Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hi! Ihopeu enjoyed thisstory!
[ Beberapa hari lalu... ]
Ruangan 12 × 15 m itu dipenuhi para pekerja. Langkah mereka terburu-buru, namun tangan mereka terlatih dengan cekatan. Membungkus berbagai macam obat-obatan terlarang. Semua orang memakai masker dan pelindung mata. Karena sekali hirup saja, bisa berdampak besar bagi tubuh mereka.
Suara derap kaki berat melangkah menuju pintu ruangan tersebut. Pria tersebut menghembuskan asap rokok dari mulutnya. Mengepul ke sekitarnya.
Dibelakang pria yang sedang merokok itu, terdapat beberapa orang yang dengan patuh berdiri membuntuti. Lantas tak lama kemudian seorang pria maju, mengulurkan tangannya lebih dahulu. Membuka gagang pintu ruangan, lantas segera kembali mundur untuk mempersilahkan pria perokok itu memasuki ruangan.
Sejenak ruangan hening karena kedatangan orang yang menjadi atasan mereka itu. Namun dengan cepat mereka kembali bekerja. Tidak ingin menjadi sasaran amukan.
Pria itu menghirup rokoknya lagi. Lantas menghembuskannya. Asap mengepul ke dalam ruangan.
Ia tidak memakai masker atau apapun itu untuk melindungi indranya. Untuk apa? Pria tersebut tersenyum tipis.
Ia menyukai aroma ruangan ini.
"Kemana Edi?" Tanya pria perokok tersebut. Matanya memindai ruangan 12 x 15 m itu.
Tidak ada. Bawahannya yang bernama Edi itu sepertinya belum juga menuntaskan tugasnya.
Pria yang ada dibelakangnya maju hati-hati dengan langkah gugup.
"Pak Edi masih dalam misi tuan" Ucapnya ragu-ragu.
"APA?!" Alisnya menukik.
"sudah tiga hari dia kuminta untuk merebut kembali barangku tapi belum juga selesai?!" Bentak pria perokok itu yang terdengar satu ruangan. Ia mencengkram kemeja orang yang ada dihadapannya hingga tercekik.
"Kau tau... aku mengeluarkannya dari sel saat dia tertangkap, menggunakan...uangku...sendiri..." tekannya pada orang dihadapannya. Orang tersebut tercekat. Mulutnya berusaha mencari oksigen yang masih bisa diraih. Memohon ampun pada atasannya ini.
Pria perokok itu akhirnya menghempas tubuh tersebut ke lantai. Lantas ia kembali berbicara pada bawahannya yang lain,
"Kirimkan lagi lima orang kepadanya. Dan akubilang... incar anak buah kafe tersebut. Bukan bos nya! Edi tak akan mungkin bisa melawan bos mereka. Tawan anak buahnya! Mengerti?!" Ucapnya sarkas. Lantas ia kembali menatap tajam.
"Jika Edi, tidak kembali dengan membawa anak tersebut... maka sesuai perjanjian kontrak kerja—anak kandungnya sendiri yang menjadi taruhannya." tekannya.