Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hi! I hope U enjoyed this story.
【 13. 45 】
Detik demi detik berlalu. Ruangan rapat luas itu di penuhi ketegangan.
Sebulan.
Dalam sebulan tiga unit dikerahkan. Tapi tak ada satu unit pun yang berhasil menyentuh kasus pengeboman yang sempat mengguncang seluruh masyarakat.
"Bagaimana lagi? Kita harus mengalah untuk menyerahkan kasus berharga ini ke tim keamanan resmi," ucap sang kepala detektif menatap kesal le seluruh unit yang sedang hadir di rapat ini.
Setengah jam kemudian rapat dibubarkan. Para polisi keluar menunduk sedikit lesu karena omelan sang atasan.
Lantas beberapa suara langkah kaki terdengar. Seluruh orang yang ada di kantor kepolisian melirik siapa yang datang. Lantas segera berdiri dan memberi hormat.
Sang kepala detektif melangkah cepat.
"Kasusnya sudah selesai?" Ucap pria yang diikuti beberapa anak buah. Bersetelan Jas rapi.
Sang kepala detektif menunduk muram. "Maaf"
"Kalau begitu kalian selesai. Tim divisi keamanan negara yang akan mengambil alih," ucap nya berdecih meremehkan.
Lantas pria tersebut pergi dari kantor kepolisian. Meninggalkan kantor kepolisian dengan hawa mencekam.
—————
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Suasana kafe tampak tenang. Beberapa langkah pegawai saling bertemu sapa. Berpamitan untuk pulang. Sore yang cukup lelah bagi mereka semua. Tapi untungnya tak ada kerusuhan apapun. Jadi mereka bisa pulang dalam keadaan damai.
Vano bergerak ke samping. Mengelap meja kasir sekali lagi. Membuat meja tersebut bersih dari debu tak tersisa.
"Lagian nih, ya. Emang si Eric nggak dapet penanganan intensif gitu," Nathan memulai percakapan.
Nathan loncat dan duduk di salah satu meja bar. Menunggu santai Vano yang masih mendapatkan tugas cleaning.
"Setahu gue dapet, ah. Punya dokter pribadi dia," sahut Vano membersihkan kembali beberapa gelas.