Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hi! I hope u enjoyed this story!
Bruk!
Sebuah tong sampah terguling saat Eric tidak sengaja menyenggolnya. Kini ia berlari kencang ke sela-sela pemukiman. Berharap orang-orang yang mengejarnya terpencar. Eric melirik ke arah belakang,
Ia terus berlari ke sela-sela yang lebih sempit. Tubuhnya kini dibanjiri keringat. Nafasnya juga mulai tak beraturan. Ia menendang segala barang yang dilewatinya. Berharap mereka terhambat karena hal ini.
"Hosh... hosh..." Eric mengatur nafasnya yang tak beraturan.
Oke. Kali ini kakinya sudah lelah berlari.
Eric menumpukan tangannya di kedua lutut. Ia mengedarkan pandangan ke sekitarnya. Sepertinya mereka sudah kehilangan jejak dirinya.
Lantas Eric merogoh saku jaketnya. Mencari sesuatu.
Eh?
"Bangsat gue lupa hp gue diancurin ama tu orang" keluhnya.
Sebuah suara kaki datang tegesa dari belakangnya. Eric dengan cepat menolehkan dirinya.
Bugh!
Eric menghindar.
Tetapi pria dihadapannya sama sekali tidak berhenti. Terus berusaha menjatuhkan dirinya.
Bugh!
Bugh!
Pria tersebut meringis. Memegangi perutnya yang tertonjok oleh Eric.
"Sakit kan? Makanya jangan—"
"ARGH!"
Bruk! Prang!
Ucapannya terhenti ketika tiba-tiba ia diberi pukulan dari belakang. Eric terhempas ke gedung kosong yang berada tepat di samping dirinya tadi. Pecahan kaca berserakan di sekitarnya.
Seorang pria yang merupakan bos dari mereka berjalan ke arahnya. Kini semua anak buahnya telah terkumpul.
"Kamu kira bisa kabur, hah? " Pria tersebut menyeringai.
Eric berusaha berdiri. Namun tiba-tiba kedua lengannya di tarik paksa. Dua pria kekar menahan dirinya.
Eric tersenyum kecut.
Lo kira gue nggak bisa ngelawan?. Batinnya.
Bugh! Bugh!
Tidak ada lima menit dua pria yang tadi menahan dirinya tergeletak tak sadarkan diri.
Pria dihadapannya menggeram marah "Serang dia!"
Empat pria melangkah sekaligus ke arah dirinya. Eric dengan siap menghindar. Membalas kembali jika ada celah. Pertikaian yang jauh dari keramaian terjadi. Tidak ada satupun manusia yang lewat ke gang- gang sempit seperti ini. Eric jadi sedikit menyesali keputusannya tadi. Padahal ia masuk ke celah sempit berharap agar mereka semua terpencar dan tidak berhasil menemukan dirinya.