Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hi! Ihopeu enjoyed thissory!
[ A fewyears ago... ]
Rumah bak istana berpagar tinggi. Suasana hitam temaram memenuhi seluruh daerah bangunan tersebut. Dengan luas hektar tak terhingga seperti wilayah yang membangun pulau sendiri. Lampu-lampu menghias di tiap jengkalnya. Membuat bangunan tersebut berkilauan di tengah-tengah genggaman kuatnya warna hitam.
Megah.
Itu satu kata yang sangat pas untuk pemandangan yang dapat dilihat dari atas menggunakan drone.
Mengapa?
Karena bangunan ini tersembunyi. Lebih tepatnya-disembunyikan.
Bangunan hitam legam yang hektarnya tak terhingga itu masih bisa ditutupi oleh pohon-pohon cemara yang mengukungnya.
Ribuan pohon cemara.
Itu membuat tampak sekeliling seperti hanya melihat hutan suram yang sunyi. Apalagi daerah ini bukan daerah sembarang kunjung. Itu membuat warga sekitar tidak akan berfikir untuk mampir ke hutan yang tidak berpenghuni ini.
Namun, mengapa kehadiran bangunan ini sangat disembunyikan? Apakah ada sesuatu yang sangat privasi di dalamnya? Atau hanya sebuah keinginan memiliki rumah megah yang jauh dari pandangan?
Se-kaya apa manusia yang tinggal di dalamnya? Itu yang harus dipertanyakan bukan?
———
Pukul 07.00 pagi
Seorang anak berusaha untuk fokus. Berkali-kali ia menahan rasa lelah yang ingin merenggut kekuatan di kakinya.
"Rik. Yang benar! Kau mau tertinggal, huh?!" Teriak tajam seorang anak lagi yang sudah berada jauh di depannya. Berlari bersama puluhan orang lainnya yang bekerja untuk Ayahnya.
"B-entar kak...hhh" Riki menahan sesak yang berasal dari dadanya. Berusaha tetap melangkahkan kakinya mengimbangi mereka semua. Ia menepis segala rasa yang mendorongnya untuk menyerah dan istirahat.
Namun, saat kakinya berlari memelan-sebuah tangan menariknya kencang hingga ia tersentak. Kakinya terseret untuk memaksa berlari mengimbangi yang lain.
"Cepat! Ayah lihat-habis kamu!" Teriak anak berselisih dua tahun lebih tua darinya. Anak tersebut menatap tajam Riki, lantas menariknya paksa berlari bersama.
Anak yang masih berusia enam tahun itu terpaksa berlari sambil menahan rasa mual yang ingin memberontak dari perutnya.
———
Pukul 09.00 pagi
"Berdiri!"
Seorang anak yang diteriaki lantas menahan gemetarnya. Bersegera untuk berdiri. Menahan bobotnya yang tadi sudah siap pingsan. Tangannya kembali menggenggam sarung tinjunya.