"Mereka bahkan lebih menakutkan dari api. Mereka benci api, tapi mereka tidak takut dengan sang anala. Disaat orang-orang menjauh, mereka berlari mendekat. Mereka dekat dengan api, tapi mereka tidak bersahabat."
Petugas pemadam kebakaran mugkin seri...
Di kamar asrama, terlihat dua pemuda tengah menatap ponsel yang sama meskipun keduanya terlihat sedikit berjauhan. Dua anggota pemadam kebakaran Kesatria Geni itu juga terlihat berbincang dengan seseorang dilayar ponsel.
"Ya sudah, Bu. Enal mau mandi sama bersih-bersih dulu," ujar pria yang menggunakan topi terbalik itu.
Wanita berhijab yang ada dilayar ponsel terlihat mengangguk seraya tersenyum. "Ya sudah sana, ini Zyan juga mau berangkat," tuturnya sangat lembut.
"Ibu sehat-sehat ya," sambung Jenin yang ada di samping Zaenal seraya melambaikan tangannya.
"Iya, ya sudah. Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam." Zaenal dan Jenin bersamaan lalu Jenin yang memegang ponselnya segera memutuskan panggilan.
Sementara Zaenal segera berdiri lalu berjalan menuju lemarinya mengambil handuk untuk mandi yang sempat tertunda. Karena sebenarnya yang terjadi adalah beberapa saat yang lalu Ibunya menelefon dengan menggunakan ponsel Zyan. Ibunya bilang, Zyan akan pergi ke pameran hari ini. Ibunya juga mencari keberadaan Zaenal, yang akhirnya membuat Zaenal akhirnya bergabung.
Rangga yang sedang berdiri diambang pintu tersenyum tipis melihat kedekatan kedua sahabatnya. "Cie akur," celetuknya.
Pria bertopi terbalik yang sedang berdiri di depan lemari berbalik lalu memutar bola matanya malas. "Nggak jelas," tuturnya seraya berjalan begitu saja melewati Rangga.
"Sok gengsi lo." Rangga menepuk lengan Zaenal, tapi diabaikan yang membuatnya menggelengkan kepala lalu melangkahkan kaki masuk ke kamar. "Ibu udah sehat, Nin?" tanyanya yang memang tahu kondisi ibunya Jenin yang beberapa waktu lalu mengalami kecelakaan.
"Alhamdulillah udah, bang." Jenin menoleh sebentar lalu membuka lemari untuk mengambil seragam kerjanya.
"Syukur deh," sahut Rangga seraya membuka lemarinya juga. "Oh iya, lo liat bang Guntur nggak?" tanyanya lagi seraya mengambil headband berwarna putih lalu memakai dikepalanya.
Pria bertubuh tinggi itu kembali menoleh seraya mengancingkan seragam biru kerjanya. "Kayanya pergi ke makam kedua orang tuanya deh," jawabnya. "Soalnya semalem bilang sudah lama nggak berkunjung," imbuhnya mengingat kembali ucapan Guntur yang semalam berbincang dengannya di pantri.
Rangga yang mendengarnya hanya mengangguk lalu menghela nafas pelan. Dia juga rindu pada mendiang bapaknya, tapi bagaimana lagi, nyatanya tuntutan membuatnya jauh dari keluarganya.
Tiba-tiba Rangga dan Jenin saling terdiam, keduanya saling melemparkan tatapan saat merasa tubuh keduanya limbung.
"Astagfirullah, Nin, gempa, Nin," seru Rangga yang langsung menarik tangan Jenin untuk segera berlindung di bawah meja. Namun belum juga berlindung, gempa sudah berhenti yang membuat keduanya buru-buru keluar dari ruangan.
***
Sedangkan di pelataran makam, Guntur menatap ke langit setelah merasakan goyangan yang membuatnya sedikit panik tadi. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya membuat dirinya memegang dada. Di dalam hatinya pun dia merapalkan doa agar selalu mendapat perlindungan dari Tuhan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.