Tomoshibi—Dustcell.
Btw, ada yg nonton Gachiakuta juga?
🌹 Happy Reading 🌹
~~~
Nadine merebah lesu di meja cafetaria bersama sahabat senasibnya, Lara. Hari ini adalah hari terakhir mereka menyelesaikan ujian standar kelulusan sekolah.
Sebagai sesama manusia non-ambisius, tentu saja mereka tidak sekeras yang lain dalam persiapan belajar. Alhasil setiap selesai ujian mereka selalu berakhir mabuk soal. Seperti sekarang.
Nadine bahkan sampai tidak punya waktu untuk pacaran selama hampir seminggu ini karena tiap pulang sekolah bawaannya ingin langsung mengurung diri di kamar.
"Belum pada pesan makan?"
Suara Diora yang baru datang menyusul usai dipanggil wali kelas, mampu membuat dua manusia kehilangan tenaga itu bangkit dan duduk dengan benar.
Berbanding terbalik dengan kedua sahabatnya yang lemas tidak bergairah. Diora justru tampak biasa saja. Anggun dan tenang, seperti biasanya.
"Please, deh, Dio. Gak semua orang abis bertaruh nyawa di medan ujian bisa langsung nafsu makan kayak lo!"
Nadine menyetujui ucapan Lara. "Sumpah rasanya mual banget kayak morning sickness," ucapnya asal.
Diora menghiraukan racauan keduanya. Jemarinya bergerak tenang memotong grilled chiken with mashed potatoes pesanannya yang baru selesai diantar. Membiarkan Nadine dan Lara yang masih tenggelam dalam drama mereka.
"Oh, hampir aja gue lupa." Diora yang semula anteng makan, dengan telaten menyampingkan piringnya yang masih sisa setengah.
"Masih inget soal gue yang minta tolong Kakak sepupu gue buat benerin website kita? Semalem dia update kalo sumber dari virus yang nyerang website kita udah ketemu."
Diora mengambil iPad-nya. Mengutak-atik sebentar, lalu menyodorkan benda itu ke arah kedua sahabatnya. "God bless him karena berkat usaha kerasnya dia berhasil dapetin bocoran data."
"Singkatnya, orang yang nanam virus di website kita itu ternyata hacker cukup pro yang udah sering buka jasa buat lakuin hal-hal ilegal."
"Sebenernya gak susah juga buat gue bikin transaksi sama dia. Money works. Dan sesuai kesepakatan, dia langsung setuju kasih gue data siapa orang yang nyewa dia sebelumnya."
Nadine dan Lara fokus mendengar penjabaran Diora sambil menatap lamat-lamat foto serta data seorang laki-laki dengan tampang kurang tidur dilayar iPad-nya.
"Datanya ada di-slide sebelah."
Telunjuk Lara bergerak cepat menggeser layar. Lalu terpampanglah foto serta data diri seseorang yang menyebabkan huru-hara pada website mereka.
Detik itu juga Lara langsung mengumpat, "bitch! Gue udah punya feeling pasti si Belalang sembah orangnya!"
Nadine juga tidak begitu terkejut saat tahu orang itu ternyata Bela. No offense. Menurut Nadine, Bela memang punya tampang dan aura antagonis.
"Tapi gue yakin ini gak sesimpel kelihatannya." Diora dengan otak cemerlangnya mulai berkonspirasi. "Kalian inget base sekolah yang baru dibikin di X and out of nowhere langsung nyerang kita? Setelah sepupu gue coba telusuri, ternyata yang pegang akunnya itu si Salsa." Matanya melirik Nadine sesaat. "Yes, Nad. Salsa yang itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
The First Red Rose
Fiksi Remaja"Kenapa gak mau dijodohin sama gue?" "Males! Lo bukan tipe gue!" "Kalo gue berubah jadi tipe lo berarti bakal mau?" *** Nadine si anak manja yang begitu disayang Mami-Papinya menolak keras saat mau dijodohkan dengan Isa--anak rekan bisnis sang Papi...
