The Fate of Ophelia—Taylor Swift.
Selamat malam mingguan bareng aku😚
Chapter kali ini full flashback ya, seng. Maap kalo dikit karena aku bikin chapter ini emang khusus buat flashback doang hehe.
Habis ini kalian akan menemukan jawaban dari "kapan mereka pertama ketemu" versi Nadine🤭
🌹 Happy Reading 🌹
~~~
Bagi Nadine, bangku junior high school akan selalu menjadi trauma yang melekat sepanjang dia hidup. Di tempat itu, Nadine seakan tidak punya nilai untuk dihargai. Hanya karena wajah dan bentuk tubuhnya yang berubah, mereka menjadi pembully. Mereka menatapnya dengan jijik.
Dibalik rintihnya menahan pilu. Nadine hanya bisa berdoa semoga semua kesialan yang dialaminya ini cepat pergi. Tapi benar kata orang, hari sial memang tidak ada di kalender. Nadine tidak pernah bisa memprediksi apa yang akan terjadi.
Seperti hari itu.
Nadine yang biasanya diabaikan teman-teman sekelasnya, mendadak diikutsertakan dalam sebuah acara staycation yang kelas mereka adakan saat libur semester. Di sebuah villa, di daerah Jogjakarta.
Semula Nadine ragu ikut. Namun, seolah masih ada sedikit harapan dari sisa hidupnya yang telah lama menyedihkan. Nadine mendengar selentingan kabar bahwa Chelsea yang sengaja memberi usulan agar Nadine bisa ikut.
Hatinya yang telah lama kering oleh pengabaian seketika menghangat hanya dengan perhatian kecil. Dia mulai diliputi pemikiran naif bahwa mungkin sebenarnya para sahabatnya tidak pernah berubah. Mereka hanya menjaga jarak diluar, tapi didalam mereka masih menjadi sosok yang begitu peduli.
Namun secepat harapan itu melambung, secepat itu pula realita menghempasnya. Dalam diamnya, dibalik tembok sudut villa di sore hari yang sepi. Nadine tanpa sengaja mendengar percakapan mereka yang diiringi gelak puas disebuah gazebo samping kolam renang.
"Nadine fucking moron. Idiot banget itu anak. Masa gak ada rasa curiga sama sekali, sih. Tiba-tiba diajak acara kelas padahal biasanya dilirik aja enggak." Itu suara Tisa. Masih dengan sisa tawa di mulutnya.
Olivia segera menyambar dengan semangat. "Kalo dia pinteran dikiiit aja. Dia gak mungkin gampang terhasut sama kita dan mau-mau aja disuruh buat pakai serum abal-abal waktu itu."
Dada Nadine terasa dihantam palu godam. Apa maksudnya ini?
Lalu terdengar dengusan sinis Chelsea sebelum dia ikut menanggapi, "dia harus tau gak selamanya dunia selalu ada dipihak dia."
"But you've gone tooo far, Chels." Olivia sekali lagi cekikikan. Jelas kalimatnya barusan bukan bentuk empati. "Bikin mukanya hancur pakai serum abal-abal aja udah parah banget. You malah nambahin bumbu dengan sengaja nyebar rumor-rumor jelek soal dia."
"Criminal final boss!" ejek Tisa yang malah dihadiahi sahutan bangga dari Chelsea.
Di tempatnya, Nadine benar-benar pucat. Shock berat mengetahui semua yang menimpanya selama ini ternyata ulah sahabatnya sendiri. Apalagi mereka terdengar begitu bangga saat memamerkan dosa-dosanya.
Sebenarnya, siapa orang-orang yang pernah dia sayangi dengan tulus sebagai sahabat ini?
"I masih dendam sama dia. Dari kelas satu i udah sering banget cerita sesuka apa i sama Theo. I even told you guys how happy i am waktu berhasil pdkt sama dia. But what the hell she's doing after that? Dia hang out sama Theo, sialan!"
KAMU SEDANG MEMBACA
The First Red Rose
Teen Fiction"Kenapa gak mau dijodohin sama gue?" "Males! Lo bukan tipe gue!" "Kalo gue berubah jadi tipe lo berarti bakal mau?" *** Nadine si anak manja yang begitu disayang Mami-Papinya menolak keras saat mau dijodohkan dengan Isa--anak rekan bisnis sang Papi...
