Zize lagi. Gue masih sensitif!"
Nadine menyeruput jus alpukat-nya guna membasahi tenggorokan yang akhir-akhir ini selalu terasa mencekik setiap kali membahas Arhan-Zize—couple kesayangannya yang otw dia cut off.
Nadine bahkan sudah berpikir untuk daftar konsultasi dengan psikolog karena takut terjadi sesuatu dengan mentalnya yang sedang terguncang.
Seperti kejadian 6 bulan lalu yang menyeretnya dalam sebuah drama surprise perselingkuhan. Nadine dan keluarga-yang tidak ingin Nadine ingat lagi itu sepakat untuk berdamai setelah berdiskusi dan bernegosiasi.
Nadine setuju untuk tidak akan memperkarakan penganiayaan yang ia alami dengan syarat mereka harus membayar biaya perawatan—termasuk perawatan mental Nadine. Serta berjanji untuk bersikap tidak saling mengenal jika tanpa sengaja kembali berpapasan dan yang paling penting tidak akan pernah membocorkan masalah ini kepada siapapun.
Sebenarnya untuk poin terakhir Nadine hanya takut terciduk keluarganya. Ia pasti akan habis diomeli kalau Mami dan Papinya tahu kelakuan Nadine malam itu. Jadi ia dengan terpaksa mengampuni keluarga itu untuk menutupi kebusukannya sendiri.
"Tuh, Nad! si Isa dapet kunjungan lagi." Menghiraukan peringatan Nadine sebelumnya Lara lagi-lagi menunjuk ke arah Isa yang kini terlihat berbicara dengan seorang gadis yang ditangannya memegang sebuah paperbag.
"Itu si Bela, right? Wah, gue sampe speechless lihat kelakuan dia. Dulu ngejar-ngejar Reja sekarang pindah ke Isa. Sial banget si Isa pindah ke sini langsung ketempelan ulat keket."
Dari tempat duduknya Diora dan Lara kompak mencibir saat Bela mengedipkan sebelah mata dengan genit usai memberikan paperbag yang kini sudah beralih ditangan Isa.
"Udah sih biarin. Kenapa lo berdua yang repot coba? Cowoknya aja keliatan mau kok digatelin si Bela!" Nadine tidak bohong. Tadi dia bisa melihat sendiri saat Isa membalas senyum Bela usai mengambil paperbag-nya. "Emang cocok sama-sama gatel ew!" cibirnya lebih pelan.
"Apa sih yang bikin lo dendam kesumat segitunya sama Isa? Serius. Masa cuma gara-gara masalah malem itu. Sorry to say ya, Sist. Tapi menurut gue itu childish banget sih. Orang udah jelas Isa gak ada sangkut-pautnya. Semuanya kan emang salah lo sendiri!"
KAMU SEDANG MEMBACA
The First Red Rose
Teen Fiction"Kenapa gak mau dijodohin sama gue?" "Males! Lo bukan tipe gue!" "Kalo gue berubah jadi tipe lo berarti bakal mau?" *** Nadine si anak manja yang begitu disayang Mami-Papinya menolak keras saat mau dijodohkan dengan Isa--anak rekan bisnis sang Papi...
