Astra comeback guyss✋
•
•
•
Di rumah mewah, meja makan panjang penuh ukiran kayu jati sudah dipenuhi aroma masakan yang menggoda. Di atas meja, nasi goreng dengan taburan bawang goreng dan piring besar berisi udang balado merah menggugah selera menjadi pusat perhatian.
Keluarga Elnandra mulai berkumpul di meja makan, berbeda dengan Astra dan Anggita yang memang sudah berada di sana menunggu semua nya berkumpul.
"Pagi semua nya, pagi ini kita sarapan sama nasi goreng dan udang balado. Spesial! ini makanan kesukaan Astra,"ucap Anggita antusias. Mereka tersenyum simpul menanggapi Anggita.
Sang kepala keluarga memerintahkan untuk memulai sarapan. Berbeda dengan dua pemuda tampan nan menawan ini, melihat menu yang tersaji pagi ini membuat mood anak-anaknya hancur terutama Arta dan Raka.
Tak
Arta membanting sendok, ada rasa kecewa ,marah yang tak bisa terucapkan.
"Aku sarapan di kantin!"Arta pergi meninggalkan ruang makan yang hening.
Kenapa? Arta seperti nya marah. Itulah yang ada dipikiran Astra.
"Arta Sarapan di rumah aja!"teriak Anggita namun, Arta tetap melanjutkan langkahnya.
"Mama jahat! Gak sayang lagi sama kita . Semua ini gara-gara Lo!"maki Raka yang tak lupa menunjuk wajah Astra. Raka melangkahkan kakinya keluar rumah.
"Ini kenapa sih? Mama salah apa ?"ucap Anggi resah, Arta dan Raka pergi ke sekolah tanpa sarapan di rumah.
"Mama lupa? Mereka alergi udang, aku gak sarapan!"sahut Attar yang ikut kecewa dengan sang mama yang lalai. Padahal itu sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh Arta maupun Raka.
Anggita menundukkan kepalanya, bodoh! Bagaimana dia lupa sama alergi anak-anaknya, Astra hanya termenung membisu. Melihat sang mama sangat sedih dan kecewa pada dirinya sendiri.
"Buang semua udang ini Bi! Jangan ada satupun udang di rumah ini!"perintah mutlak dari Anggita. Astra menatap tak percaya dengan apa yang dikatakan sang mama.
"Udahlah sayang, nanti kamu minta maaf aja. Jangan sampai dibuang gitu,"nasehat Arsen. Sejujurnya hatinya sedikit sedih melihat ekspresi wajah Astra yang tampak kecewa. Pasti Astra sangat ingin makan balado udang itu.
"Papa gak akan ngerti! Mereka pasti kecewa sama aku. Ibu macam apa aku ini, buang semua nya!"
"Jangan berlebihan Anggita!"
"Aku harus buat bekal buat mereka, iya! Aku harus buat. Aku akan antar bekalnya buat mereka,"ucap Anggita yang masih tak memperhatikan sekitar nya. Sekhawatir ini kah Anggita saat anak-anaknya marah karena kelalaiannya. Takut sekali jika mereka kecewa. Iya, jawabannya iya!.
"Buang semua nya udang nya!"pekerja di rumah itu mengikuti perintah dari sang majikan.
"Ma, jangan dibuang,"lirihAstra yang masih menatap nanar piring berisi balado udang itu. Terlambat, semua itu sudah dibawa mungkin langsung dibuang. Anggita pun pergi meninggalkan ruang makan, dia akan membuatkan bekal untuk anak-anak tersayangnya itu.
"Ayah... Asa gak jadi makan balado udangnya"batin Astra memanggil sang ayah. menggigit bawah bibirnya, sesak sekali rasanya. Padahal balado udang kesukaan nya sudah di depan mata.
"Sudahlah, pagi ini kita sarapan sama nasi gorengnya saja. Jangan dihiraukan keributan hari ini!"ucap Arsen mencairkan suasana yang suram ini.
"Maaf,"cicit Astra.
"Bukan salah kamu!"
"Kalo Astra gak minta masakin makanan kesukaan Astra pasti pagi ini gak akan kacau kayak gini,"tutur Astra.
"Apa Tuan Arsen masih ragu jika saya ini anak kandung Tuan?"tanya Astra pelan, sikap mereka terlihat menolak Astra. Bahkan Anggita yang tadi pagi sangat antusias tiba-tiba tidak perduli dengan nya.
"Bukan salah kamu! Jangan bicara sembarangan! Papa mau ke kantor, buru-buru. Kamu sarapan sendiri aja ya."
Di ruang makan hanya tersisa Astra sendiri, mereka meninggalkan Astra. Emang bener sederhana tapi bahagia lebih baik dari pada mewah tapi kecewa,Kata-kata hari ini.
Astra kembali ke kamarnya tanpa sarapan, nafsu makannya hilang begitu saja.
Merebahkan tubuhnya di kasur, menatap jengah langit-langit kamarnya.
"Harusnya makan balado udang! Kenapa sih, kalo gak bisa makan udang ya makan nasi goreng nya aja. Ribet banget deh,"gerutu Astra kesal.
Hampir satu Minggu Astra tinggal di rumah mewah ini, kini Astra sedang menyusuri setiap sudut rumah ini. Sangat megah, indah sungguh perfect sekali. Tapi tidak dengan penghuni nya, sangat tidak ramah. Bahkan sikap mereka tidak berubah, masih bersikap sinis terhadap Astra. Tentu saudara nya, kalo mama sama papa baik meskipun terlihat masih setengah hati menerima Astra.
"Gimana mereka bisa hidup senyaman dan semewah ini setelah jual gue gitu aja, gak ada karma kah?"
"Mereka hidup bahagia, sedangkan gue harus berjuang cuma untuk bertahan hidup."
"Gue kan darah daging mereka, tapi mereka bahkan engga peduli sama yang terjadi sama gue. Mereka bahkan gak mau dengerin cerita gue di desa, detail nya deh. Masa iya mereka gak penasaran sama kehidupan anaknya. Apa emang gue bukan anak mereka ya."
"Capek banget overthinking setiap hari."
Astra melanjutkan langkahnya namun, terhenti saat mendengar beberapa sedang mengobrol di salah satu kamar. Kamar Attar? Sepertinya iya. Kamar mereka memang di lantai atas semua hanya kamar Astra yang di lantai bawah, entahlah Astra juga bingung tapi yang terpenting bagi Astra adalah tidur dengan nyaman. Astra siap memasang telinga nya.
"Hasil nya sudah keluar."
"Bagaimana hasilnya?"
"Iya, dia Astra anak papa sama mama. Tes DNA itu menunjukkan bahwa Astra anak kandung dari Arsen Putra Elnandra dan Anggita Putri Elnandra."
"Jadi dia anak papa, anak kandung papa."ucap Arsen, Attar menyampaikan hasil tes DNA yang di minta Arsen. Mudah bagi Attar karena, dia seorang dokter. Jadi, itu memang pekerjaan nya.
"Astaga, kenapa harus kembali sih. Keluarga ini sudah lengkap dan bahagia tanpa dia,"keluh Arsen.
Deg
Astra yang mendengar pernyataan itu kecewa, ternyata sikap mereka yang ragu karena belum percaya jika Astra adalah anak kandung dari keluarga Mereka tidak mengharapkan dia kembali. Anggita juga menganggukkan kepalanya tanpa setuju ucapan Arsen, artinya tidak ada yang menerima nya di rumah ini.
"Kepotek hati kecil gue, mereka ragu. Gue juga sih, tapi itu karena sikap mereka, ternyata mereka gak bisa percaya hanya dengan melihat wajah gue yang mirip anaknya. Dan gak mengharapkan gue."
"Tapi, sekarang gue gak ragu, karena gue jelas bagian dari keluarga ini."
"Gak pernah sekecewa ini, ayah.. Asa gak sekuat itu." Astra melangkahkan kakinya menuju lantai bawah, kamarnya itulah tujuan Astra saat ini. Air mata Astra meluruh seketika saat dia sampai di dalam kamarnya.
"Apa mereka malu punya anak kayak Asa? apa Asa gak pantes ada di sini? Asa harus gimana, Asa tau kalo kalian sudah bahagia tanpa Asa, tapi Asa juga pengen bahagia bareng kalian, Keluarga Asa. Ayah... Asa mau sama ayah aja,"ucap Astra yang semakin terisak. Sesak sekali rasanya. Mereka bukan ragu tapi memang tidak mengharapkan Astra kembali di keluarga ini.
"Gue masih belum terima, mereka jual gue. Tapi sekarang, ternyata mereka juga enggak mengharapkan gue."
Haloo, apa kabar? Baik? Harus!. Astra comeback ✋.
Sehat-sehat kalian!
Bye bye..
KAMU SEDANG MEMBACA
ASTRA
Teen Fiction"Untuk hari ini Lo puasa aja, sama kakak Lo juga. Gue gak dapet uang hari ini." ✩✩✩ "Mau gue bicara apapun tentang Astra dia tetep bukan anak kandung gue." ✩✩✩ "Kamu itu dijual sama orang tua kandung kamu!" _
