XV

706 83 21
                                        

Hi!I hope u enjoyed this story!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hi!
I hope u enjoyed this story!

Langkah kaki yang berpijak di atas lantai putih terdengar cukup nyaring. Membuat siapapun tahu, bahwa orang tersebut melangkah terburu-buru.

Tring!

Halen melirik ponselnya yang berbunyi. Meraihnya. Melihat siapa yang menelepon.

Ray is calling.

"....."

"Iya Ray. Abang udah di rumah sakit," ucapnya pada telepon. Matanya terus mencari ruang inap bertuliskan '71'.

"....."

"Iya gapapa. Lanjutin aja. Udah ada abang disini"

Halen lantas mematikan sambungan tersebut. Menaruh kembali ponselnya ke dalam saku jaket.  Matanya menatap ruangan yang ada di hadapannya.

"Saudara Eric telah siuman."

Halen menghela nafas sebelum tangannya membuka ruangan putih yang ada di hadapannya. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan. Tangannya bergerak menutup pintu ruangan tersebut kembali dengan hati-hati.

Halen melangkahkan kakinya. "Ric?" Panggilnya pada pemuda tersebut. Ingin memastikan bahwa adiknya benar-benar sudah siuman.

Pemuda yang ada di atas brankar berwarna biru itu menolehkan wajahnya ke arah seseorang yang memanggil namanya.

Halen mendekat kearah Eric yang sedang berbicara dengan seorang perawat.

".... baik sudah selesai. Makan siangnya jangan lupa dihabiskan ya, tuan Eric" ucap perawat tersebut tersenyum, lantas pergi beranjak dari sana. Halen membungkuk hormat. Begitupun dengan sang perawat. Tatapan mata Eric masih mengikuti sang perawat hingga menghilang di balik pintu.

"Gimana? Udah baikan?" Halen berucap. Ia mengambil kursi Lantas duduk di samping sang adik. Tangannya bergerak membantu Eric untuk duduk.

Eric mengangguk. Ia memegang tangan Halen. Guna menopang tubuhnya yang berusaha untuk mengambil posisi duduk.

Halen menghela nafasnya berat.

"Bang—"

"Nanti aja. Sekarang kamu makan dulu."

Eric terdiam. Ada sedikit perasaan sedih dan bersalah pada hatinya. Matanya memperhatikan Halen yang membantunya menyiapkan meja di atas brankar.

Halen Lantas menatap Pemuda di depannya yang kini menundukkan kepala. Memperhatikan wajah putih mulus milik adiknya yang kini dipenuhi oleh lebam keunguan. Walaupun sudah diobati, tetap saja wajah adiknya itu kini sangat buruk.

"Nih. Ayo makan dulu" ucapnya pada sang adik.

Eric mengangguk. Lantas Tangannya bergegas mengambil sendok. Ia menatap makanan yang ada di hadapannya. Bubur putih dan sayur yang sangat bening. Ini serius gue makan beginian? Baginya mendesah.

LostTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang